SMART Goals dan Sumber Daya Pendukung
Well, setelah 3 pertemuan lamanya (9 pekan, wow 2 bulan lebih) sibuk ngubek-ngubek masalah, menjadi lebih akrab dan dekat, memiliki pemahaman yang lebih komprehensif dan menyeluruh, now it's time for us to move forward!
Saatnya kita bermimpi ke depan, perubahan apa yang ingin kita lakukan, solusi apa yang bisa kita tawarkan, mimpi apa yang ingin kita gapai 🥰
So excited, yet so lost 😂 Semakin mendengar materi dari ibu di setiap detiknya, semakin pula aku hanya bisa termenung-menung. Untukku pribadi, bermimpi secara orisinil (lah apa ini) saja sudah cukup sulit, karena biasanya entah terlalu ngawang ndak jelas, atau malah ngeblank aja gitu. Dan bener banget apa yang ibu bilang, kalau terlalu mudah kita jadi malas, kalau terlalu sulit juga malas. Nah kan, nambah deh PR nya, bermimpi aja ndak cukup tapi mimpinya harus cukup rasional. Dan bener lagi poin berikutnya, ada batasan waktu, ada indikator pencapaian, ada ruang lingkup,,,, aaaaaakkk tidaaaakkk terlalu banyak PRnyaaa 🙈🙈🙈 Alhasil, hampir sepekan berlalu dan belum ada ide yahud yang muncul (udah mah di saat yang sama lagi dikejar-kejar deadline wanoja yang meresahkan, heu).
Setelah risau mencoba beride lalu menurunkannya secara abstrak dalam pikiran sebelum disampaikan ke brainstorm tim, akhirnya aku coba pendekatan baru dengannn 'go for it' 😂 Yaudahlah ajukan dulu idenya, nanti didetailkan bersama-sama . Yok bisa yok udah H-7 dedlen jurnal 🙈
Mengumpulkan teman tim dalam tatap muka virtual pun sulit sekali, jadi aku usul pada leader untuk berdiskusi di WAG dulu saja. Kucoba tawarkan opsi apakah kita tentukan waktu bertemu di WAG atau setiap hari kudrop topik lalu siapapun jam berapapun bisa drop pendapat, komentar, dsb, utk di akhir hari ditarik kesimpulan atas topik tersebut. Hampir semuanya (kecuali 2 orang yang tidak bersuara) menyetujui kedua opsi, jadi aku izin lagi pada leader untuk ambil opsi yang kedua -- berhubung jam onlineku ndak menentu dan kebanyakannya burhan 🙈🙈 kenapa aku yang mimpin diskusi ya? 😂😂 entahlah, ndak ada mandat resmi haha yasudah anggap saja bantu buketu hihi 🤗🤗 supaya ndak terkesan beliau yang ajak diskusi tp beliau juga yang berpendapat kali yaa, jd beliau bisa lebih bebas mengutarakan pendapat dan pandangan hihi. Eh lain protes ieu mah, takut melangkahi weh 🙈
Untuk mengawal, aku minta semuanya tulis harapan saat memutuskan bergabung dgn tim ini, juga harapan akan pergerakan tim ke depannya. Heniinggg lamaaaaaa sekali 🙈 kucoba pancing, alhamdulillah ada 1 suara selain suara bu leader. Harapannya hampir serupa, dengan diksi yang berbeda. Aku coba rangkum jadi 2 buah tujuan yang cukup luas cakupannya namun tetap tajam.
1. RCI menjadi sarana bagi tim untuk memiliki pengetahuan dan meningkatkan kualitas kesehatan mental, terutama terkait manajemen emosi
2. RCI dapat merangkul dan membantu perempuan yang memiliki masalah kesehatan mental, terutama terkait manajemen emosi
Setelahnya kucoba gulirkan diskusi dengan memecah teknik SMART ke dalam beberapa pertanyaan, sehingga suara/pendapat/pandangan yang masuk dari tim sudah bisa langsung terarah.
Apa yang ingin dicapai? (Tujuan yang telah dirumuskan)
Mengapa ini penting untuk dicapai?
Siapa saja yang terlibat supaya hal ini tercapai?
Dimana tempat mencapai hal ini?
Kapan hal ini ingin dicapai?
Apakah hal ini mungkin dicapai dalam kondisi kita yang sekarang?
Bagaimana cara kita mencapai hal ini?
Bagaimana kita mengetahui hal ini sudah bisa dikatakan tercapai?
Apa saja indikator perkembangan kita menuju tercapainya hal ini?
Jawaban-jawaban tersebut lalu diturunkan menjadi milestone atau langkah-langkah kecil yang riil. Setiap milestone kemudian ditelaah kembali apa saja sumber daya pendukung yang diperlukan supaya milestone tersebut dapat terlaksana.
Setelah tiba di titik ini, baru kusadari nampaknya poin milestone ini masih bisa lebih dirinci lagi, terutama untuk Tujuan#2. Juga diperlukan timeline yang lebih ajeg di setiap milestonenya. Akan tetapi diperlukan pematangan dan penyepakatan konsep sebagaimana yang ditulis pada milestone#1 terlebih dahulu, supaya lebih pasti pendetailan langkahnya. Tapi sampai disini pun sudah jauuuh lebih clear dibanding pekan lalu yang super duper blunder dalam pikiran, hehe.
Selain itu, kami juga mencoba mendiskusikan golden rules serta exit procedure dalam keberjalanan tim kami ke depannya. Golden rules berfungsi menjadi pagar bagi interaksi kami supaya tetap nyaman dan produktif, sementara Exit procedure menjadi alur kesepakatan untuk meninggalkan tim saat ada hal yang bertentangan/sudah tidak lagi sejalan. (belum sempat masuk ke template 🙈)
☘️ Meeting online minimal 1x seminggu, dengan jadwal rutin yg sudah disepakati
☘️ Untuk daerah bandung minimal 1x/bulan meet up offline (tentunya tetap jaga prokes) 😊
☘️ Musyawarah, mufakat, dan tanggung jawab (diam berarti setuju dan turut bertanggung jawab)
☘️ Memberi kabar sesegera mungkin saat memiliki hambatan/tantangan
🍂 Menyatakan izin di grup besar dengan menyertakan alasan yang jelas, dan sebisa mungkin mencari pengganti untuk mengisi peran yang ditinggalkan.
🍂 Tidak ada kabar, baik secara personal kepada leader maupun komunikasi di grup, selama lebih dari 1 bulan dianggap mengundurkan diri dan wajib melaksanakan poin di atas.
Overall aku senang sekali sudah berhasil sampai di tahapan ini. Si anak planga-plongo ini sudah lebih punya pijakan untuk melangkah 🥰 Hanya saja aku sungguh menyayangkan koordinasi tim yang berjalan kurang sinergi -- selain poin pertama, diskusi di atas hanya merangkum suaraku dan suara ibu leader 🥺🥺 how sad, makanya aku jd mengusulkan rules 'diam berarti setuju' biar ndak pada lepas tangan nantinya krn ndak pada bersuara di awal 🥺🥺
Ah entahlah, bu leader sih auranya selalu positif dan optimis hehe, tapi aku udah semi hopeless. Menggeret-geret orang kayak gini tu sangat lelah, ndak jelas enggan atau bersedia. Ada tapi tiada. Di beberapa tempat memang terpaksa seperti ini, tapi tadinya aku kira disini ndak akan seperti ini..... Yah, semoga getting better ke depannya. Jangan menyerah dulu ya, Rifa 😊 peluk hangaaattt