Alhamdulillah, aku bisa melanjutkan ke tahap ‘kepompong’. Di tahap ini, saatnya kami diminta untuk ‘berpuasa’, dalam rangka berproses menjadi lebih baik. Diharapkan proses ini bisa mentransformasi kami menjadi kupu-kupu yang cantik.
Aku memilih 1 topik prioritas pertama dalam mind mapku: manajemen waktu. Jadi, aku memutuskan untuk berpuasa dari hal yang menurutku paling berpotensi mengganggu manajemen waktuku; social media. Harus kuakui, aku masih belum bisa mengatur waktuku dengan baik saat menggunakan media sosial. Seringkali, media sosial menjadi distraksi agenda penting lain yang sudah dijadwalkan. Maka, aku memutuskan untuk menyelesaikan 1 hal ini terlebih dahulu.
Alhamdulillah, aku amat terbantu dengan kondisiku yang sedang hamil dan menunggu persalinan. Ini pekan terakhirku menanti gelombang cinta, sebab hasil pemeriksaan terakhirku menunjukkan plasenta yang sudah mulai menua. Akhirnya dokter menyarankan untuk menunggu hanya sampai pekan ini.
Seperti ibu-ibu hamil trimester akhir lainnya, nesting instinc mulai muncul dan semakin menguat padaku. Sejak beberapa pekan terakhir, entah mengapa aku merasakan dorongan yang amat kuat untuk ‘beberes’. Ada saja hal yang bisa kutemukan dan membuatku sibuk setiap hari. Sebelumnya, aku memang sudah membuat daftar hal yang harus kulakukan untuk menyiapkan rumah. Tapi rupanya, meski daftar itu telah kuselesaikan, aku tetap menemukan hal lain yang membuat beberes rumah seolah tak ada habisnya. Efek sampingnya, suamiku rupanya senang. Dia sampai berkomentar, “Sekarang aku paham makna ‘surganya istri itu di rumah’. Rumah jadi terasa surga kalau ada istri.”
Bukan berarti selama ini aku jarang di rumah. Tugasku di ranah publik hanya 4-5 jam, 4-5x/pekan. Tapi aku memang belum pernah segiat ini saat di rumah. Jadi ternyata aku berhasil bahagia dan membahagiakan suamiku dengan aktivitas beberesku.
Hal lain yang juga terasa amat membantu adalah adanya himbauan untuk menjaga jarak sosial. Suamiku jadi lebih sering di rumah, hanya pergi untuk hal yang benar-benar penting dalam durasi yang lebih singkat. Kami jadi punya quality time yang berkali lipat lebih banyak dari biasanya. Akhirnya aku merasakan jalan pagi ditemani suami (biasanya aku jalan pagi sendiri karena suami harus bersiap ke kantor pagi-pagi), sholat berjama’ah hampir 5 waktu dalam sehari, bercengkrama lebih banyak dengan putri kami tercinta, dan akhirnya aku bisa merasakan sore hari yang indah seperti kenangan manisku saat kecil dulu. Di hari biasa, sulit bagi kami berkumpul di sore hari. Alhamdulillah, selalu ada hikmah yang bisa diambil dari sebuah ujian.
Hal-hal itulah yang membuatku lebih mudah berpuasa. Aku benar-benar menikmati waktu bersama keluarga, hanya membuka ponsel saat perlu. Aku menahan kuat-kuat keinginanku untuk membuka media sosial, dan hanya membuka yang penting saja.
Alhamdulillah, di tengah masa puasa, Allah mudahkan aku untuk bersalin. Aku benar-benar merasakan dekatnya pertolongan Allah meski dengan cara yang tak pernah kusangka sebelumnya. Qadarullah, sampai batas hari yang ditentukan, gelombang cintaku belum datang. Akhirnya dokter menyarankan untuk memacu proses persalinanku. Kami setuju, meski sebenarnya dalam hati aku agak cemas. Cerita-cerita tentang induksi sebagian besar berisi hal-hal tidak menyenangkan; sakit, lama, bahkan gagal. Tapi aku percaya, Allah tak akan meninggalkanku, tak akan memberi beban melebihi kapasitasku. Aku sudah mengikhtiarkan segala yang kubisa, berdo’a dalam banyak kesempatan sesering yang kubisa. Saatnya berserah. Aku ingat, kakak kelasku pernah bercerita, bahwa tugas kita hanya berikhtiar. Pertolongan Allah pasti datang, meski di tempat yang tak pernah kita sangka. Beliau mengambil hikmah dari perjuangan Siti Hajar berlari dari Shofa ke Marwa, tapi pertolongan Allah tidak datang di sana. Air zamzam justru mengalir di bawah kaki Ismail. Jadi, tugas kita memang hanya berikhtiar. Karena itulah aku merasa lebih tenang. Aku percaya pertolongan Allah akan datang, dan benar saja. Aku berikhtiar agar gelombang cintaku datang, tapi pertolongan Allah hadir lewat proses induksi yang sebentar. Sesuatu yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Ah, Allah memang mencintai kita lebih dari yang kita perlu :”)
Apa yang kurasakan selama masa puasa kemarin?
Aku merasa lebih banyak mengambil hikmah. Dengan membatasi aktivitas bermedia sosial, aku jadi bisa fokus dengan hal-hal yang lebih esensial. Aku juga jadi punya waktu untuk berpikir, mengambil jeda dari derasnya arus kehidupan. Aku merasakan nikmatnya menjalani setiap detik dengan lebih tenang, tanpa keriuhan dunia. Ah, pantas saja orang tua zaman dahulu terlihat lebih tenang dan menikmati hidup. Mereka tidak terganggu dengan arus informasi dari tempat yang jauh, hanya menjalani kehidupan yang ada di hadapan mereka.
Alhamdulillah, aku cukup puas dengan proses puasaku. Aku tak ragu menyematkan badge excellent, sebab aku merasa berhasil menahan diriku, juga berhasil mengatur waktuku dengan lebih baik.
Semoga Allah kuatkan aku untuk menjadi lebih baik setiap harinya, aamiin..