setelah hari itu, ku tutup setiap pintu dengan rapat.. ku hapus semua jalan masuk yang ada, tidak membiarkan siapapun masuk, kecuali memang ku izinkan, tapi pula tidak pernah ada yang benar-benar berhasil masuk, hanya sekedar menyapa manis lewat jendela, sesekali merasa senang dan membuatku ingin membukakan pintu, tapi angin lebih sering menghempas celahnya hingga menutupnya kembali, tapi aku juga tidak kesal, karena mungkin aku juga tidak benar-benar ingin membuka pintu.
setelah hari itu, ada banyak hal yang tidak mudah ku percaya, walaupun hujan sesekali hadir untuk menyejukkan, tapi tidak sekali juga ia membuatku meriang, walaupun karena kondisi tubuhku yang lemah, tapi mengapa pula aku harus mempercayainya sebagai hal yang menenangkan? aku memang tidak selalu mengambil keputusan yang tepat, tapi tidak lebih jarang juga mengira hal buruk yang benar.
setelah hari itu, teh hangat itu tidak pernah punya teman lagi, ia menjadi dingin sendirian, hanya menunggu pemiliknya selesai membaca buku favoritnya, kadang-kadang juga berubah menjadi es kopi susu, tapi walau berubah tetap saja hanya ada ia sendiri dirak cuci piring itu, menonton dari jauh cangkir-cangkir lainnya yang sedari hari itu tidur menganggur.
setelah hari itu, bunga tidak lagi mekar. aku sudah tidak memelihara bunga, semuanya telah layu dan ku kubur jauh dikebun belakang. aku tidak mau sia-sia untuk yang kedua, ketiga, atau keempat kali. merawat yang tidak ingin dirawat membuatku merasa begitu egois, aku tidak ingin berjuang sendiri lagi. lebih tidak ingin menjaga sendirian karena aku tidak pernah tau bagaimana caranya menjadi berani lagi. aku sudah kehabisan banyak hal, takut akan semakin merugi.
tapi tidak perlu dikasihani, walau begitu menyedihkan setidaknya hingga hari ini aku berhasil menjaga diriku dengan lebih baik, walau lebih terasa banyak sepinya, tapi aku cukup puas. coba kau tebak, kapan aku akan benar-benar berusaha percaya lagi? kau berharap lebih cepat, bukan? aku juga! semoga memang iya.