Masih ingat dengan jelas,kala itu 30 agustus 2016 dini hari sekira pukul 02.00 wib. Istriku membangunkanku,merintih perutnya kesakitan,awalnya kukira hanya nyeri datang bulan seperti biasa,karena sejak tgl.27 ia sudah bilang kalau ia mulai flek menstruasi,tapi lama kelamaan kurasa ada yang tak biasa. Kucoba kompres dengan air hangat,tak mempan,kucoba pijit tak juga berefek,sampai akhirnya pukul 04.30 aku minta dia menenggak pereda nyeri,ajaib,itu pun tak ada guna. Ya,aku yakin saat itu ini benar-benar tak normal,ia sampai tak sanggup bangun bila sedang sakit,memang kadang sakit kadang tidak,jika sedang sakit ia tak sanggup duduk,jangan tanya untuk berjalan. Pukul 05.00 kuminta dia menenggak 2 pereda nyeri lagi,agak mereda katanya,langsung kubawa dengan motor (terlalu lama jika menunggu ambulance atau pesan taksi menurutku saat itu) menuju salah satu RS di daerah babarsari,jalan masih sepi,15 menit sampai lah di RS,tapi ternyata tak berefek pereda nyeri tadi,istriku sudah tak sanggup berjalan,langsung kupapah menuju IGD,kuurus pendaftaran pasien sementara ia berbaring masih kesakitan hebat di sana. Dokter jaga mulai menggali informasi,poinnya jelas, sakit ini tak biasa,tak pernah sesakit ini sebelumnya,letak nyeri juga berbeda,biasanya di punggung dekat tulang ekor ketika akan menstruasi kali ini tepat di perut bawah. Dokter kemudian menanyakan apakah menstruasi terlambat,ya,memang,istriku riwayat menstruasinya memang tak teratur,tapi kali ini memang sudah terlambat 3 bulan,dan sejak dua bulan sebelumnya kami sudah tes dan USG dengan hasil selalu NEGATIF. Dokter langsung mendiagnosa awal bisa saja ini keguguran atau KET (Kehamilan diluar rahim),deg... how? why? sejenak aku terdiam,blank.
Baiklah,sejenak kita flashback, mei awal,istriku terakhir menstruasi,juni pertengahan sudah terhitung terlambat haid (aku lupa tanggal tepatnya) kami pun melakukan tes kehamilan mandiri menggunakan testpack,tes pertama negatif,seminggu kemudian kami tes lagi,hasilnya negatif lagi,seminggu lagi negatif lagi,bulan sudah berganti ke juli,kami tes lagi negatif lagi,berbagai merk sudah kami coba,merasa kurang yakin sekira tgl. 8 juli kami melakukan USG di RS yang sama seperti diawal cerita,hasilnya pun negatif,hanya terlihat penebalan dinding rahim,mungkin sebentar lagi menstruasi pikir kami,seminggu setelah USG istriku masih belum juga haid,kami pun tes mandiri kembali,hasil negatif masih muncul,saat itu kami meyakini “mungkin memang belum,sabar saja dulu”. Selang beberapa hari istriku diterima di salah satu perusahaan penyedia layanan internet dan tv kabel,dan mengharuskan ia mengikuti training selama sebulan di bogor terhitung sejak 28 juli,setelah itu kami tak melakukan tes lagi. Satu bulan berlalu,tgl. 27 istriku kembali ke jogja dan langsung flek (saat itu masih dikira menstruasi).
Setelah mendengar dua kemungkinan terburuk itu,kami menunggu dokter yang menangani istriku sejak awal kontrol di RS ini untuk dilakukan USG agar diketahui bagaimana kondisi sebenarnya. Benar saja,pukul 08.00 USG dilakukan,USG Transvaginal dilakukan,terlihat bahwa janin ada di dalam rahim,tapi memang sudah tiada,kecewa dan lega,kecewa karena bisa sampai lalai,lega karena bukan KET yang mana istriku tak perlu operasi sesar. Dokter menanyakan kapan terakhir makan dan minum,pukul 19.00 malam sebelumnya jawabku,seketika dokter menyarankan segera dilakukan tindakan kuret untuk mengambil janin.
Istriku dibawa kembali ke IGD untuk menunggu dokter selesai menangani operasi caesar,disodorkan padaku surat persetujuan tindakan operasi (kuret),masih setengah tak percaya,bimbang,tetapi akhirnya aku bisa berpikir jernih dan mantap menandatangani surat pernyataan. Setelah itu kudampingi istriku,kukuatkan ia,kuyakinkan itu bukan salahnya,ini sudah kehendak yang Maha memberi hidup,sabar,sabar dan sabar nasihatku padanya,tak tega sebenarnya kulihat tangisnya.
Waktu menunjukkan pukul 08.45,istriku dipindahkan ke kamar bersalin,kutemani sejenak,infus telah terpasang sejak di IGD,selang oksigen dipasangkan di hidungnya,tak lama kemudian dokter anestesi menemui kami,ia menjelaskan padaku apa yang akan dilakukan,istriku akan dibius total dan kemudian akan dilakukan tindakan,aku diminta menunggu di luar,sebelum keluar kubisikkan di telinga istriku “tak usah takut,yang sabar”,aku pun keluar sambil masih merasa tak percaya,kuhubungi mertua dan orang tuaku untuk mengabarkan kondisi istriku,jelas saja mereka sangat terkejut. Tepat jam 09.00 tindakan dilakukan,dan selesai pukul 09.15. Pukul 09.30 aku baru diijinkan masuk,istriku masih dalam pengaruh anestesi, kutunggu sampai ia benar-benar membuka matanya. Tak lama kemudian ia terbangun,kuberitahu dia,jagoan yang baru saja diambil kini berada di kendi di meja sampingnya. Entah,entah... aku tak bisa banyak berkata untuk menyemangati istriku karena aku pun tak tahu.
Bagi pembaca semua,tetap dampingi istri anda dalam keadaan apapun,selalu ingat rencana Allah lah yang terbaik,ikhlas adalah cara terbaik dan perbaiki kesalahan agar tak terulang kesalahan yang sama.