Apa kabar?
Kemarin, akhirnya kita bersua. Setelah sekian lama terpisah oleh jarak , meski tak mencapai ratusan atau ribuan kilometer.
Ah, tapi senang rasanya. Bisa menatapmu kembali. Kau masih dengan senyum hangat yang sama. Dan dengan gaya rambut yang sama pula.
Di ruang jingga penuh buku itu, aku hanya diam membeku. Sedang, kau asyik bercengkrama dengan guru kita dimasa lalu. Sesekali aku melirikmu. Tak ada yang berubah, kau masih sebaik dulu. Kadangkala aku ingat, pertemuan terakhir sebelum masa abu-abu itu berakhir. Entahlah, yang kuingat hanya seberkas pantulan dipapan pengumuman. Jaket merah dan bawahan abu-abu. Aku juga tak tahu, mengapa hari itu aku memutuskan memakai jaket merah yang bahkan tidak terlalu kusukai.
Kau dan aku berjalan beriringan, menyusuri halaman sekolah yang mulai lenggang, satu-persatu murid mulai memasuki kelasnya.
"Kau daftar di univ x?" tanyaku
"Yups. Kau bagaimana?"
Aku hanya mengangkat bahu.
Lalu kita berjalan beriringan. Sambil menceritakan kisah-kisah konyol yang pernah ada semasa 3 tahun berada diruang yang sama.
Disitu titik. Tangan kita menyatu. Bertabrakan. Aku hanya diam mematung. Sedang kau langsung meminta maaf. Itu salah satu hal yang begitu kusuka darimu, meski kau tak tahu. Selalu menjaga.
Ah,malah melamun tak jelas aku. Aku menepuk dahiku sendiri.
"Kantin, yuk?" kaya salah seorang teman. Semua mengiyakan.
Kantin putih ini masih sama seperti dulu.
"Ze, kamu, apa kabar?" kata yang kutunggu itu akhirnya kau lontarkan juga. Kau melihatku sejenak, sembari mengambil es batu, lalu memasukkannya dalam gelas.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." jawabku kemudian.
"Syukurlah. Kuliah baik kan?"
Aku mengiyakan, dan kau tampaknya sedikit lega.
Akupun sama. Lega melihatmu masih sama seperti dulu. Dan membuatku menguat dengan kata 'baik-baik' saja yang kuucap sebagai penjawab. Sungguh, ini lebih dari cukup.











