Merawat Kualitas Bacaan
Kita selalu mengkhawatirkan jumlah buku bacaan masyarakat Indonesia yang tergolong rendah. Atau deretan angka yang menunjukkan betapa tidak beruntungnya kita di tingkat literasi dunia, khususnya dalam segi membaca.
Ketika negara-negara yang memiliki peradaban maju mampu melahap puluhan buku per tahun, kita hanya mampu mengeja beberapa saja, itu pun kalau sempat habis dibaca.
Betul itu mengkhawatirkan, sangat. Data-data statistik yang berbau kuantitas selalu menghajar kita habis-habisan soal literasi membaca ini. Tetapi, ada satu hal yang juga perlu disinggung, yakni, soal kualitas setelah membaca.
Seorang pecandu buku yang hari-harinya dikelilingi bacaan, mungkin bisa berbangga hati ketika disanjung karena kegemarannya membaca. Atau penulis yang menghabiskan banyak bacaan untuk menulis sebuah karya. Patutlah mereka bersyukur, sebab sudah pasti tidak termasuk ke dalam orang-orang yang memiliki tingkat membaca buku yang rendah.
Alhamdulillah...
Tetapi, jurang pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana buku bacaannya mampu berdampak kepada dirinya, kepada jiwanya hingga paling nyata kepada lingkungan sekitarnya?.
Apakah buku-buku yang dibaca oleh pecandu buku, penulis, akademisi, bahkan politisi benar-benar menghasilkan kualitas? Atau sekadar citra dan kuantitas yang mengisi rak-rak buku, meja kerja, postingan di story Instagram, hingga labirin pikirannya sendiri.
Pertanyaan itu mengingatkan saya pada kisah KH. Ahmad Dahlan ketika ngaji bareng dengan pemuda-pemuda Kauman di surau kampung tersebut. Berkali-kali hingga bosan, para pemuda Kauman hanya disuguhkan surah Al-Maun oleh Pak Kyai.
Hingga pada suatu waktu dipertanyakan oleh muridnya. Jawabannya justru sebaliknya, Kyai Dahlan mempertanyakan apakah makna Al-Maun telah memberi "kualitas" pada diri dan jiwa muridnya selama ini?, sudah berapa banyak anak yatim dan fakir miskin yang sudah disantuni?.
Semua tak berkutik karena memang di benak murid-muridnya saat itu masih terperangkap pada kurungan kuantitas. Nyaris tidak ada yang menyadari bahwa kualitas dari bacaan itu sama pentingnya. Bagaimana dia mampu berdampak baik pada diri dan jiwa?. Bagaimana kemudian ngaji Al-Maun berdampak di lingkungannya?.
Mari kita sederhanakan, apa tujuan kita membaca?
Apakah tujuan kita untuk mengisi waktu luang, belajar, membuka cakrawala pemikiran, mencari referensi untuk penelitian, atau karena suka saja?.
Sejatinya tujuan-tujuan tersebut tidak penting, toh setiap orang punya tujuan masing-masing hingga akhirnya jatuh dan larut pada buku bacaan.
Pada akhirnya ada pada keluaran dari hasil kita membaca, membangun kualitas setelah membaca, kualitas yang tidak hanya memuaskan tujuan-tujuan awal, tetapi, juga pada kualitas yang mampu memberi dampak kepada jiwa dan lingkungan.
Seorang pecandu buku, mungkin bisa sesekali keluar dari bacaan sastra yang mengandung romance untuk sekadar menyata di sekitarnya. Alih-alih hanya terperangkap dalam imaji sendiri, ada kalanya dia perlu mencerminkan bacaannya pada dunia nyata.
Perlu benar-benar merasakan apa itu sakit hati dan belajar dari pengalaman tersebut sebagaimana yang dia baca dari tumpukan buku romance di rak-raknya.
Atau seorang penulis buku yang hari-harinya menghabiskan puluhan bacaan agar menemukan diksi dan ide untuk kemudian ditulis menjadi buku baru atau tulisan sederhana di artikel. Mungkin mereka juga perlu keluar sebentar dari hal itu.
Menyata di dunia sebagaimana susunan kata yang ditulisnya bahwa setiap argumen yang dia keluarkan tidak boleh hanya berhenti pada argumen itu sendiri. Kalau orang lain tak mampu tergugah dari argumen yang kita rangkai, yang kita koar-koarkan layaknya aktivis. Saatnya penulis turun tangan, mengerjakan sedikit demi sedikit yang kita bisa.
Merangkai semua hal yang kita tulis sampai benar-benar kalimat-kalimat yang ditata dalam satu buku mampu tertata juga dalam keadaan nyata di lapangan.
Barulah sampai titik itu buku bacaan yang kita lumat dapat benar-benar berkualitas. Alih-alih menghabiskan banyak bacaan hanya untuk berhenti di kepala dan bacaan itu sendiri. Sudahkah kita memberi kualitas pada buku bacaan yang telah kita tamatkan kemarin, sebulan, atau bertahun-tahun lalu?.
Selamat Hari Buku Nasional.
Bantaeng, 17 Mei 2026














