Apa Gunanya Sih “Overproud” Cuman Gara-Gara Rich Brian Ngomong Indonesia?
“Overproud” atau biasa disebut sebagai sikap bangga yang berlebihan terhadap sesuatu. Sejatinya bukan fenomena yang baru-baru ini terjadi.
Pasalnya, “proud” sendiri merupakan sikap alamiah yang dimiliki tiap manusia sejak zaman dahulu kala. Kita merasa bangga karena eksistensi diri diakui.
Kamu yang diakui pintar oleh orang sekampung karena keterima di perguruan tinggi ternama, sudah selayaknya bangga.
Kamu yang akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan idaman, pasti bangga karena merasa skill dan pengetahuanmu diakui oleh orang lain.
Bayangkan jika tidak ada yang memberi pengakuan kepada kita?. Dimana kita sekarang?. Masihkah penting hidup bagi kita?.
Jadi, simpulannya tiap manusia memang pada dasarnya butuh apa yang dinamakan sebagai pengakuan, dan respon dari hal itu kita menjadi bangga.
Bangga karena apa yang kita lakukan ternyata benar dan mampu bernilai di hadapan orang lain.
Namun, masalahnya bukan pada sikap bangga atau butuh pengakuan.
Masalahnya adalah sikap yang terlalu berlebihan atau “overproud”.
Dalam konteks pribadi ini jelas mengkhawatirkan. Bukan saja karena kita dicap alay oleh orang lain.
Tetapi, “overproud” mampu mengartikan diri kita sebagai orang yang rendah di mata orang lain.
Kita seakan-akan senang mengemis pujian dari orang lain demi merasakan kebanggaan terhadap diri sendiri.
Pertanyaannya apakah kita serendah itu sampai harus terpaut dengan orang lain untuk bisa bangga?.
Meskipun penting untuk kita mendapatkan pengakuan dan rasa bangga terhadap sesuatu. Namun, bangga yang berlebihan itu beda cerita.
Layaknya kapal yang berlabuh di tengah laut. Meskipun membutuhkan ombak untuk melaju.
Namun, tidak selamanya ombak yang akan mengantar kita mengarungi lautan. Butuh mesin atau dayung sebagai kepercayaan diri menerobos dan mengendalikan kapal.
Kita pun sama, jangan sampai gara-gara bangga karena diakui. Itu menjadi acuan untuk menjalani hidup.
Sehingga kita stuck di sana. Terlena akan pujian. Padahal kita belum kemana-mana. Aduh, betapa tidak menyenangkannya.
Cukup rasa bangga itu sebagai reaksi kita karena apa yang dilakukan berarti dan bukan kesia-siaan.
Dalam konteks bernegara. Saya merespon video Rich Brian yang baru-baru ini viral karena heran mengapa banyak orang Indonesia kagum dan bangga terhadap pria kelahiran Jakarta yang bisa berbahasa Indonesia.
Harusnya kan wajar, ya?.
Dan anehnya fenomena ini tuh banyak disorot media. Seakan-akan memberi ruang “overproud” itu tumbuh dan tak terkendali.
Sekan mengajarkan kita untuk mudah gumun terhadap sesuatu. Bahkan mirisnya, seakan memberi air kepada jiwa-jiwa yang haus terhadap pujian.
Padahal sudah banyak loh yang tahu bahwa beliau ini orang Indonesia, bahkan tak sedikit dari orang kita mengagumi kejeniusannya bermusik karena dia orang Indonesia.
Lantas mengapa kita harus gumun melihat orang Indonesia bisa berbahasa Indonesia?.
Apakah benar gejala “overproud” ini benar-benar tidak bisa terhindarkan, ya?.
Kita seperti haus pujian. Mengapa demikian?. Bukankah yang seharusnya memberikan pujian itu orang dari negara lain?.
Karena Brian dengan popularitasnya yang sedemikian tinggi tapi masih ingat negara, bahasa, dan kulturnya.
Hal itu yang seharusnya dianggap orang luar sebagai ketakjubannya atas kerendahan diri Brian.
Jadi, seharusnya bangga yang berlebihan itu orang luar, bukan kita.
Ini bukan berarti kita tidak boleh bangga dengan Brian, ya. Of course kita bangga padanya.
Karena Brian dengan kejeniusannya, musik Indonesia dikenal orang luar. Berkat Brian kultur Indonesia dikenal banyak orang luar melalui musik dan konser-konsernya.
Tapi, efeknya adalah jika terlalu bangga akan muncul potensi diri “dimanfaatkan” oleh orang lain, mudah diperdaya hanya karena menjual nama identitas. Dan itu seharusnya buruk bagi kita.
Lantas bagaimana seharusnya kita menyikapinya?. Bentuk kebanggaan kita kepada Brian bukan mudah gumun tiap kali nama Indonesia disebut atau hal-hal yang identik Indonesia ditampilkan olehnya.
Namun, melihat ini sebagai satu peluang untuk kita bisa ikutan buat bangga Indonesia, membuat bangga diri dan masyarakat Indonesia. Kalau kita ambil contoh dari negara lain, musik Korea misalnya. Dulu musik dari negara ini seterkenal apa sih?.
Saya yakin waktu kamu masih kecil atau orang tuamu masih cilik, pada tahu nggak musik korea apa saja?. Pasti mayoritas bilang tidak.
Tetapi, ketika Oppa Gangnam Style itu menggemparkan dunia, mulai tuh satu per satu musik Korea bermunculan.
Artinya apa, ada kemungkinan industri musik di sana melihat peluang musik korea dikenal luas berkat kepopuleran Gangnam Style kala itu.
Fenomena Brian ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh orang kita.
Daripada sekadar gumun gara-gara orang luar nyebut atau ngomong Indonesia. Bahkan mirisnya orang dari negara kita yang berkarier di luar dan ngomong Indonesia. Mending manfaatkan peluang.
Jangan sampai bule-bule yang suka me-react video YouTube tentang Indonesia itu merajalela hanya karena kita gumun-an, haus pujian, “overproud”.
Ngapain sih nontonin mereka sekadar untuk tahu pendapatnya tentang konten asal Indonesia. Ngapain?.
Serendah itukah kita?.












