Feel Free
RMH
h
almost home
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
NASA

gracie abrams
YOU ARE THE REASON
I'd rather be in outer space 🛸
Keni
Monterey Bay Aquarium
art blog(derogatory)
$LAYYYTER

No title available
d e v o n

titsay
ojovivo
we're not kids anymore.
Jules of Nature
Sade Olutola

if i look back, i am lost
seen from New Zealand

seen from Colombia
seen from France
seen from Brazil
seen from Saudi Arabia
seen from Tunisia
seen from Germany

seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from France
seen from United States
seen from United States
@aimanyongki
Feel Free
Minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir bathin :-) #adekgwnih
#paperreplika #minions #camp
Wahyu Pertama (610 M)
...Tatkala ia sedang dalam keadaan tidur dalam gua itu, ketika itulah datang malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata kepadanya : اقْرَأْ “Bacalah!” Dengan terkejut Muhammad menjawab : "Saya tak dapat membaca". Ia merasa seolah malaikat itu mencekiknya, kemudia melepaskannya seraya katanya lagi : اقْرَأْ “Bacalah!” Masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad menjawab: "Saya tak dapat membaca". Ia merasa seolah malaikat itu mencekiknya sekali lagi, kemudian melepaskannya kembali seraya berkata: اقْرَأْ Masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad menjawab: "Apa yang akan saya baca?" Seterusnya malaikat itu berkata:
اقرأ بسم ربك الذي خلق خلق الإنسان من علق اقرأ وربك الأكرم الذي علم باالقلم علم الإنسان مالم يعلم
Lalu ia mengucapkan ucapan itu . Malaikat pun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya...
....Bila ada yang mengajaknya bicara ia mendengarkan hati-hati sekali tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak saja mendengarkan kepada yang mengajaknya bicara, bahkan ia memutar seluruh badannya. Bicaranya sedikit sekali, lebih banyak ia mendengarkan...
Trip to Pangandaran
Liburan adalah hal yang paling ditunggu-tunggu banyak orang di tengah aktivitas sehari-hari yang sangat padat. Dan inilah yang saya manfaatkan bersama 5 orang teman untuk sedikit refreshing dengan pergi ke Pangandaran.
Perjalanan dari Jatinangor - Pangandaran memakan waktu sekitar 6 jam. Kebetulan kali ini teman saya bawa kendaraan pribadi. Kalo naik Bis bisa menggunakan bis jurusan Bandung - Pangandaran dengan ongkos 40.000 rupiah (Bisnis AC).
Ketika baru tiba di Pangandaran, akan ada banyak orang yang langsung menawari penginapan bagi para wisatawan. Di sini kita harus pintar-pintar menawar harga biar bisa dapet yang murah. Itulah yang kami lakukan, setelah mencari-cari selama satu jam, akhirnya kami mendapatkan penginapan yang cukup murah. 500 ribu untuk dipakai dari Jum'at subuh sampai Minggu siang, dengan fasilitas AC serta TV (ini udah murah banget karena rata-rata harganya 300 ribu/hari).
Di Pangandaran sendiri ada dua pantai, yaitu pantai barat dan pantai timur. Untuk melihat sunrise kami harus ke pantai timur. Saat itu langitnya lumayan berawan sehingga kurang terlihat mataharinya.
Setelah Shalat Jum'at, kami pergi ke Pantai Barat, tetapi sebelumnya kami makan siang dahulu di Sate Galunggung (makanannya lumayan enak dan tidak terlalu mahal, rata-rata 15ribu). Pantai Barat lebih ramai daripada pantai timur. Dan di sana kita bisa naik perahu ke arah laut bebas dan ke daerah pantai pasir putih di teluknya. Untuk nyewa perahu itu kita bayar 30ribu/orang.
Di pantai pasir putih itu kita bisa melihat monyet-monyet yang bebas berkeliaran. Dari tempat kita bisa melihat pemandangan laut yang indah dan juga karang-karang yang terhampar di pantai. Selain itu kita juga bisa melakukan snorkling (biayanya 75ribu).
Sayangnya, Jum'at malam saya harus pulang duluan. Saya pulang menggunakan bus Budiman. Sedangkan teman-teman yang melanjutkan liburan ke Green Canyon dan Pantai Batu Karas.
"Maulid Politik Kenabian"
Judul yang menarik di kolom opini harian kompas hari ini, hasil tulisan seorang esais, Asep Salahudin.
Sedikit mengutip dari esai Beliau :Di mana politik yang dilakukan Nabi Muhammad SAW lebih mengarah pada politik berbasis kekuatan nilai. Keteladanan lebih dikedepankan daripada perbincangan. Falsafah politiknya bukan hanya menjadi "renungan" melainkan sekaligus "tindakan"; tidak sebatas "wacana" tetapi juga "aksi nyata".
Inilah sisi kekuatan politik kenabian: politik karakter. Nilai-nilai kenabian seperti ini, (meminjam telaah Mohandas K Ganda), dapat menghindarkan tujuh dosa sosial : politik nir-prinsip; kekayaan yang diraih tidak melalui kerja keras; bisnis defisit moralitas; kebahagiaan yang kehilangan nurani; pendidikan yang meninggalkan karakter; ilmu pengetahuan yang jauh dari humanitas; dan peribadatan yang terjebak moralitas.
Merenungkan politik nilai yang diusung Muhammad SAW, bukan hanya perlu melainkan satu keniscayaan. Relevansinya itu terletak justru ketika kita hari ini lebih mengedapankan politik citra ketimbang logika, eksploitasi bukan emansipasi, ingar-bingar oleh semangat kebendaan bukan hikmat ketulusan, gaduh oleh politik perkauman yang serba eksklusif-intoleran bukan siasat kesemestaan yang berangkat dari roh kebersamaan.
Kompas, Rabu 23 Januari 2013
#papermodel @ cfd
Pittsburgh, 1907
“Technological mandala 02″ by Leonardo Ulian,
aesthetics of electric components
McDonald Observatory | In Focus
Facts Are Sacred | Guardian