It’s not the change, it’s how we react
Assalammualaikum!
Sedang lama tak ada ide untuk berbagi, atau lebih tepatnya sedang ingin menyimpan sendiri. Kali ini, saya mau sedikit berbagi tentang asupan ilmu yang saya dapat selama dua hari kemarin (18-19 Februari 2016). Saya dapat kesempatan mengikuti training dari tempat saya bekerja sebagai bagian dari people development (katanya). Judul trainingnya “7 Habits”.
Ada yang sebelumnya pernah dengar soal ini? Training ini terinspirasi dari buku yang disusun seorang dari Amerika bernama Stephen Covey. Training yang dikemas dalam 2 hari ini membahas hasil penelitian Pak Covey mengenai 7 kebiasaan yang harus dimiliki untuk menjadi Highy Effective People. Kata orang HR kantor saya sih, nggak banyak kantor yang memberikan training ini ke karyawannya, dan kalau kita mengikuti training ini di luar kontribusi pesertanya kalau dirupiahkan sih sekitar Rp 8 juta. Dan saya sih cuma modal gojek Rp 15 ribu + nebeng mobil pool dari kantor Jakarta ke kantor Purwakarta + menginap 1 malam gratis di guest house kantor + bonus traktiran sate maranggi khas Purwakarta (Alhamdulillah). Nah berhubung katanya semakin dibagi ilmu itu nggak bakal habis, saya coba sedikit share mengenai 7 Habits ini.
Ada 3 hal yang sifatnya selalu tetap dalam kehidupan ini, yaitu: perubahan, prinsip dan pilihan. Ada 2 sub hal lain sebenarnya yang sifatnya selalu tetap di dunia ini: wanita tidak pernah salah dan laki-laki tidak pernah benar (ehm). Ketiganya mutlak akan selalu ada dan tidak mungkin kita tolak, jadi jangan sekali-kali menyalahkan adanya perubahan, prinsip, dan pilihan tapi bagaimana kita menghadapi ketiganya secara efektif.
1. Be Proactive
Kebiasaan yang pertama adalah menjadi orang yang proaktif. Singkatnya, proaktif adalah memiliki kendali terhadap dirinya sendiri atas hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya (stimulus). Kata kunci yang ditekankan dalam kebiasaan ini adalah: “create your own weather”. Maksudnya, orang-orang sukses biasanya akan memiliki “cuaca”nya sendiri. Meskipun cuaca di luar hujan, mereka tidak akan terpengaruh. Contoh sederhana, stimulus berupa gosip:
a. Digosipin --> emosi --> marah --> melabrak (ini disebut reaktif)
b. Digosipin --> tenang --> berfikir sejenak --> klarifikasi (ini disebut proaktif)
Jadi ada satu hal yang membedakan antara reaktif dan proaktif, yaitu adanya “space” antara stimulus dan diri kita. Orang yang proaktif, memiliki space untuk berfikir menghadapi stimulus, sedangkan reaktif tidak. Jadi kita adalah produk dari apa yang kita inginkan, bukan dari pengaruh lingkungan. Nah, bagaimana menghadapi stimulus dalam kehidupan sehari-hari? Caranya adalah dengan STEP (Stop --> Think --> Evaluate --> Proceed)
2. Begin with The End in Mind
Setiap apapun yang kita lakukan atau jalani baik itu pekerjaan kantor ataupun lainnya, kita harus memiliki tujuan akhir yang jelas. Karena langkah awal kita dimulai dengan mengingat jelas tujuan akhir kita, that’s why we have to dare to dream! Karena menurut penelitian, suatu proses penciptaan itu dimulai dari mental, baru kemudian terbentuk secara physically. Kalau membayangkan aja nggak bisa, bagaimana mungkin mau mewujudkan fisiknya (kata trainer kemarin). Dulu sih saya pribadi masih apa-apa suka “go with the flow” aja, tapi makin tua makin sadar kalau tujuan itu harus jelas, karena nggak selamanya arus membawamu ke tempat yang benar.
3. Put First Things First
Kebiasaan yang ketiga menurut Pak Covey ini kalau yang secara pribadi paling ingin segera saya terapkan. Menempatkan hal utama di tempat pertama. Skala priorotas. Yes! Orang yang efektif, akan mendahulukan hal yang penting, bukan yang mendesak. Tapi pada prakteknya sih menurut pengalaman, setiap pagi saya sudah menyusun to do list hari ini, tapi kok ya di tengah-tengah hari ada aja email atasan yang mendesak mengerjakan hal-hal lain secara tiba-tiba. Ternyata, triknya adalah: menggeser hal-hal pada kuadran I ke kuadran II (Time Matrix). Caranya, dengan perencanaan dan persiapan. Apa itu time matrix?
a. Kuadran I : Mendesak dan penting
b. Kuadran II : Penting dan tidak mendesak
c. Kuadran III : Tidak penting dan mendesak
d. Kuadran IV : Tidak penting dan tidak mendesak
Pesan penting dari trainer kami waktu itu untuk habit yang ketiga ini adalah: maksimalkan fungsi google calendar dan agenda pada email atau gadget anda
Nah sebelum masuk habit yang keempat dst, kalau kita sudah bisa mengimplementasikan ketiga habit tadi dengan baik, itu artinya kita sudah bergerak dari sisi ketergantungan menjadi sisi kemandirian, dan artinya kita sudah meraih a private victory (kemenangan pribadi).
4. Think “Win-Win”
Kebiasaan yang keempat adalah “think win-win” atau berpikir menang-menang. Waktu training, kami memperagakan seperti ini: “think (sambil menunjuk jidat bagian samping ala ala lagi mikir), win (sambil menunjuk orang di depannya), win (sambil menunjuk diri kita sendiri)”. Kenapa seperti itu? Artinya, kita memenangkan orang lain terlebih dahulu, baru diri kita sendiri? Kenapa orang lain dulu yang dimenangkan? Coba baca kembali paragraf sebelum ini: karena kita sesungguhnya sudah meraih kemenangan pribadi sebelumnya. Contoh sederhana saat training: lomba panco.
- perjanjian panco: jika si A menang maka si A dapat coklat, jika si B yang menang maka si B dapat coklat.
- Apa yang dilakukan si A? si A membiarkan B menang dan B mendapat coklat, pada tiga kesempatan lainnya mereka sepakat untuk saling memenangkan satu sama lain, di akhir kompetisi masing-masing mendapatkan 2 coklat. Dan mereka sama-sama diuntungkan.
Yang penting di sini adalah kita harus punya “Bank Tabungan Emosi (BTE)”. Bukan bank BUMN apalagi bank swasta dengan hadiah mobil yang gagang pintunya aja puluhan juta ya. Ini adalah istilah yang diadopsi dari prinsip bank. Kalau kita menabung di bank (setoran) maka kita juga bisa menarik uang (tarikan). Sama halnya dengan BTE, kalau kita menabung perbuatan baik kepada seseorang, suatu saat nanti saat kita membutuhkan, akan ada kebaikan yang bisa kita terima dari hasil setoran kita.
Kalau menurut saya sih ini agak butuh usaha lebih lah ya di jaman sekarang ini, jaman baikin orang malah dibilang PHP, jaman durian kupas lupa sama kulitnya~~
5. Seek First to Understand, then to be Understood
Nah! Yang kelima inilah yang juga cukup butuh energi lebih untuk diterapkan masa kini. Memahami orang lain sebelum meminta untuk dipahami. How? Kebanyakan kita sekarang maunya cuma dimengerti saja, tanpa mencoba buat mengerti kondisi orang lain (ini bukan curcol, iya ini bukan curcol). Kunci pentingnya dalam hal ini adalan Emphatic Listening. Mendengarkan secara empatik, menempatkan diri kita sebagai lawan bicara, memahami apa yang lawan bicara rasakan, dan mengungkapkan kembali dengan kata-kata kita sendiri. Artinya, kita mendengarkan untuk memahami, bukan mendengarkan untuk menjawab. So, be an emphatic listener. Karena dengan mendengarkan secara empatik, perlahan lawan bicara kita akan mengungkapkan yang sebenarnya mereka rasakan. Kalau menurut saya, mendengarkan secara empatik ini juga berhubungan dengan proaktif, jadi ketika kita mendengarkan orang lain bercerita, kita tidak langsung melawan/menjawab, tapi ada space untuk mencerna, memahami, dan merasakan apa yang mereka rasakan baru kemudian bersama-sama mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi permasalahannya. Just listen, don’t judge.
6. Synergize
Nah cepet kan nggak sampai sehari udah sampai habit yang keenam, yaitu sinergis. Kita pasti sering lah ya dengar kata sinergis ini. Bekerjasama dalam perbedaan. Sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena kita sebagai makhluk sosial yang hidup diantara jutaan perbedaan. Apalagi di lingkungan kerja, jangankan satu perusahaan, satu departement aja sifatnya beda-beda kan ya. Nah untuk mencapai tujuan dan misi yang sama maka pentinglah yang namanya sinergi. Together we will shine kalau kata mbak Andien (maaf intermezo, ini lagunya enak kok tapi).
Nah kalau tadi kita berhasil mengimplementasikan dengan baik habit 1-3 kita akan bergeser ke arah kemandirian, maka kalau kita berhasil mengimplementasikan dengan baik habit 4-6 kita akan bergeser dari kemandirian ke kesalingtergantungan. Artinya, kita akan menuju ke arah menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. “Khairunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain). Kalau kata Pak Einstein: “Don’t try to be a man of success, try to be a man of value instead”.
7. Sharpen The Saw
Setelah mencapai keenam habits tadi dengan baik maka yang kita perlukan adalah yang ketujuh ini, yaitu mengasah dan terus mengasah apa yang kita lakukan agar keenam habits yang lain tetap terjaga. Pada dasarnya ada 4 dimensi dalam diri manusia yang harus dijaga dan diasah, yaitu: dimensi fisik, mental, spiritual dan sosial. Kalau keempatnya terus dijaga dan diasah maka kita akan senantiasa jadi manusia yang efektif. Contoh sederhana: ada seorang penebang pohon, hari pertama berhasil menebang 8 pohon dengan parangnya. Hari kedua dengan parang yang sama dia hanya berhasil menebang 7 pohon. Hari ketiga hanya berhasil 6 pohon dan terus menurun pada hari-hari berikutnya. Ternyata kuncinya sangat sederhana: si penebang pohon cuma malas mengasah kembali parang yang ia miliki setelah digunakan, sehingga hari-hari berikutnya ketajaman parangnya berkurang dan hasil tebangan pohonnya menurun.
Selesai! Training singkat 7 habits less than 30 minutes by reading my post on tumblr haha. Selamat membaca dan semoga bermanfaat tanpa bayar 8 juta :D
p.s: kalau mau versi lengkapnya, silakan baca bukunya dengan judul “7 habits of highly effective people” karangan Stephen R. Covey
Wassalammualaikum.
images: amazon.com













