Dear Allah ....
Aku ingin tenang dalam keyakinan pada-Mu, semua akan selesai baik-baik. Tetapkanlah aku selalu dalam prasangka ini. Sungguh, aku tidak punya kuasa mengubah apa pun tanpa kehendakMu.
ojovivo

ellievsbear
$LAYYYTER
Cosmic Funnies
Claire Keane

❣ Chile in a Photography ❣

Origami Around
No title available
No title available
Not today Justin
Cosimo Galluzzi

tannertan36
★
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Mike Driver

roma★

pixel skylines
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
hello vonnie
d e v o n
seen from United States
seen from Netherlands

seen from Czechia
seen from Switzerland
seen from South Africa

seen from Italy

seen from Netherlands
seen from Kenya

seen from Philippines

seen from Argentina

seen from United States
seen from Brazil
seen from Ukraine

seen from Singapore
seen from Iraq

seen from United States

seen from Morocco
seen from Spain
seen from United States
seen from United Kingdom
@airazakirah
Dear Allah ....
Aku ingin tenang dalam keyakinan pada-Mu, semua akan selesai baik-baik. Tetapkanlah aku selalu dalam prasangka ini. Sungguh, aku tidak punya kuasa mengubah apa pun tanpa kehendakMu.
Verse of the Week – Surah As-Saffat (37:99)
After being saved from the fire, Prophet Ibrahim (ʿalayhi al-salām) turned the page on an entire chapter of his life and declared: “Indeed, I am going to my Lord; He will surely guide me.” (37:99)
This verse invites us to reflect on our own journeys: What attachments, habits, fears, or distractions might be holding us back from drawing closer to Allah? What would it look like to trust Him more fully with the next step in our lives?
Reflection prompts:
• What is one thing you may need to leave behind in order to move closer to Allah?
• What does “going to my Lord” mean in your life right now?
•If you knew with certainty that Allah would guide you, what would you have the courage to leave behind, or the courage to pursue?
As-Saffat (37:99)
He later said, “I am leaving ˹in obedience˺ to my Lord. He will guide me. (99
Terbangun dan tiba-tiba membaca ini di Quranrefllect auto pennangis :'
Setelah sebulan penuh kecemasan (sekarang pun masih), besok hasil biopsi mama keluar. Berharap yang terbaik tapi bersiap dengan kemungkinan terburuknya.
Allahu Rabbi ... Lapangkan selalu hati kami menerima setiap takdir-Mu.
Mama kanker. Dokter hanya memberi dua opsi; kemo, minimal 8x sebelum operasi pengangkatan atau bisa langsung operasi (setelahnya baru kemo). Intinya solusi medis hanya kemo. Kami mengikuti pilihan mama; pulang, istirahat di rumah. Cari alternatif lain.
Tidak ada pilihan yang mudah—semua memiliki risikonya masing-masing.
Setelah sebulan penuh kecemasan (sekarang pun masih), besok hasil biopsi mama keluar. Berharap yang terbaik tapi bersiap dengan kemungkinan terburuknya.
Allahu Rabbi ... Lapangkan selalu hati kami menerima setiap takdir-Mu.
Ke miwf tanpa betul-betul menikmati suasananya T.T
Semoga semangat belajar ini selalu terjaga. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dunia akhirat. Semoga dimudahkan dalam mengamalkan jika belum bisa mengajarkan.
~belajar buat evaluasi akhir ternyata bisa semenyenagkan ini~
2:30 pm | siang yang ambigu, cuaca cerah tapi hujan dikit
Setelah menonton We are all trying here beberapa episode, aku menyadari kenyataan ini; aku tidak tahu minta tolong.
That's. Aku menangis di adegan itu—ketika akhirnya si tokoh utama pria memberi nama satu emosi yang tidak diketahui tersebut; minta tolong.
Ya, hanya dua kata tapi butuh kalimat panjang tuk menjelaskan perasaan itu, atau tidak perlu. Sebab ada hal-hal yang memang tidak bisa kita jelaskan, semahir apa pun kita merangkai kata. Cukup sebagai "sesuatu yang tak butuh definisi" karena hanya orang-orang yang pernah di posisi itu yang akan memahami. Refleks aku teringat kalimat di novel to kill a mockingbird:
“You never really understand a person until you consider things from his point of view… until you climb into his skin and walk around in it.”
Sekali lagi, lewat menonton aku sejengkal lebih mengenal diriku.
hari ini ahad—pukul sembilang pagi
aku terbangun saat mendengar ceramah dari masjid (yang entah di mana sebenarnya—suara speakernya memang sangat jelas, terutama saat subuh yang masih hening). sungguh akhir pekan yang sempurna untuk bermalas-malasan; tidak shalat dan mengabaikan ritual pagi. tapi, selalu ada bagian lain dari diriku yang menolak untuk menjadi pemalas; katanya, aku rajin dan itulah karakter yang sebaiknya harus kupertahankan—jadi kuputuskan tuk bangun. pukul lima sekian, normalnya jika tidak haid, aku sudah shalat dan mulai ritual pagi lainnya. maka aku beranjak dari tempat tidur, samar-samar masih kudengar ceramah subuh yang tadi membangunkanku:
kita di dunia ini amat sangat sebentar. hanya seperti satu sore atau hanya pada waktu pagi saja... apa yang paling banyak memasukkan orang ke syurga? sahabat pernah bertanya pada Rasulullah...
aku sudah di tangga, tiba-tiba berhenti. menyimak lebih serius.
takwa dan akhlak yang baik.
bukan pengetahuan baru tapi kesadaran itu terbarukan. ada yang diam-diam membuatku segera bergegas, menyingkirkan jauh-jauh pikiran untuk bermalas-malasan karena merasa berhak.
so, kulakukan ritual pagiku sebaik-baiknya. sebab aku selalu mencintai pagi, mengisinya hanya dengan hal-hal baik; melanjutkan tilawah, zikir pagi, melengkapi catatan sekaligus evaluasi, duolingo 30 menit, lalu membaca buku sejam lebih. tamat dengan mengagumkan; novel Matt Haig yang tidak pernah mengecewakan.
aku lalu menulis ini. sayangnya, lagi-lagi aku melewatkan jam olahraga. tapi tetap lebih baik dibanding malas-malasan, kan?
Life update dua hari terakhir super cemas.
Foto 1: menemani mama ke obgyn sebelum dirujuk ke bedah.
Foto 2: menjemput kakak di pelabuhan. Selalu sukaaa melihat laut (setidaknya ada keindahan di hari-hari muram belakangan ini).
Bolak balik ke RS. Alhamdulillah tidak jadi nginap karena diagnosis baru dokter, biopsi mama hari ini batal. Tapi ini belum selesai—jadi harap sediakan stok sabar. Tetap tenang. Kita terus berdoa yang terbaik; meski tetap menerima, apa pun kemungkinan terburuknya nanti.
Allahuakbar. Berikan yang terbaik.
Berusaha menikmati hal-hal kecil, melihat segalanya selalu lewat kacamata syukur. Bisa setenang itu ternyata. Sayangnya, itu tidak permanent.
Ada saatnya kau kembali dengan seluruh pikiran burukmu dan semua yang kau khawatirkan akan datang. Bangun tidur tidak enak. Sebab kata kata negatif mulai mendominasi pikiran. Kau merasa berhak membenci segalanya, bahkan keberadaanmu. Kau memaki takdir, melupakan seluruh kebaikan yang pernah kau terima; seolah semuanya memang hanya berisi keburukan. Lalu gelap. Kau kembali ke lorong tanpa cahaya, menyeret kaki sembari membujuk diri tuk terus bernafas. Dalam sesak dan tangis yang sunyi. Kau sendiri. Selalu begitu.
Siklus yang entah sampai kapan.
Bersama seseorang yang tepat—
Aku ingin merasakan hangat matahari pagi, dingin udara kala hujan, atau sekadar menyimak kesunyian pada pukul tiga dini hari. Aku ingin merasakan deburan ombak menyentuh kaki, di pantai dengan pasir putih, kita bisa menikmati angin sore sembari menunggu nona senja di garis horizon. Aku ingin merasakan udara sejuk pegunungan, menatap embun di dedaunan pagi hari, menyerap energi alam yang memberi kesegaran. Aku ingin merasakan banyak hal yang kusuka bersama seseorang, yang semoga itu kamu.
Empat tahun lalu. Dan sepertinya bukan kamu orangnya. Aku selesai dari seluruh tebak-tebakan tidak berhadiah🤣
Merasa sangat produktif hari ini; bangun cepat meski ricuh dan sakit kepala, sahur seadanya (masih berjuang puasa syawal setelah bayar utang seminggu + haid 7 hari), lalu beres dua evaluasi pekanan, olahraga tipis², baca buku sekian halaman, scrolling secukupnya (timer 25 menit masih setia membatasi sosmedku), bersih², nyuci, tidur siang full sampai asar, muraja'ah, odoj on time, sisa apa? Menulis—rencana dari beberapa hari lalu belum kesampaian. Dan mengaudit kelas yang kutinggal sejak ramadan T_T
Ala kulli hal, Alhamdulillah...
8:37 pm
Kembali kepada kesibukan lama; mencoba sedikit lebih santai dan menikmati hidup.
Tapi, bagaimana jika kau terlena dan lupa jika waktu tidak menunggu?
Ah, pukul sembilan pagi dan kepala sudah sangat berisik.
Masih momen lebaran—kumpul keluarga. Habis lebaran balik Makassar dua hari lalu kembali pulkam yang hanya sejam via tol, wkwk. Stay di Maros buat urus KTP yang masih ditangguhkan karena begitulah birokrasi indo bekerja; ribet, tidak ada kepastian, tidak efisien dst. Setidaknya, ruang publik di gedung mpp kemarin lumayan nyaman buat baca buku.
Capek. Masih capeeeek tapi dikuat-kuatin aja.
10:43 pm
Lebaran. Momen paling capek setiap tahun.
:(
Ya Allah.. badan remuk tapi hatiku penuh. Alhamdulillah. Khalwat dengan-Mu betul betul menghempaskan seluruh alasan remeh mengapa aku harus hidup?
Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebutkan di antara faedah meninggalkan syahwat saat berpuasa adalah mengosongkan hati untuk berpikir dan berzikir; karena sesungguhnya mengonsumsi berbagai syahwat itu dapat membuat hati lupa, membutakannya, serta menghalangi seorang hamba dari berzikir dan berpikir, dan mengundang kelalaian.
Dengan kosongnya batin dari makanan dan minuman, itu akan menerangi hati, menumbuhkan kelembutannya, menghilangkan kekerasannya, serta memberikan waktu menyendiri untuk zikir dan tafakur. (Mukhtashar Latha`ifil Ma’arif: 63).
Puasa memiliki peran besar dalam menyucikan jiwa karena ia melemahkan dominasi syahwat. Ketika syahwat melemah, hati menjadi lebih mudah tunduk kepada Allah dan lebih mudah menerima nasihat. Inilah sebabnya mengapa orang yang benar puasanya akan lebih lembut hatinya dan lebih mudah menangis karena takut kepada Allah.
Sumber; majalah HSI
Jelang subuh baca-baca lagi soal ramadan dan terenyuh. Hiks, betapa hamba masih terus berjuang mengamalkan secuil ilmu-Mu. Maka mudahkan yaa Allah... Agar aku tak hanya paham tapi juga sanggup ke tahap pengamalan—hanya berharap pahala dari-Mu. Berharap ridha-Mu...