Ada yang tiba-tiba datang.. tanpa permisi pun aba-aba. dia bilang, sedang rindu.
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

shark vs the universe
KIROKAZE
macklin celebrini has autism

pixel skylines
Mike Driver
No title available
$LAYYYTER
noise dept.

No title available
Cookie Run:Kingdom Official!
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Game of Thrones Daily

ellievsbear
The Bright Sessions
NASA
No title available
RMH
tumblr dot com
todays bird

seen from United States
seen from United States

seen from Italy

seen from Philippines

seen from Germany
seen from Australia

seen from Japan

seen from Australia

seen from Chile
seen from Colombia
seen from Greece
seen from United States

seen from Japan

seen from Philippines
seen from Indonesia
seen from United States

seen from United States

seen from Venezuela
seen from South Africa
seen from Bangladesh
@aisgaris-blog
Ada yang tiba-tiba datang.. tanpa permisi pun aba-aba. dia bilang, sedang rindu.
Riuh,
Begitu banyak yang berlalu-lalang di dalam kepalaku. Tentang apa saja. Rindu-rindu yang bungkam.
Mungkin, dia sudah menemukan jalannya sendiri, sebab itu dia lupa di mana titik awal jumpa.
Mungkin, dia sudah tidak lagi mahir menghitung jejak, sebab itu dia telah salah langkah.
Mungkin, dia beruntung telah merasa menemukan sesuatu yang baru, hingga lupa bagian-bagian yang lama.
Mungkin, dia lebih senang dengan sesuatu yang membuatnya merasa tersanjung sampai lupa di mana rasa nyaman itu pernah ada.
Langkah-langkah kaki, persinggahan-persinggahan yang dia temui.
Percayalah, bagian akhir tempatmu bertualang, kau akan memilih untuk tetap mengulang pulang.
"sesekali, kita memang harus terpatahkan untuk menjadi lebih kuat kemudian."
Semoga pada akhirnya kisah kita tidak akan berakhir miris dan tragis.
Kepada Tuan Penunggu
Sungguh, sebenarnya saya tidak ingin menyakiti siapapun. Saya tidak ingin ada yang merasa terluka, atau merasa tidak diinginkan. Saya hanya perempuan biasa, yang bisa kapan saja keliru.
Saya tidak bisa menyenangkan perasaan semua orang, terlebih perasaan kamu. Seandainya saja, waktu itu kamu tidak hadir, atau saya yang tak membiarkan kamu masuk kedalam hidup saya, (mungkin) keadaannya tidak akan serumit ini.
Saya berada dalam keadaan yang akan menyakiti salah seorang bila harus memilih, jikalau saya tidak memilih, mari kita rasakan luka bersama saja. Apa kau setuju?
^^
Aku bahkan masih ingat betul, bagaimana pertama kali kita bertemu. Masih malu-malu dan penuh debar didada kita masing-masing.
Apa kau tahu, hari di mana kita bertemu untuk pertama kalinya adalah hal yang membahagiakan untukku, semoga juga untukmu.
Ada dada yang debarnya tak bisa lagi dihitung. Ada bibir yang tak bisa lagi menahan ribuan senyum, iya karenamu.
Gun
Saya masih ingat betul saat gadis itu datang dengan langkahnya yang lugu dan malu-malu. Sembari menyungging senyum di bibirnya yang mungil dan tipis. Lengkung paling sempurna yang seketika meluruskan segala hal di dalam kepala saya. Tingginya mungkin hanya sepantaran dada saya, kepalanya menyembul di antara lalu lalang penumpang trem kota Batavia. Gadis itu melewati saya dengan anggun, mana paham bahwa ada seseorang yang tersedak melihat cantik parasnya yang seputih susu dengan mata sabit paling pukau itu. Sebut saja saya penguntit. Tak apa. Sebab saya memang mengikutinya dari belakang begitu tahu ia turun dari trem. Saya jatuh telak pada pesonanya sejak pandangan pertama. Hanya satu pikiran yang terlintas saat itu; sepertinya Tuhan memberikan pulang untuk rindu-rindu saya yang kesepian.
Saya tak pernah tahu. Bahwa, kelak, jalan menuju pulang ternyata akan sesulit itu…
Ling
Aku bukan gadis yang mudah terkena bujuk rayu. Apalagi pada seseorang yang belum apa-apa sudah menjadikan perbedaan sebagai basa-basi obrolan. Namun, ada sesuatu bernama entah yang membuatku selalu betah berlama-lama berbincang dengan pemuda asli pribumi itu. Banyak orang bilang, bahwa cinta yang baik adalah yang menjadikanmu berani menjadi diri sendiri. Dan, Gun, bukan hanya sekadar mampu membuatku mencintai diri sendiri tapi juga bisa membuatku mencintainya sekaligus. Namun, cinta ternyata tak sesederhana menumpang trem untuk bisa tiba di rumah. Terlampau tebal sekat untuk membuat cinta kami bertepuk dalam kepak yang sama. Tersimpan benak dalam lamun yang panjang, “Bagaimana cara mengantar rindu yang dapat membawamu pulang?”
*************
“Kita dan cinta merupa cuaca. Kerap berubah dan berpindah dengan nuansa yang berbeda. Meski sekat perbedaan begitu kental kentara di antara kita, bukanlah menjadi masalah apa-apa. Tak ingatkah kau apa yang disampaikan semesta, bahwa pelangi indah bukan karena satu warna saja? Maka biarlah kita saling mencintai diiringi perbedaan yang menjadikan kita memesona hingga saat ini.”
_____________________
ps: Ditulis sebagai intrepretasi novel Rindu yang Membawamu Pulang karya Ario Sasongko terbitan GagasMedia. Telah tersedia di toko buku.
Kenapa tulisan yang ini (manis) sekali? Aku sukak! ❤
Perkara cinta-cintaan ini memang sunggulah rumit.
Mengapa dua orang yang saling mencinta memilih untuk berpisah, padahal masing masing dari mereka tahu bahwa saling memunggungi bukanlah perkara yang mudah?
Sungguh, sebenarnya tak banyak inginku. Hanya ingin memeluk, lalu sesekali mengecup lembut bibirmu.
Sebab, segala hal tentang kepergianmu akan selalu ada hujan; di mataku.
Semoga pada akhirnya kita akan dipertemukan dengan seseorang yang berjuang sama kerasnya dan akan tetap bertahan walau dikeadaan paling tidak masuk akal sekalipun. :)
Tentang apa yang seringkali kita bicarakan, percakapan - percakapan bodoh namun yang paling kita candui, tawa dalam teks, senyum dalam pengabadian sebuah gambar, rindu - rindu yang tak jarang diungkap lewat suara, janji - janji yang terucap, cinta demi cinta yang berlalu - lalang diantara dada saat mendekap. nadi yang mendegup, mengutarakan nama satu sama lain. doa - doa yang diteriakkan dalam hati, berdoa satu sama lain, berharap kita akan baik baik saja, berharap siapa yang saat ini Tuhan pertemukan adalah kelak yang abadi yang telah disuratkan olehNya. Kita adalah dua hati yang tertawa diantara bisingnya realita, kita, kamu dan saya, seperti camar yang berkicau diantara deru angin. Kita,kamu dan saya, adalah perahu mungil yang bertahan walau gontai di terpa deras dan kerasnya terumbu karang dan hujan. Terima kasih, telah menguatkan saya dalam banyak hal. terimakasih, telah mengajarkan bagaimana bertahan walau dikecewakan. dan, maaf, maaf atas ketidak sanggupan saya menutupi isi kepala saya, menutupi apa yang seharusnya saya katakan dan sudah saya katakan, mengatakan apapun yang tidak bisa membuat kamu nyaman. yang saya mau, yang saya ingin, kamu harus tetap tersenyum dan saya yakin kamu akan. kamu harus tau, kamu adalah apapun yang saya ingin.
Tentang seseorang yang (masih) saya sayangi hingga sejauh ini.
Jadi, apalagi yang harus ditakuti? Bukankah segala hal memang akan berakhir pada sebuah (kehilangan). Cepat atau lambat, ini hanya soal waktu.
Terima kasih; Boo.
"Untuk setiap waktu yang belum pernah kita lewati, aku harap; aku dan kamu, akan tetap baik-baik saja seperti ini." Mungkin ini aneh, tapi jika saya menyayangimu sebelum jumpa pertama kita. Apa salah? Kalau saya merasa nyaman padahal kita belum bertatap mata, apa salah? Kalau saya merasa terjaga walau sebelum tangan saling menggenggam apa salah? Kalau saya merasa bahagia dalam setiap pembicaraan kita, apa salah? Aku pernah terluka, hingga tak percaya bahwa masih ada cinta. Aku pernah kecewa, hingga menganggap bahwa semua laki-laki itu sama. Tapi kamu tiba-tiba datang, dan membuat segalanya berbeda. Terima kasih, sudah melengkapi hari-hari buruk saya. Terima kasih, sudah mau berbagi tawa. Terima kasih, karna sudah membuat saya begitu merasa disayangi. Terima kasih, untuk setiap hal yang membuat saya merasa begitu beruntung. Saya sayang kamu, itu yang saya rasakan sekarang. Entah itu berlebihan menurutmu atau tidak, ya terserah. PS: "Jauh sebelum kita bertemu, tolong jaga hatimu."
Sebab, ini bukan perihal seberapa kuat saya bertahan untuk menunggu. Ini tentang; Apa yang saya tunggu? Ini menjadi sebegitu biasnya sehingga timbul sebuah tanya di kepala; saya menunggu kesiapan kamu, atau saya menunggu kelelahan saya sendiri atas ketidakjelasan kamu?
Mengapa selalu kembali disaat saya sudah berhenti.
Sebegitu tak pentingkah saya? Sebegitu bercandakah kau anggap perasaan yang saya punya?
Saya tak pernah ingin memaksakan apapun, terpenting soal kita. Namun, ketika saya memilih untuk berhenti, bisakah kau jangan datang lagi?
Sungguh, saya lelah. Biar pergi saja sekaliah, aku tak apa. Setidaknya aku tahu, kau memang tak pantas aku cintai dengan sedemikian.
Adakah yang lebih baik dari do'a?
ketika berjarak, dan diam diam kita saling bersi keras dengan ego. Berdoalah. Biar sekiranya kita tetap baik-baik saja.