Kita sepakat, mereka yang dengan pengorbanannya untuk sekitarnya lebih besar dibanding dengan urusan dirinya. Itulah pahlawan, mereka yang keinginan besar dan kehendak-kehendaknya besar namun dialihkan untuk mencukupi ummat, itulah pahlawan. Mereka berkorban dan peduli, mengurusi lebih banyak hal, hingga ketika kepeduliannya dan pengorbanannya melebihi apapun itulah yang sebenarnya pahlawan.
At Tabrani pernah meriwayatkan dalam hadis, Dari Hudzaifah Bin Yaman r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat, maka bukan golongan mereka". Inilah kepedulian yang menunjukan buah dari hati yang peka dan hidup dalam masyarakat. Terlebih sinyal penderitaan orang lain. Dari hati yang baik dengan keinginan dorongan amal maka sikap tawaun hadir.
Kepahlawanan hadir dari kepedulian dan tanggung jawab terhadap keadaan masyarakat. Namun tidak semua dapat menjadi pahlawan. Setiap orang dapat peduli, tanggung jawab dan berkorban tetapi tidak semuanya mampu memerankan kepahlawanan, yang mendapati diri di batas-batas kehendak tetapi pengorbanannya diatas batas-batas kehendaknya.
Cerita tentang Ahmad Dahlan, seorang pembaharu yang bersusah mendirikan Muhammadiyah dari Pendidikan diniyah sampai pelayanan kesehatan, Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) sekarang menjadi PKU hingga amal usaha yang lain semata untuk menjadikan masyarakat sejahtera, menjadi transformasi sosial dalam Gerakan humanisasi di masyarakat yang membumi.
Cerita lain tentang Mohammad Natsir yang sederhana dan bermakna, kala menghidupi Pendis (Sekolah Pendidikan Islam yang didirikannya) dari yang awalnya sekolah sore di bandung hingga besar saat itu. Suatu ketika Pendis mengalami kekurangan pembiayaan, dengan modal pembiayaan pribadi Natsir bersafari mencari sumber pembiayaan untuk Pendis. Padahal ketika itu natsir baru saja menikah dan membutuhkan banyak biaya. Ia mengesampingkan kepentingan dirinya.
Hal ini juga tercatat dalam catatan surat Mohammad Natsir kepada istrinya yang merelakan gelang milik istrinya untuk di gadaikan dalam mewujudkan cita-cita saat itu. Cita-citanya saat itu adalah untuk kemajuan masyarakat. Hal ini tiada lain kilas balik cerita tentang pengorbanan, ketulusan, dan Kepedulian. Modal inilah dengan keberanian mendorong unruk melakukan tindakan-tindakan kepahlawanan. Bukan berarti mereka sudah tidak memiliki kepentingan pribadi, bukan berarti mereka tidak memiliki rasa takut. Tetapi kepedulian dan tanggung jawab rasanya mengalahkan rasa takut dalam benaknya.
Lalu ketika sekarang dalam kondisi yang serba sulit ditambah wabah pandemi covid-19, masih ada mata air deras mengalir kepedulian disana. Masih kita jumpai banyak orang yang rela berkorban dan mencurahkan apa yang ia bias untuk mengatasinya. Boleh jadi, diantara mereka juga kondisinya tak sama, barangkali kondisi mereka tidak lebih dari yang di tolong. Tapi mereka menghibahkan hidupnya untuk oranglain.
Diantara mereka, ada yang harus menahan berbulan untuk bertemu keluarganya, ada yang harus pergi sementara sengaja mengisolasi. Sebuah pengorbanan yang berat. Inilah yang membedakan meraka dengan orang kebanyakan. Mereka membenani sesuatu yang orang lain tidak ambil. Pada mereka pula harusnya dapat belajar. Seperti hadist yang Rasulullah,” sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi oranglain.” Pandemi yang berlangsung mengajarkan kita kalau masih banyak guru-guru inspiratif untuk kita. Menggetarkan banyak hati untuk semakin banyak memkarkan nilai kepahlawanan.
Dalam kesadaran untuk amal, serta menghidupi hidup bertaawun, mereka merelakan hidup untuk oranglain dan masyarakat.
Merekalah representasi dhawuh Kyai Sayyid dalam memahami dan melakukan tindakan kepahlawanan, “ketika hidup hanya untuk diri sendiri, maka akan terasa singkat dan tidak bermakna. Tapi, ketika hidup ini untuk kebaikan oranglain, ia akan terasa Panjang dan bermakna.”