Entah kalian boleh percaya atau tidak. Tapi ini merupakan kisah nyata yang aku rasakan pada Senin, 27 Februari 2017. Semuanya berubah ketika dia datang.
Libur kuliah telah usai, entah aku merasa biasa saja, semua orang memposting di Instastory betapa sedihnya mereka harus memulai semester baru besok. Seperti yang sudah aku bilang posting sebelumnya, aku mengikuti kelembagaan di kampus, dan harus mengurusi pradiklat calon anggota baru di lembagaku, jadi saat libur pun aku harus pergi ke kampus, mengurusi segala kebutuhan pradiklat (haaah).
Keesokan harinya aku pun berangkat dengan motor tua yang selalu setia menemaniku, padahal tubuh ini menolak untuk pergi, padahal di hari Senin, jam kuliah dimulai pada pagi hari pukul 9.25 WIB, tapi aku paksakan tubuh ini untuk pergi masa iya di hari pertama aku terlambat. Rasanya biasa saja, seperti aku menjalani pradiklat, di jalan macet penuh dengan kebulan asap kendaraan, untungnya tidak hujan jadi aku tak perlu meneduh (terima kasih Tuhan).
Sumpah entah mengapa aku tar bergairah untuk menerima berbagai ilmu saat itu,walaupun ritual di hari pertama hanya lah perkenalan tapi rasanya ingin keluar dari kelas dan rehat sejenak di ruangan Media Publica, tapi aku tahan semuanya agar tidak terjadi hal lalu tidak terjadi lagi (cabut dari kelas dan absen). Tapi kali ini berbeda sekali suasananya, biasanya aku bisa lama di Media Publica, tapi aku merasa ingin pulang, resfresing, melakukan hal sesuatu yang biasanya aku lakukan, nonton film di bioskop sendiri.
Kuputuskan untuk pergi menonton di XXI CBD Ciledug, walau Thorvy menahan dan ingin menceritakan suatu hal yang membuat ku jengkel pada hari minggu, tapi ya sudahlah, mungkin hanya hari ini aku begini, karena kesendirian pun aku butuhkan untuk menghindari berbagai macam orang di dekatku.
Sesampai di mall paling bergengsi di Ciledug, semua terasa normal, sudah lama aku tidak mencuci helm lebih dari satu tahun sepertinya, aku putuskan untuk mencuci helm, yaa lumayan nonton film kurang lebih satu jam setengah, pasti selesai nonton helmnya sudah bersih, selesai menaruh helm, bergegas aku menuju XXI.
Sesampai di XXI ternyata sepi, mungkin hanya lima puluh orang yang diluar, sisanya menikmati para lakon kondang hollywood maupun dalam negeri. Tanpa berpikir panjang aku putuskan membeli tiket seharga tiga puluh lima ribu, aku pilih D-13 tempat yang paling sering aku pilih saat menonton sendiri, dan enaknya lagi hanya aku yang berada di deretan tersebut, bagaikan raja rasanya tidak ada yang mengusik kesendirian hari ini.
Selesai membeli tiket, aku ambil buku Tuhan Maha Asyik karya Sujiwo Tejo dan DR. N.M. Kamba dan aku pilih kursi paling pojok berwarna krem muda sembari menunggu film The Rings yang akan diputar pukul 17.05 WIB.
Saat nikmatnya membaca kisah-kisah para bocah di buku tersebut, “Permisi, boleh saya duduk disini?” seorang bapak berumur kurang lebih lima puluh tahun memecah konsentrasiku, “iya pak, silahkan” ku jawab dengan tenang walau jengkel. “Maaf apa saya mengganggu kamu?” sahutnya kembali, entah aku takut rasanya ketika ada orang asing yang mengajakku berinteraksi layaknya sering bertemu. “Ahh, tidak pak, saya lagi baca buku aja ko” jawabku, “oohh berarti saya menggangu ya?” jawabnya “engga engga, ini juga baru prolog saya bacanya” sahutku dengan tenang.
Bapak ini banyak sekali bercerita, katanya jangan aku jangan terlalu banyak membaca buku sebab tetangganya gila ketika terus membaca buku, dia pun sering sekali berlakon layaknya cenayang, menanyakan hal pribadi kepadaku, baik itu kehidupan, percintaan, bahkan urusan seks pun ia tanyakan, tapi aku menjawabnya tidak merinci karena hal privasi tidak bisa ku umbar kepada orang asing.
“Bapak tinggal dimana?” tanyaku, “saya tinggal di Cengkareng” jawabnya, entah bapak ini sangat aneh, aku tidak seratus persen percaya dengan apa yang dia ucapkan, “saya kesini mau nonton,itu loh film yang ada Laudya Chintia Bella” sahutnya, pikirku (aahh) ternyata modus mungkin, tapi “Ohh, maaf pak tapi saya engga ada uang lagi, ini aja tinggal sepuluh ribu buat bayar parkir nanti” jawabku berbohong, padahal aku masih ada simpanan untuk makan nanti, tampak wajahnya kecewa dan mengkerut, tapi dia tidak langsung pergi, malah terus bercerita tentang kehidupannya.
Dia mengaku seroang pemain film, aku lupa nama filmnya apa, tapi saat itu memang itu merupakan film terkenal. Betapa sengsaranya dia saat menjadi artis dengan upah tidak seberapa namun menuntut hasil yang memuaskan, kebutuhan sekunder pun katanya tidak terpenuhi. Menurut ceritnya memang dia sangat total bahkan sering melukai lawan mainnya ketika harus memperagakan hal kekerasan seperti melempar singkong goreng ke maling, menjadi tukang sayur yang sentimental, menjadi tukang becak yang jatuh ke rawa-rawa, bahkan ia memukuli seorang anak remaja yang tidak sopan dengannya memakai sebuha sapu lidi.
Dia pun mengaku pernah bermain dengan Jaja Miharja, Reza Rahardian, Laudya Chintia Bella dan banyak lagi pemain kondang yang ia temui. Gambaran tentang dirinya pun ia ceritakan, betapa humbelnya dia kepada orang-orang walaupun ia tidak kenal, keceriaan dan lawakan menyentil yang ia selalu lakukan agar orang tersenyum, bahkan banyak anak-anak muda seperti aku lari mencarinya hanya untuk sekedar sharing mengenai kehidupannya saat susah maupun galau, aku ibaratkan dia seperti seorang psikiater berjalan yang bayarannya hanya kopi dan gorengan.
“Coba lihat tangan kirinya” sahutnya sambil menadahkan tangan, kuturuti saja kemauannya toh aku sudah mengamankan barang-barang ku di tas dan sudah ku peluk erat di bada, “kamu orangnya keras kepala dan egois ya, pantas perempuan engga ada yang mau bertahan lama” jawabnya dengan tenang agak menyinyir. (whaat?!)Bahkan aku pacaran saja baru sekali itupun SMP (haha).
Entah apa yang dia katanya terkadang aku setuju tapi ada juga yang tidak, namun kebanyakan benar adanya. Aku pun merasa percaya dan mengurangi pikiran kejelek ku kepada orang asing ini, tapi tetap waspada. Dia selalu menasihatiku akan menjalani hidup ini, bahkan dalam hal kecil dan hal terintim pun dia menasihati ku, tapi aku ambil yang positif dan menjauhkan yang negatif, entah dalam hati ini selalu berbicara “yang sehat ya pak, selalu sehat lah bapak” ini yang salalu aku doakan dalam hati kepada Tuhan.
‘Mohon perhatian, pertunjukan film di theater telah dimulai, bagi anda para penonton yang telah memiliki karcis, tetapi masih berada di luar, harap anda segera masuk, kerena pertunjukan film telah dimulai’ pengumuman itu menjadi akhir pembicaraan dan pertemuan kita. “Maaf pak, film saya udah mau mulai, kayanya saya harus masul” sahutku, “aahh iya, tapi saya haus nih ngomong mulu daritadi” jawabnya sambil memegang lehernya, (hhmm) aku ambil uang sepuluh ribu dan aku berikan kepadanya, “ini pak, saya adanya segini” sahutku sambil ku ambil tangannya, “sehat-sehat ya pak, semoga kita ketemu lagi” lanjut ku sambil bersalaman dan menepuk pundaknya, “iya, jangan pusing-pusing kamu” jawabnya dengan tegas, “iya pak, sehat-sehat ya pak” lanjutku sambil tersenyum.
Kutinggal dia dengan agak berlari kecil menuju theater satu tempat The Rings diputar, aku buka tas dan ku ambil dompet hitam yang di dalamnya terdapat tiket masuk, lalu setelah bertemu dengan seorang wanita penjaga karcis, aku bertanya dia selalu memandangku dari tadi.
“Mba tadi lihat saya sama bapak-bapak engga di pojok situ ngobrol”
“Ohh, oke deh makasih ya mba” jawabku
Tapi saat ku tengok kebelakang, dia menatapku sambil tersenyum...
Tuhan, jagalah dia sebagaimana engkau menjaga keluarga ku. Amin...