Negasiku?
Aku tidak tahu apakah ini terjadi pada semua orang. Tapi kurasa tidak apa-apa ya, jika ada fase diri yang tidak terlalu kita suka?
Itu yang akhir-akhir ini kurasakan. Setiap kali aku melihat foto-foto di fase diriku saat itu, ada perasaan tidak nyaman yang muncul dalam diriku. Begitupun ketika ada orang lain yang membahas fase itu. Mungkin pada saat itu banyak orang yang melihatku menjadi orang yang berbeda, tapi ya memang itu nyatanya. Waktu itu aku sedang berjuang. Rasanya hanya ada aku versus diriku sendiri. Di satu titik aku tidak ingin menjadi seperti itu, tapi ternyata, fase terbodoh, terbawah, dan terburuk itu pernah mampir dalam hidupku.
Aku merasa malu. Malu pada diriku sendiri karena pernah berlaku seperti itu. Malu pada orang di sekitarku yang sebelumnya sudah mengenalku, atau bahkan baru saja mengenalku di fase terburukku itu. Ingin rasanya aku meminta maaf pada semua orang bertemu dan berpapasan denganku di kala itu. Maaf kita tidak bertemu dalam versi terbaikku.
Sial. Lagi-lagi aku merasa tidak nyaman, menyesakkan dada.
Banyak memori yang terasa samar dan tidak terekam dengan jelas ketika aku berada dalam fase diriku saat itu. Entah itu karena pengaruh zat-zat kimia yang mempengaruhi neurotransmitterku saat itu, atau memang ada bagian dari diriku yang sebenarnya tidak ingin mengingatnya? Yang aku ingat pasti, aku benar-benar bukan diriku sendiri. Aku tenggelam dalam; sangat dalam, di lautan amarahku pada dunia. Aku merasa tidak perlu lagi menjadi diriku yang sebenarnya kukenal karena aku muak dengan segala label yang tertanam padaku saat itu. Aku menegasikan semuanya. Merah muda menjadi hitam, apa yang penting menjadi tidak penting, yang baik menjadi buruk, yang kujauhi malah kudekati, yang kusimpan serta merta kubuang jauh.
Riuh, keruh, jauh. Isi kepalaku saat itu.
Mengingatnya, membuat aku ingin mengejar waktu ke belakang, lalu memeluknya dengan hangat di masa itu. Aku ingin menenangkan dia, dan mengajak dia berjalan pelan menghadapi ketidaknyamanan yang banyak sekali tiba-tiba terjadi. Ingin aku merangkulnya erat dan membisikkan lembut padanya bahwa, “Segala yang terjadi tidak mendefinisikan dirimu. Yang terjadi di masa lalumu, itu tidak mendefinisikan dirimu. Cukuplah kamu dan keyakinanmu saat ini yang menguatkanmu. Marah pun tidak apa, tapi jangan biarkan rasa marahmu itu yang mengendalikanmu. Amarah hanya membawamu pada hal-hal yang menghancurkanmu. Sia-sia, sayang. Ingatlah bahwa kamu tetap dirimu yang layak mendapatkan banyak hal-hal baik di dunia ini. Bersabar sebentar, redakan, bukan melawan. Membalas kecewa dengan amarah hanyalah seperti menyiramkan air pada mobil listrik yang sedang dilahap api. Airmu menghancurkannya, amarahmu pun hanya akan merusaknya. Tetap di tempatmu, jangan pergi. Ya?”
Kini aku sadar fase itu pernah ada, tapi aku tahu, masa laluku tidak (perlu) mendifinisikan aku. Masa laluku tidak mengurangi nilai atas diriku hari ini. Aku memaafkan kamu, sosok negasi diri yang pernah singgah pada fase itu. Aku bersyukur pula pada akhirnya aku berhasil menemukan jalan kembali di tengah kacaunya isi kepala pada saat itu. Aku sadar aku sudah cukup dewasa untuk memahami naik-turunnya afek diriku tiga tahun yang lalu itu. Setidaknya, terima kasih sudah memilih meneruskan hidup meski deburan ombak Laut Goa Cemara tampak merayumu sore itu.
P.S thank you for make sure that I was alive at that phase, sissy















