Tiga Pilar Umat yang Nyaris Runtuh
@edgarhamas
Perbincangan dengan DR Fahmi Salim semalam begitu riuh dengan sudut pandang yang baru dan jernih. Ada banyak sekali ‘eureka’ demi 'eureka’ yang terlintas dan masuk ke alam pikiran. Sebenarnya kita hidup sangat dekat dengan sumber kemenangan kita, namun kitanya saja yang tidak sadar.
Umat ini selamanya tidak akan bisa bangkit jika tak adil membangun ketiga pilarnya dengan imbang. Pilar yang jika satu bagiannya berdiri lebih rendah dan rentan runtuh dibandingkan lainnya, maka bangunan itu tak akan kokoh.
Tauhid adalah pilar pertama. Energi utama yang membedakan kita dengan umat-umat lainnya. Singapore tidak bisa disebut lebih islami hanya dengan kebersihan dan keindahan kotanya. New Zealand tidak bisa disebut lebih beriman hanya karena ketertiban masyarakatnya. Tauhid melandasi semua pekerjaan, hatta ke perkara negara dan politik, sosial dan ekonomi.
Itulah mengapa di era reformasi, Amien Rais menyebut perjuangan umat Islam di sektor kemasyarakatan sebagai “Tauhid Sosial”, sebab inti dari tauhid adalah menggerakkan, bukan memperdebatkan. Membebaskan bukan mengekang dalam jumudnya pikiran, menyatukan bukan mengotak-kotakkan.
Pilar kedua adalah syari'at. Sebagai Ahlussunah wal Jama'ah, tentu kita tahu bahwa tauhid yang lengkap adalah 'Al Qaul wal Amal’ perkataan dan perbuatan. Tak sempurna Islam di hidupnya jika hatinya yakin pada Allah namun tangan dan kakinya tak mampu memanifestasikannya dalam gerak nyata.
Syar'iat itu ibarat perangkat untuk membumikan keadilan dan kebenaran. Sama sekali bukan alat untuk mendiskriminasi dan menekan manusia. Itulah yang membuat banyak orang tak siap dengan katalog hukum Islam. Tak siap karena mengira syari'at itu ngeri dan kusam, kuno dan menyusahkan, padahal Umar masuk Islam karena ayat ini, “Thaha, Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar engkau menjadi susah.” (Thaha 1-2)
Dan pilar ketiga adalah adab. Yang di sana Syaikh Mutwally Sya'rawi bilang padamu, “Sesungguhnya agama Islam adalah kalimat baik yang dikatakan dan akhlaq mulia yang dilaksankan. Jika kata-kata telah terpisah dari akhlaq, hilanglah dakwah.”
Pilar ini sedikit banyak nyatanya hilang dari kehangatan kita berdialektika. Aktivis dakwah saling menjatuhkan hanya karena beda gerbong. Saling mencela dan mengklaim paling benar hanya karena berbeda pendapat. Padahal yang diperdebatkan adalah masalah cabang, yang berbeda adalah hal-hal ijtihadi.
Adab hilang dari kehangatan hidup umat kita, sehingga orang-orang kemudian enggan berislam sebab melihat arogansi da'i-da'inya. Yang baru belajar Islam langsung membid'ahkan keluarga dan teman-temannya, yang pindah ke pengajian lain langsung mengira dirinya di atas awan bersama kebenaran sementara lainnya tidak. Inilah jika ilmu minus adab. Menjerumuskan dan menghancurkan.
Ketiga pilar ini; Tauhid, Syariat dan Adab, diinstal secara serentak oleh Rasulullah ﷺ pada generasi sahabat. Dengan pendekatan-pendekatan manusiawi dan fitrah. Tauhid kentara menciptakan kemenangan demi kemenangan, syari'at menuntun pada kemajuan cara pandang dan gaya hidup, dan adab melengkapi harmoni antara Umat Islam memang sudah majemuk sejak awalnya.
Kamu, mau berjuang meninggikan pilar yang mana? Mari bersinergi agar ketiganya tegak kokoh, dan bangunan kuat itu berdiri lagi menjadi guru bagi dunia.
Wallahu a'lam bishoab









