In English "build like it's already real, speak like it already matters"
In Indonesian "ngaji ngaji ngaji sudah siang"
-Maqbaroh Mbah Munawwir; dan Mas-Mas yang sepertinya sedang riyadhoh + puasa (mari berhusnudzon)

seen from United States
seen from United States

seen from France

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Singapore

seen from Kazakhstan
seen from China
seen from Italy

seen from Russia
seen from India

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Singapore
seen from Sri Lanka
seen from Taiwan
seen from Sweden

seen from Malaysia
seen from Sweden
seen from China
In English "build like it's already real, speak like it already matters"
In Indonesian "ngaji ngaji ngaji sudah siang"
-Maqbaroh Mbah Munawwir; dan Mas-Mas yang sepertinya sedang riyadhoh + puasa (mari berhusnudzon)
Berhentilah Belajar Agama
"Berbeda antara orang yang "baik" beragama dengan orang yang pemahaman agamanya "tinggi"."
Kalimat itu mucul dari Buya Yahya. Sebuah konfirmasi dari ahli agama tentang sebuah kerancuan beragama di era saat ini. Beliau mendefinisikan bahwa orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi--yang bisa menjelaskan banyak hal tentang agama, biasa menjadi penceramah misalnya, adalah belum tentu memiliki pengamalan agama yang baik.
Sedangkan orang yang baik agamanya adalah orang yang mempraktikkan amalan agama dengan tekun, meskipun tidak didasari dengan pemahaman yang terlalu dalam.
Dua jenis manusia ini kadang bisa menjadi dua individu yang berlawanan sebab seringkali motivasi beragama keduanya berbeda. Orang yang "baik agamanya" kadang berpikiran lebih konservatif tentang agama, bahwa itu adalah cara hidup yang praktikal, sedang orang yang berilmu tinggi kadang-kadang memandang sisi agama yang lebih abstrak dan teoritik; agama adalah objek belajar sebagai cara memandang kehidupan.
Buya Yahya tidak sedang menyimpulkan mana yang lebih baik, karena konteksnya adalah sedang menjelaskan tentang makna sekufu dalam pernikahan.
Orang yang berilmu agama "tinggi" jika bertemu dengan orang yang agamanya "baik" bisa jadi mempermasalahkan praktik-praktik yang tidak disandarkan pada pengetahuan yang tepat. Sebaliknya, orang yang baik agamanya bisa jadi kecewa dengan yang memiliki ilmu tinggi jika, misal, tidak rajin shalat, tidak disiplin membaca Al-Quran, tidak rutin berdzikir, dan lain-lain.
Keduanya salah, tapi yang terakhir akan jauh lebih dicela. Bagaimana mungkin berilmu tinggi tapi tidak beramal?
Mungkin orang awam akan kaget jika mendengar fakta bahwa di antara orang yang belajar agama secara mendalam lebih banyak yang "tidak baik" agamanya dibanding yang "baik". Ironi yang sudah cukup membudaya.
Di lingkungan Al-Azhar saja misalnya, sebagai salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia, kita bisa sangat mudah mendapati mahasiswa Indonesia yang tidak shalat shubuh apalagi tahajjud, tidak pernah mucul di masjid, terlambat shalat Jum'at, tidak pernah membaca Al-Quran, jarang membaca dzikir harian, dan lain-lain.
Mereka pasti tahu apa itu lima hukum taklifi: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Mereka tidak asing dengan kaidah-kaidah ushul fiqh, definisi-definisi istilah dalam ibadah, bahkan sumber-sumber dalil dan wajah istidlalnya. Mereka juga sudah biasa berbahasa Arab memahami secara umum teks Al-Quran, bahkan kitab-kitab tafsir, syarah-syarah hadits dan literatur para ulama'. Tapi itu dimensi teoritis. Secara fakta, praktik beragama adalah dimensi yang lain lagi.
Ini tentunya ironi. Sebuah kesalahan fatal yang terjadi di lingkungan para pembelajar agama.
تعلَّمُوا ما شئتم، فلن ينفعكم الله بالعلم حتى تعملوا.
Pesan salah seorang sahabat bernama Muadz bin Jabal begini, "Belajarlah sesuka hatimu, tapi ingat tidak ada yang menjadi bermanfaat kecuali yang engkau amalkan,"
Pesan ini seharusnya menjadi bahan renungan untuk pembelajar agama di era modern ini. Kita hidup di zaman di mana tuntutan tujuan belajar menjadi sangat duniawi: gelar, pekerjaan, atau jabatan. Mungkin karena itu entitas "ahli agama" tanpa "baik beragama" ini marak bermunculan di mana-mana.
Tentu saja pesan tersebut bukan hanya untuk pembelajar di kampus agama, faktanya diskusi di masyarakat umum juga sama, agama sebatas bahan perdebatan, praktiknya masih diabaikan.
Betapa sering masyarakat--seperti baru-baru ini, membahas hukum sesuatu tapi pada praktiknya tidak ada budaya yang terasa berubah.
Musik haram, tapi yang mendengarkan tetap mendengarkan. Zina haram tapi yang prostitusi masih tetap prostitusi. Khamr haram, tapi miras masih dilegalkan dan masih saja dinormalkan. Korupsi haram, tapi koruptor masih saja langganan diberitakan.
Di saat fenomena tahfizh Al-Quran di negeri ini mulai membanggakan, tokoh-tokoh agama populer diidolakan, prestasi sekolah-sekolah Islam mulai meninggi, kampus-kampus Islam mulai digemari, kita patut curiga, jangan-jangan Indonesia hanya akan menjadi lebih "faham" agama tapi tidak lebih "baik" agamanya.
Seandainya berilmu tanpa amal itu baik maka Allah tidak akan mencela bangsa Yahudi:
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ
"Apakah kalian memerintahkan manusia berbuat baik namun kalian lupa pada diri kalian sendiri sedangkan kalian adalah kaum yang membaca Al-Kitab? Tidakkah kalian berpikir?"
Rasulullah juga mengajarkan berdoa meminta perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat:
اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ منَ الأربعِ: مِن عِلمٍ لا ينفَعُ، ومِن قَلبٍ لا يخشَعُ، ومِن نَفسٍ لا تَشبعُ، ومِن دُعاءٍ لا يُسمَعُ
"Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari empat hal: Ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', jiwa yang tidak kenyang, dan doa yang tidak didengar,"
Sufyan Ats-Tsauri, salah seorang tabiin yang masyhur juga memiliki pesan yang jelas sekali:
اذهب فاطلب العلم... فإذا كتبت عشرة أحاديث؛ فانظر هل في نفسك زيادة فابتغِهِ، وإلا فلا تتعنَّى
"Pergilah menuntut ilmu. Jika engkau dapatkan sepuluh hadits, lihatlah; jika ada perubahan pada dirimu lanjutkan, jika tidak maka berhentilah belajar,"
Mari cek diri kita, berhenti belajar, dan mulailah beramal!
@audadzaki
Compound Jannah, 27 Mei 2024. Menjalani ujian hidup menjadi pelajar di Al-Azhar
"Kau tahu Nang, apa keistimewaan ilmu dibandingkan harta..?"
"Apabila kita memiliki harta kitalah yang akan menjaga harta tersebut, lain hal jika kita memiliki ilmu, maka ilmulah yang akan menjaga kita.." Sebagaimana penuturan Sayyidina Ali bin Abi Tholib.
"Teramat sulit untuk diluapkan, terlalu singkat untuk dirasakan, dan teramat hampa untuk dipertahankan. mungkin terlalu remeh pula untuk diungkapkan.
Semakin Jauh dalam berandai, semakin tinggi apa yang harus digapai. Jujur, ini bukan suatu hal yang mudah. Apalagi mengharap takdir indah dengan sebatas kepala menengadah. Aku takut jika nantinya hanya tahu bahwa bunga itu indah, yang pada akhirnya hanya bisa melihat ia dipetik orang lain dengan keadaan pasrah.
Dari kejauhan, terpancar indah perangainya. Dalam hayalan, kesejukan yang menyertainya. pada kenyataan, Hanya diri yang yang tak pernah menyadarinya. Bahwa kepantasan, telah membatasi diriku dan dirinya.
Sadar diri akan kekurangan, mungkin adalah langkah terbaik untuk memulai perjuangan. Bukan tak bersyukur atas semua yang diberikan. Namun mempersiapkan masa depan agar tak dipenuhi dengan penyesalan.
Aku memang gegabah ketika memutuskan, memang bodoh dalam menentukan pilihan, memang egois dalam menuntut keinginan. Akan tetapi aku yakin, selagi niat karena-Nya tetap dipertahankan, tujuanku kan selalu diliputi dengan kebaikan.
Aku tak tahu, apakah dengan mengharapkanmu, kebaikan itu akan terus menyertai tujuanku. Bahkan hingga saat ini, niat yang kupertahankan hanya untuk-Nya saja masih dipenuhi dengan lika-liku.
Ya Rabb.... Aku memang belum bisa Mencintai-Mu sepenuhnya. Aku memang belum mampu memberikan hatiku untuk-Mu seutuhnya. Tapi aku yakin cinta-Mu padaku tak kan pernah pudar selamanya.
Enkaulah Sang Maha Cinta dan Sang Pemberi Cinta. Dengan agungnya kasih sayang-Mu yang masih belum bisa kupahami karena sangat hinanya kebodohanku, biarkan kebaikan terus menyertai tujuanku tuk bisa bersamanya. Jadikan rasa cintaku padanya, menjadi perantara untuk sampai pada cinta-Mu yang sesungguhnya....
Ku relakan rinduku dengan kepayahan tuk menggapai Cinta-Mu. Maka limpahkan selalu tujuan ini dengan karunia-Mu. Ku tahan sesakit apapun luka tuk mendapat ridho-Mu. maka bimbing aku tuk memilih serta melewati banyaknya jalan terjal tuk sampai pada-Mu. Dan perbolehkan diri yang hina ini untuk menyisipkan satu nama disela-sela do'anya kepadamu. dan jadikan nama itu bagian dari perjalanan terindah tuk sampai pada cinta-Mu...
-
Untukmu yang sedang membaca tulisan ini, Ku tak tahu apakah kau merasakan perasaan yang sama atau tidak. Namun, ku harap ini bisa menyampaikan bagaimana rasa bahagia karena telah mengenalmu. walau sebatas satu topik, bahkan seuntai kata pun yang telah menjadi kenangan sederhana.
Aku tak berambisi tuk menjadikanmu milikku, tapi aku akan berjuang menjadi manusia yang layak tuk bersanding denganmu. Jikalau memang dimasa depan, kita kan bertemu di titik kebahagian yang sama.
Walapun juga tak menutup kemungkinan kalau kita akan bertemu di titik kebahagiaan yang berbeda. bagaimana pun juga, apapun yang terjadi adalah jalan terbaik dari-Nya untuk kita.
Yang bisa dilakukan sekarang adalah menjalani proses terbaik, tuk mendapatkan hasil yang terindah. Dan tak ada proses terbaik tuk bisa bersamamu kecuali dengan jalan yang telah Allah SWT tetapkan padaku.
Dan yakinlah. bahwa menjauh, adalah cara terbaik tuk menjaga".
Terima kasih telah menjadi 26 Agustus yang paling berharga...
Bila luka ini membuat jarakku dengan-Mu menjadi dekat, maka bantu aku untuk kuat. Terima kasih ya Rabb, Engkau masih berkenan mengizinkanku untuk pulang kepada-Mu. Sebab bila tidak, siapa lagi yang akan menerimaku dengan paling baik, paling menenangkan, paling membahagiakan selain Engkau? Siapa yang akan menguatkanku?
Panorama Masa Ujian
Ini, hari pertama anak anak ujian lisan di akhir tahun.
Memulai dengan semangat yang begitu membara. Banyak hal yang harus memaksa untuk mendekap kenangan dan foto foto lama.
Kadang, menemukan mereka tertidur pulas dengan posisi buku yang menutup wajah sayupnya. Melingkar dengan tiang tiang masjid, dan menjadikannya sebagai guling dengan udara malam. Terkadang, harus membangunkan mereka yang tergeletak lelah di meja sebelah kamar mereka, beralaskan selimut dan berbalut jaket, menghangatkan.
Menjelang malam, bukan malah sepi. Malah semakin ramai. Karena mereka sadar, terbangun, lalu menunaikan shalat hajat bahkan tahajjud, sepertiga malam. Menengadahkan tangan, meminta seribu dan berjuta kemudahan untuk bisa menjawab pertanyaan yang telah disusun penguji lisan esok harinya.
Dengan lantang, mendengar hafalan bait tiap bait dari hadits dan mahfudzat, atau bahkan materi pelajaran yang akan diuji esok hari. Mereka sungguh tidak tahu apa yang akan ditanya. Tetapi dengn kesungguhan inilah menjadikan malaikat semakin tak tega jika tak membantu untuk memberi syafaat esok harinya.
Di sisi lain, di sela sela mereka belajar. Rasa lapar menghampiri, rasa kantuk menghantui. Ada yang menyibukkan untuk membersihkan rayon, baik hanya sekadar menyapu halaman, atau membersihkan dedaunan dan ranting berjatuhan. Ada pula, kelompok yang memojok di pinggir dapur, demi seseruput mie kuah yang diseduhnya. Lezat sekali, meski hanya berbekal mie yang tak tahu dimasak dengan kompor atau hanya direndam air panas, dan asal matang menurutnya.
Mereka masih semangat. Apa sebab bisa semangat, Nak? Berbagai alasan, bukan hanya musabab kopi yang diteguk saat belajar malam atau setelah makan. Adalah niat dan kesungguhan tiap mujahid dan mujahidah yang akan berperang melawan kebodohan.
Kalian hebat! Benar benar, baru menemukan perjuangan seorang santri, adalah saat menempa perjalanan panjang untuk sebuah ilmu yang harus diamalkan kelak. Semoga ujian kalian, baik itu materiil dan non-materiil selalu dimudahkan. Dimanapun kalian berpijak, jalan bagi seorang penuntut ilmu, akan dimudahkan menuju Syurga-Nya. Semoga besok bukan hanya dapat menjawab ujian. Tapi, selalu menjadi anak yang baik, anak yang bermanfaat, berbakti kepada kedua orang tua kelak.