Sebelumnya aku mau nanya, kalo kalian lagi deket sama seseorang, menurut kalian penting ga status tuh? atau kalian tipe yang jalanin aja dulu, liat kedepannya gimana? wkwkwk.
Kalau bagi aku pribadi, status itu penting. Pentingnya pake banget kaya martabak "spesial" karetnya 2. Karena dari status aku bisa menetapkan batasan yang mau aku buat dengan orang tersebut. Tanpa ada status apa bedanya orang yang kita suka itu dengan teman kita yang lain? Tanpa ada status apakah kita punya hak manggil sayang? Tanpa ada status apakah kita punya hak cemburu? Tanpa ada status apakah kita berhak menuntut orang tersebut membalas perasaan kita?
Tidak bisa dielak lagi, kalau kita suka sama seseorang, pasti ada perlakuan "spesial" yang kita kasih ke orang tersebut kan...
"Tapi tanpa ada status kita bisa apa?"
"Bisa uring-uringan kak yang ada..."
Aku ga bilang kalo kalian yang tim jalanin aja dulu itu salah/gimana.. Cuma agaknya kalian perlu pikir ulang baik-baik sama partner kalian itu.. wkwkwk (saran aja ini mah, ga diikutin juga gapapa)
Ya itulah sekilas intro dari aku sebelum kita masuk lebih dalam ke cerita kali ini hehe. Dari intro tersebut pasti kalian udah bisa tebak status ku sekarang apa wkwkwk. Kalo kalian mikir aku single tapi lagi dalam fase hubungan tanpa status atau zaman sekarang singkatannya "HTS" kalian hampir benar ya ges ya, tapi masih kurang tepat...
Status ku sekarang single dan baru selesai dari HTS wkwkwkwk yeayyy tepuk tangann (prok prok prok). Masih dalam proses healing guys aku ni, jadi salah satu cara untuk membantu proses healing ku adalah ikut challenge nulis selama 30 hari dengan topik yang berbeda setiap harinya dan ini adalah tulisan pertama ku hehe.
Jadi gini..... di tahun kemarin aku dekat dengan 2 cowo. Tentunya tidak dekat di saat yang bersamaan yaaa, saya ni setia garis keras (anjay wkwkwk). Sama cowo 1, pdkt agak lama, tapi komunikasinya buruk dan aku merasa hubungannya ga kemana-mana, disitu-situ aja.. Aku merasa kita pdkt tapi aku masih kaya ga tau apa-apa tentang dia. Jadi aku mencoba berani pastikan ke dia. Akhirnya ku keluarkanlah kartu:
"Kita ini sebenarnya apa?"
Tapi jawabannya agak membuat aku kecewa, kaya apa yang kami udah lakuin rasanya main-main aja wkwkwk. Pandangan tentang prinsip mencintai seseorang bagi aku dan dia beda. Dia ga bisa mencintai aku dengan cara yang aku ingin dan butuhkan (mungkin bagi dia aku pun begitu). Jadi Karena komunikasi dari awal sudah buruk.. tanpa omon-omon aku langsung cut off.
Selang beberapa hari, aku keluar jalan sama temanku, ga direncanakan, kita keluar jalan secara spontan (uhuyyy). Dari jalan itu ada temannya temenku yang ingin kenalan sama aku. Kita sebut dia cowo 2. Sebenarnya aku tipe orang yang susah buka hati, tapi temanku meyakinkan "Udah saff gapapa, dicoba aja dulu. Kayanya orangnya baik..."
Dengan hati yang masih sedikit berat (berat karena dia orang baru dan aku sama sekali ga tau apa-apa tentang dia), pada akhirnya aku mengiyakan. Komunikasi berjalan lancar pada awalnya, kita ketemu pertama kali dan dari pertemuan tersebut obrolan kita cukup nyambung. Tapi ada satu hal yang aku agak concern "Merokok". Maaf banget sebelumnya nih cowo-cowo perokok yang tersinggung baca ini, tapi jujur aja saya ga kuat sama sekali dengan asap rokok.
Hal yang buat aku agak concern itu sudah aku coba komunikasikan dengan baik dengan dia (aku ngerasanya si ya), aku udah berkali-kali bilang kalo aku ga oke, tapi dia bilang akan berhenti. Jadi aku coba percaya omongannya itu. Tanpa basa-basi dan berdasarkan pengalaman dari hubungan sebelumnya aku coba tanya niat dia dari awal itu apa? Apakah benar-benar tertarik atau cuma main-main aja? Lalu dia bilang dia tertarik sama aku.
Dari situ aku mulai coba agak terbuka sama dia, tapi malah kesannya respon yang dia kasih seperti "ga mau tau". Karena di beberapa obrolan aku merasa kami masuk, aku coba tolerir hal tersebut sambil nego pelan-pelan. Tapi beberapa kali ku tolerir dan komunikasi, dia ga berubah sama sekali. Statement ku dari awal yang ga oke kena asap rokok aja, masih tetap dilakukan. Lalu selang 1,5 bulan ternyata komunikasi kita ga sebagus seperti di awal dan aku merasa dia menjalin hubungan ini hanya untuk memenuhi dopamin saja. Jadi dengan cowo 2 ini, karena komunikasinya ga seburuk cowo 1 (walaupun masih tergolong buruk yaa wkwk), aku coba sampaikan beberapa hal yang buat aku akhirnya memutuskan kita harus mengakhiri HTS ini dan ga bisa lanjut. Jadilah saya single seperti sekarang dehhh hehehe. Begitulah Cromboloninya (read: kronologisnya) guys..
Sebenarnya kembali single dan tanpa ada orang yang deketin tuh ga ngenes-ngenes banget si menurutku, rasanya lonely but free at the same time. Cuma kadang ada momen aku kangen. Tolong di bold ya, bukan kangen orangnya yaa, tapi kangen momen "butterfly in my stomach" dan kangen ekspektasiku terhadap orang tersebut, kalau suatu saat dia akan berubah sesuai dengan apa yang aku harapkan. Padahal mah kalo udah habit ga bakal bisa diubah ya ga? wkwkwk.
Selain rasa itu, ada satu hal yang bikin aku kadang stuck sama proses healing ini. Pikiran tentang:
"Kenapa aku kok diperlakukan seperti ini sama dia? Salah ku tuh apa? Apa aku terlalu banyak menuntut? Apa aku ga layak ya ceritanya untuk didengar?"
Tapi aku mencoba berpikir lebih dalam dan masih mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu semua bukan salah siapa-siapa. Dia sifatnya memang begitu dan memang kami ga cocok aja. Karena kalo kata tulus hubungan itu harus:
"Jangan cintai aku apa adanya jangan
Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan"
Jadi memang perlu "nuntut" dalam hubungan. Nuntut ga selalu memiliki arti yang negatif, karena dari nuntut kita dan pasangan kita bisa sama-sama melangkah maju ke masa depan, pribadi, bahkan menciptakan keluarga yang baik.
Mungkin sampai sini dulu aja kali ya aku ceritanya, ga nyangka bakal sepanjang ini wkwkwk. Oke guys, see you on another topic!
Jadi gimana menurut kalian pentingkah kejelasan status? atau masih mau tetap jalanin aja dulu?