date: Fri, Feb 10, 2017 at 11:49 AM
aku memutuskan untuk menulis surel ini meski aku belum tahu apakah nantinya akan kukirimkan atau tidak. maaf pagi tadi aku tergesa meninggalkanmu yang baru saja bangun tidur. tadinya justru aku ingin segera pergi sebelum kau sempat membuka mata. aku tak mau menjadi perempuan yang menjengkelkan, pergi tanpa pamit dan permisi setelah semalaman mengganggu kenyamanan waktu istirahatmu. walau sebenarnya sudah, ya?
itu malam yang menyenangkankan sebenarnya, -iya malam itu. kau tentu ingat, bukan?- kecuali rasa pengar yang mengukung kepala juga perut yang terasa sangat tidak menyenangkan dari semalam hingga sesiang ini.
i’m not that drunk, actually. i’m just… ummm… so tired. no.. it’s not about you, of course. semalam aku hanya menenggak lima shot jager meister. tidak cukup banyak untuk membuat mabuk. sekadar untuk bersembunyi dari sepi yang datang berkali.
apa kamu pernah merasa begitu kesepian, A? kau sudah berusaha sekuat tenaga untuk meraih apapun yang bisa kau capai, tapi setelah mampu mendapatkannya kau tidak merasakan apa-apa. tidak ada rasa puas apalagi bahagia. atau suatu kala saat kau sudah menenggelamkan diri dalam obrolan-obrolan dan canda bersama orang-orang di sekitarmu, tapi setelahnya hanya ada hening yang sama banyaknya. tertawa tidak lagi menjadi pesta perayaan yang bisa meramaikan suasana hatimu.
lalu aku mulai beranjak dari ingar bar. segera memesan taksi tanpa tahu hendak ke mana menuju. kemudian satu-satunya rumah yang ada di dalam kepalaku adalah kamu. maaf aku mengganggu tidurmu malam itu. kamu terlihat sangat kusut dengan kaos polos biru yang sudah kumal dan celana pendek berwarna hitam itu. kamu selalu memakai baju itu, kau tahu?
“aku pinjam kamarmu, aku sedang mabuk. tolong jaga aku. jangan berbuat yang tidak-tidak, ya, jika aku tertidur,” kataku sesaat setelah kau membuka pintu. sejurus kemudian, tanpa perlu bertanya ini itu kau segera menuntunku menuju kamar. menutupi tubuhku dengan selimut berbahan beludru. itu adalah hal yang selalu aku suka darimu. kau tak pernah menghakimi. mempersilakan tanpa banyak pertanyaan.
dan aku mulai memanggil namamu. kau tak pernah tahu bahwa aku selalu butuh kamu. aku terlalu pengecut bila berkata jujur, sebab aku cukup tahu diri untuk mundur. aku bukan perempuan yang pantas untuk seseorang sepertimu. maka, dianggap sebagai teman yang akan selalu kau jaga saja sudah merupakan suatu kebahagiaan. aku ingin segera memelukmu saat itu.
namun, kau segera meraih tubuhku. memapahku dengan hati-hati menuju kamar mandi. kau memijat lembut leherku, berharap aku dapat memuntahkan isi perut yang sedari tadi membuatku mual. kau tak pernah tahu, bahwa rasa mual itu berasal dari ragu dan takut yang bergumul menjadi satu. berharap aku dapat meraihmu dalam pelukku.
hingga kemudian aku tak lagi berpikir apa yang akan terjadi. kuberanikan diri untuk mendekati wajahmu.
“cium aku,” kataku nekat.
lalu hanya ada kau yang mematung dan terpaku. aku hampir berlari demi menanggung malu. i’m a bit scared and worried. goddamit! what if you think i am a slut? hah?
lalu kau memecah keheningan.
“kenapa baru sekarang?” katamu pelan.
“karena dalam sadarku, aku tak berani mencintaimu.”
A, di mata rindu kita serupa. sepasang cinta yang saling menanti untuk menyapa.
* saving a draft allows you to keep a message you aren’t ready to send yet.