Awal Hitam Itu Muncul
Pagi ini, Audy membuka mata dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Kalau boleh jujur, Audy tidak ingin melihat pagi, ataupun menghirup udara pagi lagi. Ia menatap kalender sambil menghela nafas. Ya, masih awal Juni dengan matahari yang mulai terik masuk ke jendela kamarnya, namun baginya hari ini adalah di mana awan hitam itu muncul, tidak bahkan hari ini akan ada badai.
Dengan tubuh kurusnya, Ia mencuci muka lalu menatap wajahnya di cermin. Andai cermin itu bisa berbicara, Ia mungkin akan berbicara bahwa wajahnya sangat berantakan. Kantung mata hitamnya terlihat jelas di kulitnya, bibirnya pucat, mata sembab akibat air matanya yang tidak kunjung berhenti hingga Ia tertidur namun Ia mencoba merapikan rambutnya yang berantakan, sambil mencoba tersenyum dan mengatakan dalam hati
“hari ini pasti bisa aku lewati”.
Audy yang dikenal sebagai gadis riang kini berubah menjadi gadis pendiam dan menjadi pembohong ulung. Ya, hari ini Ia kehilangan dunianya. Seseorang yang Ia nomor satukan, Ia banggakan dan Ia cintai melangsungkan pernikahan dengan wanita yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun. Dunia yang Audy banggakan adalah Tian.
Tian berhasil mengambil hati Audy yang tertutup untuk memulai hubungan dengan laki-laki namun di waktu yang salah. Sebenarnya Audy sudah mengira hal ini akan tiba, dan Audy pun sering kali meminta Tian untuk pergi, namun Tian tidak lakukan. Tian lebih memilih meninggalkan jejaknya dengan mengambil alih isi hati Audy dengan caranya sendiri.
Audy kembali masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia duduk dan tidak membuka semua sosial media yang Ia miliki. Audy dikenal juga aktif di sosial media, membagikan segala kebahagiaan yang Ia punya, menulis bahagia yang Ia punya dan hari ini Ia menghilang. Ia memilih melamun, membaca surat dan puisi yang Tian berikan.
“Tian brengsek” ucap Audy dengan suara bergetar dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.
Ponsel Audy terus berdering, tampak dilayar nama Taka dan Cika yang khawatir dengan keadaan Audy. Namun tetap saja, Audy hanya menunggu pesan dari Tian. Audy kembali menatap kosong jendela kamarnya
“Mana mungkin Tian memikirkan ku dihari bahagianya” gumamnya.











