Seni lahir dari keresahan hati, dan sekarang aku sedang resah. Pada bumi, pada tujuan, pada Tuhan, pada diriku sendiri._
i don't do bad sauce passes

★
wallacepolsom
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

No title available

Kiana Khansmith

@theartofmadeline

Love Begins
Cosimo Galluzzi

tannertan36
AnasAbdin

titsay
Cosmic Funnies
trying on a metaphor
Misplaced Lens Cap

roma★
will byers stan first human second

oozey mess
ojovivo

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Colombia
seen from Australia

seen from Australia

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Kenya
seen from Poland
seen from United States
@akusuciii
Seni lahir dari keresahan hati, dan sekarang aku sedang resah. Pada bumi, pada tujuan, pada Tuhan, pada diriku sendiri._
Puan dalam bayang
Hai kamu, aku adalah perempuan yang mungkin tak akan pernah kau selami kehidupannya, pengagummu dalam bayang. Lewat ketulusan hati, aku memuja binar mata indah serta paras rupawanmu. Aku terlalu malu untuk sekadar menorehkan namamu di sini, dan terlalu takut untuk berharap mengukir aksara tentang kisahmu denganku.
Sudah lima tahun ternyata, aku menetap dalam kekaguman yang paling sunyi. Inilah kali pertama aku jatuh hati pada seorang pria dengan keteduhan setulus ini.
Aku ingin merawat sebuah kisah yang mungkin hanya akan menjadi puan kenangan di dalam sini, terkunci rapat dalam ruang memoriku sendiri. Tuhan, bisakah dalam sekali kehidupan ini, aku diizinkan merasakan bagaimana mencintai pria bermata sipit itu seutuhnya?
Angan Dalam Mimpi
Di hari yang kutitipkan tanpa suara, aku melangkah anggun, menyusuri jalan yang selama ini hanya berani kutemui dalam angan. Setiap langkah terasa ringan, seolah semesta ikut menuntunku menuju satu tujuan, menemuimu di pelataran pernikahan kita.
Kau berdiri di sana dengan tampannya, mengenakan senyum yang tak mampu kusebut sederhana. Ada haru di matamu, ada bahagia yang nyaris tumpah, seakan Tuhan sedang memperlihatkan kepadamu keindahan yang Ia ciptakan khusus untukmu. Ya, aku.
Tatapanmu tak pernah lepas dariku. Dunia di sekeliling kita menghilang perlahan, menyisakan hanya detak yang saling memanggil. Lalu dengan suara yang tenang, kau berkata, “Hold my hand, you are mine.”
Saat jemariku berada dalam genggamanmu, aku tahu, aku telah sampai di rumah.
Betapa bahagianya aku menjadi bagian dari hidupmu, menjadi tempatmu kembali ketika malam terasa terlalu dingin dan sunyi terlalu panjang. Ketika dunia tak lagi ramah, kau mencari hangat itu. Itu ada padaku.
Aku ingin mimpi malam ini tak akan berakhir. Aku ingin tinggal lebih lama di dunia yang kubangun sendiri, tempat kita berjalan tanpa takut kenyataan memanggil pulang.
Biarkan aku lupa cara terbangun, sebab di sana aku memiliki ruang untuk menemukanmu, dalam angan yang tak pernah kudapatkan jika aku terjaga.
Rumah, 1 maret 2026
Musuh terbesar manusia ialah pikirannya sendiri, dan aku benci itu, sebab; Terlalu banyak berperang dengan pikiran ini tentang kamu, yang menjadikan diriku lemah dengan itu.
Menganalisis seribu artikel mudah kupahami, namun jika menyangkut dirimu, ke mana perginya akalku?
Selamat pagi sayang yang belum dalam genggaman
Sarapan apa kita pagi ini?
Secangkir cinta hangat,
Dan manisnya senyumanmu,
Atau harapan yang belum kudapat, lagi hari ini?
Seperti apa rupa Yogya?
Aku ingin bertemu di lorong-lorongmu,
melihat mata yang hangat tanpa kata,
mencium aroma khas yang hanya kau punya,
dan senyum di sudut jalan penuh doa.
Joko Pinurbo bilang dalam kalimat sajaknya:
"Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan."
Yogya, aku mencintaimu bahkan sebelum bertemu,
karena kau lebih dari sekedar ruang
Kau rindu yang belum sempat ku tempati.
Rumah, 12/08/2025
Kau seperti dosa yang candu kulakukan, dan tak akan pernah ku sesali.
Ku relakan jiwaku bersekutu denganmu, hingga terlena dalam raga yang membuai.
Akan ku berikan mata ini agar kau tau, aku terperangkap dengan setiap senyummu, setiap tatapanmu, setiap pesonamu.
Akan ku berikan nafas ini agar kau tau, helanya menjadi rahasia enggan kusembunyikan di balik senyap.
Akan ku berikan bibir ini agar kau tau, seribu kali namamu terucap dengan indah.
Akan ku berikan tubuh ini agar kau tau, nadi yang hanya berdenyut demi memelukmu dalam angan.
Dalam diam yang berdesir,
tahukah sanubariku tersembunyi
di balik keheningan?
Aku ingin, ingin dirimu.
Aku mengagumi laut, tapi sekarang aku juga menyukai hujan. Tidak ada alasan di balik itu.
Dan aku baru sadar, ternyata aku menyukai airnya. Tenang, dingin, mengagumkan dengan caranya masing-masing, sama dengan kamu, far.
Kamu seperti air itu; aku bisa menyetuh, merasakan, mengagumi dengan keindahan kamu. Namun, tak memiliki bentuk lebih dari itu.
Aku pernah mengagumi kamu, tapi sekarang aku menyerah mengagumi kamu.
bukan apa-apa, hanya saja aku perlu mengikis bayang sedikit demi sedikit yang belum sempat dimiliki.
Bukan apa-apa, aku lelah memendam rasa sendirian.
Dan aku berharap, kita akan tetap menjadi dua kubu asing yang tidak akan saling mengenal satu sama lain.
Hujan membawa kenangan, bahkan cerita itu belum sempat di mulai. Dan dalam heningnya hujan, cara melupakan paling tenang adalah berdamai dengan hati.
Jejakku merasuk melangkah ke dalam bayangmu, menembus tirai indahnya dirimu, dengan ingin yang terlena. Dirimu jatuh, tak berdaya.
Akan ku raup hatimu, kubuai egomu dengan belaian lembut, memabukanmu dengan bisikan-bisikan kata rayuan. Serta, lirikan menghayutkan jiwa, mengarahkanmu ke dalam lautan hasrat yang dalam dan tak terkendali.
Sampai kau terjerat, tunduk dengan cinta
yang ku miliki, hingga kau akan gila dengan
hal itu.
Bagaimana rupa hatimu?
Apakah itu lembut? Aku tak pernah tau. Bisakah aku menembus dinding hidupmu? Dengan cara apa aku menyatu denganmu?
Atau haruskah aku menjeratmu dengan seribu satu bisikan rayu?
Apakah itu akan membawaku kepadamu?
Aku sendiri tak pernah tau.
Parasmu amat menggangu akalku,
Langkahku yang pasti kini buyar oleh
jejakmu.
Lalu bagaimana lagi aku menghindar?
Jika seluruh isi imajinasiku penuh dengan
Bayangmu.
Di antara hiruk-pikuknya pelabuhan waktu,
kita belum juga berlabuh, bahkan sampai
layar itu berlalu.
1.495 hari mengagumimu
Hening yang bergemuruh
Senyap yang riak
Dan rasa yang tak pernah sampai
Pelukan sunyi
Dalam diam, ia memeluk dunia, bukan dengan kata, tapi dengan hati yang penuh.
Matanya tak menangis, namun sunyinya berbicara, seperti doa yang tak terucap.
Tak butuh kata untuk mengerti, karena terkadang, pelukan sunyi lebih berarti.