Mulai hari itu aku jadi tau, setiap orang punya kepentingannya sendiri. Diam diam bergerak dalam kehidupannya yang semu. Berkoloni dengan mereka yg dianggapnya satu pemikiran, jika suatu saat berbeda maka dia pindah koloni lagi. Begitu terus sampai kepuasannya terpenuhi, entah sampai kapan.
Hari ini temanmu, bisa jadi besok pagi tidak lagi jadi temannya jika kamu dianggap sudah tidak bisa menjadi katalis dlm mencapai kepentingannya. Miris? bagiku iya.
Ironisnya aku baru tau. Ah bodohnya aku, mereka hanya mencari aman untuk kepentingan pribadi.
Lalu aku? “Bak sisa balon yang dipegamg erat-erat.”
Seketika rasanya aku ingin bisa bercakap langsung dengan Tuhan, lancangnya aku yang penuh dosa ini. Masih saja memohon di beri jalan keluar untuk lepas dr genggaman sedangkan blm sepenuhnya menuruti Perintah Tuhan.
Jika Secangkir Kopi, mungkin aku sudah pada tegukan terakhir. Tiada lg rasa pahit yg bisa dinikmati. Sudah habis hanya ampas sisanya.
Jangankan rasa manis di sela-sela pahitnya kopi, pahitnyapun sudah tdk bisa ku temukan lagi...

















