Islam bukan hanya tentang ketaatan, Islam juga membenarkan pembangkangan jika perlu.
Seperti ketika dana umat dipaksakan untuk mengelola MBG, misalnya.
hello vonnie
occasionally subtle
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
𓃗
Misplaced Lens Cap
TVSTRANGERTHINGS
Sade Olutola
Today's Document

Discoholic 🪩
YOU ARE THE REASON

roma★

Love Begins
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Cosimo Galluzzi
Jules of Nature
🩵 avery cochrane 🩵
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
noise dept.

No title available
No title available

seen from Malaysia

seen from France
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Singapore

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Russia
@alkhwarizmi
Islam bukan hanya tentang ketaatan, Islam juga membenarkan pembangkangan jika perlu.
Seperti ketika dana umat dipaksakan untuk mengelola MBG, misalnya.
Bikin story niatnya guyon, malah ada temen yang nanya maksudnya "logika kebijakan muter muter itu gimana?"
Oke, contoh.
Ada kebijakan untuk memberikan makan bergizi gratis untuk rakyat dengan kategori tertentu.
Diterjemahkan oleh pelaksana dengan cara beli kaos kaki anggarannya milyaran, beli motor listrik anggarannya triliunan.
Makanannya? Ada yang dikasih Lele mentah cok.
Itu logika nya udah muter kejauhan. Masih kurang. Simak aja itu Bahlil sama Pigai. Logika ente ikutan muter.
Alhamdulillah,
Sepanjang 2025 udah mulai bisa nabung lagi, jajan juga udah mulai diatur dikurangi.
Bismillah, Insya allah tahun depan 2026.
Alam Takambang Jadi Guru
Begitulah pepatah yang cukup tersohor di Sumatera Barat, menunjukan bahwa kehidupan dan Budaya Minang sangat erat kaitannya dengan alam, sehingga dijadikannya Guru.
Sang 'Guru' kini mengamuk dalam diam, memuntahkan semua yang selama ini membuatnya muak.
Pertanyaannya jelas, pantaskah disebut bencana alam jika pola nya berulang? Sedangkan banjir dan longsor itu bukan fenomena, melainkan akumulasi dari kesalahan dan pembiaran.
Apa kabar mitigasi? Apa kabar kebijakan? Izin tambang? Penebangan liar? Pembukaan lahan secara brutal?
Semoga Lekas Pulih.
Hari yang normal, satu minggu yang lancar, dan diantara kerumitan kasus, kebijakan birokrasi, dan lain-lain, Presiden ditokohkan sebagai pahlawan, LAGI.
Tuhan, kenapa aku terlahir WNI?
Bukan sedih berkepanjangan, bukan juga kecewa yang tidak terlampiaskan.
Yang paling berbahaya dari patah hati adalah, sesuatu yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba merubahmu menjadi manusia mati rasa.
Perasaan bahagia adalah jebakan, percaya pada cinta adalah dosa besar.
Yang gratis namun tak pernah aku dapatkan adalah kabar darimu.
Setiap hari kita berkutat pada segala macam kegelisahan hidup yang kita keluhkan.
Tetap saja kita tidak mau mati.
Bagaimana mungkin perasaanmu padaku bisa masuk di hati, sedangkan rupa mu tidak masuk di akal.
Jadi belakangan lagi lumayan rame kisruh di internal KADIN, teruslah muncul Bahlil sebagai "Superhero". Damailah itu dua orang yang ribut-ribut disana, dengan semudah dan secepat itu.
Bagus ga? Secara cerita moral untuk anak sekolah sih bagus.
Tapi kalau dilihat dari trend politik di Indonesia beberapa tahun belakangan, jadi muncul pertanyaan bercabang.
Kenapa sih harus tiba-tiba ribut? Mau nutupin isu yang mana?
Pilkada yang sempat semrawut? Koruptor 300T didenda goceng? Ronald Tanur dihukum ringan karena inisiatif nganter korbannya yang sekarat? Atau FUFUFAFA? yang mana?
Kenapa harus Bahlil yang muncul? Dia kan menteri, Jokowi yang Presiden aja intruksinya supaya diselesaikan secara internal KADIN, lah ini ujug-ujug menterinya muncul, menteri ESDM pula, yang notabene kecil kemungkinannya untuk bersinggungan secara langsung dengan KADIN, kecuali emang ada kepentingan politik. NAHH.
Menarik bukan politik-politik tai kucing ini?
Halo sayang,
Kenapa kamu selalu menjauh, kemana tujuanmu sebenarnya?
Kemarilah, tidakkah kamu merasa bahwa aku selalu dekat denganmu?
Apa yang kamu kejar hingga begitu kerasnya? Apa yang ingin kamu buktikan? Pada siapa kamu ingin membuktikan? Ingat kamu itu hanya milikku.
At-Takwir : 26 ~ Qaaf : 16 ~ Al-Baqoroh 156
Dunia terlalu berisik jika semuanya kamu dengarkan.
Sementara Ndarboy dulu aja.
Ngeliat kondisi politik sekarang, kayak ngeliat bocah tantrum yang lagi plin-plan.
Kalo mau tarik mundur agak jauh, soal UU Threshold ini, sebenernya kan udah dipaksakan sejak jaman 'IBU' menjabat sebagai presiden, tapi alhamdulillah gagal.
Efeknya, kita masih bisa lihat tuh, Raja Dangdut Rhoma Irama sempet mengklaim bakal maju jadi capres, meskipun akhirnya gagal.
Singkat cerita, maju ke 2017, menjelang periode kedua kepemimpinan Pakde, akhirnya UU Threshold berhasil diangkat lagi sampe ketok palu.
Banyak pakar politik mengecam hal ini, tapi waktu itu rakyat adem ayem aja kan, padahal itu titik awal dari hal yang kita ributkan hari ini.
Pada 2017 itu, pengusung aturannya yaa Partai si 'IBU' dan koalisinya yang posisinya lagi OP berkat sosok Pakde, meskipun kata si 'IBU', kasian deh Pakde kalo ga ada partai merah ini.
Dan apa yang terlihat sekarang adalah perwujudan dari plin plan yang saya maksud.
Temen temen yang ikutan protes, dan keras di sosmed. Bagus, teruskan. Tapi pastikan posisi kalian benar, secara keberadaan aturan atau UU, kalian lebih mendukung adanya Threshold yang dulu sempet ditolak, apa sebaliknya?
Karena aturan soal boleh atau tidaknya mencalonkan diri sebagai pejabat, sudah jadi bola panas sejak orde baru, cuma trendnya aja beda-beda.
Sekarang kelihatan parah banget, seolah indonesia mau hancur, itu karena sosmed dan influencer yang ikut-ikutan rame aja, percayalah, baca buku sejarah, dulu jauh lebih parah.
Eitss, bukan berarti menyepelekan yaa. Intinya, kita jangan sampe terlalu membabi buta.
Jangan sampe teriak, aturan diacak-acak, aturan dipaksakan, tapi belum paham, sebenernya aturan apa yang sedang dipaksakan?
Mari bersikap, dan bertanggungjawab atas sikap itu, jangan cuma ikut-ikutan tanpa paham konteks.
Ingat Wiji Tukul pernah bilang :
... hanya ada satu kata, LAWAN !!!
Tapi ujung-ujungnya beliau hilang juga kan?
Waktu anak masih kecil,
Rewel, orangtua nya mengambil jalan yang mudah, udahlah kasih jajan atau hp aja yang penting tenang, dan anteng.
Waktu anak masih kecil,
Datang waktunya ibadah, si anak masih agak sulit dan males buat ibadah, orangtua nya memilih jalan yang mudah, udahlah gapapa, masih kecil juga anaknya, belum punya kewajiban.
Pas anaknya udah gede jadi urakan dan susah diatur orangtua mengeluh,
Ya Allah kenapa anak saya susah diatur, ga tertib ibadah, sudah dewasa tapi masih merepotkan, bla bla bla bla bla bla...
Seolah-olah anaknya emang udah tersetting jadi beban atau kasarnya durhaka sejak lahir
Yang seperti ini ada? BANYAAAKK!!!
Tuhan menjauhkanmu darinya, karena dia berhak mendapatkan yang lebih baik.
Terima saja, dalam kehidupannya kamu cuma sebatas Cameo, bukan pemeran utama.
Ingat.
Orang pintar tidak pernah berhenti belajar, sementara orang bijak akan belajar cara untuk berhenti.
Bagaimana? Sampai sini paham?
"Paham, Bu"
"Agus Lapar, Bu"
...
Pada dasarnya kita hanya bisa bersikap dewasa dan bijaksana sesuai kadar kemampuan masing-masing.
Tapi, ini hidup yang kita jalani, kita harus cukup kuat, untuk bertanggung jawab atas segala keputusan yang sudah dibuat.
Kalaupun ada, biarlah satu dua orang ikut berkomentar dan merasa lebih pintar, besok lusa juga mereka lupa sama hidup kita. Karena apa? Yaa benar, manusia akan kembali pada urusan perutnya masing-masing.
Masalahnya adalah, kamu selalu merasa kamu memiliki waktu, hingga sering sekali menunda pekerjaan.
Sejak kapan kamu memilikinya? Kamu Tuhan?