Akan ada hal atau seseorang yang akan menyempitkan dadamu, membuat hatimu bersedih dan itu semata-mata karena Allah ingin di lisanmu hanya terucap:
“ya Allah”

Love Begins

blake kathryn
untitled
Game of Thrones Daily
🩵 avery cochrane 🩵

No title available
NASA
No title available

tannertan36
No title available
taylor price
Interview Vampire Daily
Fai_Ryy
Keni
𓃗
🪼
Sade Olutola
Mike Driver

oozey mess

Origami Around
seen from Japan

seen from Philippines
seen from Mexico

seen from Pakistan
seen from Argentina
seen from Colombia
seen from Iraq

seen from Germany
seen from United States

seen from Singapore

seen from Türkiye
seen from Colombia
seen from Colombia

seen from Malaysia
seen from Philippines
seen from Italy
seen from Türkiye
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Israel
@allsimplynorule
Akan ada hal atau seseorang yang akan menyempitkan dadamu, membuat hatimu bersedih dan itu semata-mata karena Allah ingin di lisanmu hanya terucap:
“ya Allah”
Golongan orang yang tak disentuh api neraka: 1. Hayyin, tenang jiwanya 2. Layyin, lemah lembut dan santun tutur katanya 3. Qarib, ramah dan suka senyum 4. Sahl, memudahkan setiap urusan orang lain. -- HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban
Kamu lebih bisa powerful justru ketika tidak semua hal kamu share di media sosial.
When you build in silence, people don't know what to attack. Oversharing bisa terlalu membuka dirimu sehingga banyak celah lemahmu dipelajari dengan baik oleh mereka yang tak suka padamu.
Maka lagi-lagi saatnya mengingatkan diri saya dan kita tentang nasihat Imam Asy Syafi'i...
"Terlalu membuka diri bisa membuatmu berkawan dengan circle buruk. Menutup diri total bisa mencipta permusuhan. Maka, jadilah orang yang tahu kapan membuka diri, kapan punya privasi." (Hilyatul Auliya)
i’m actually tired.
like from the bottom of my heart. i am tired..
Allahumma aamiin ✨
The other day, I watched part of a documentary on Netflix called Broken, about the billion-dollar cosmetics industry and its ugly underside--counterfeit makeup.
What really horrified me was finding out that girls were literally mutilating themselves and ruining their faces by putting on some of these knock-off makeup brands. Desperate to make themselves prettier, some girls make themselves deformed.
One poor girl found out the hard way that the counterfeit stuff is dangerous. Online, she bought a knock-off Kylie Jenner lipstick that sealed her lips shut as soon as she applied the lipstick. Fighting a panic attack as she realized that her lips were glued together and that she couldn't open her mouth, the girl frantically googled "Kylie Jenner lipstick burning" to look for a solution. The search results showed her that many of the counterfeit knock-off brands were putting cancer-causing chemicals and dangerous toxins into their products: asbestos, rat fecal matter, horse urine, black carbon...and superglue. This girl's lips were super-glued shut by the lipstick.
This is when the makeup is fake. But what about when the makeup is legit?
People are willing to pay literally hundreds or maybe even thousands of dollars to buy lipsticks, eye shadows, blushes, bronzers, face powders, foundations...so they can transform their face into something that they are happy with.
So many people are unhappy with their appearance, whether it's their face, or their height or lack thereof, or weight or excess therein, the shape of their nose or the shade of their skin or the texture of their hair.
Society has a strict standard for beauty that is pretty much universal at this point, given satellite TV, the internet, and social media. And we have internalized it.
Women must be thin but also still curvy, fair-skinned but also still tan and "glowing" (in North America at least), tall but not so tall that they tower over most men. It's pretty specific, the standard. Very unforgiving.
Men also have a standard of physical appearance that they, too, must attain in order to be considered attractive in the mainstream sense: they have to be tall, broad shouldered, and muscular. A combination of ruggedly handsome and pretty boy, in just the right proportion to create the perfect mix. So specific.
This level of specificity means that most people will, naturally, be excluded from this standard. Since the requirements for both male and female beauty are so strict and so stringent, the people who are able to attain all the items on this long checklist will be few.
So the many who don't make the cut, who are not in this tiny sliver in the "attractive" category, what happens to them? Depending on the perspective of the person, depression can set in. Upgrading your looks can become an obsession.
Some people take drastic measures in their quest to attain the status of being attractive.
For women, this means spending thousands of dollars on makeup and accessories, hair treatments, and even going under the knife for plastic surgery (which often backfires!).
For men, this means spending a boatload of money on gym memberships and hours upon hours working out to impress the ladies, or consuming supplements, protein shakes, and even doing steroids to get bigger. Some men, also like some women, undergo elective surgery to "fix" their nose or receding hairline or do a tummy tuck.
It's natural for us to want to put our best foot forward and to try to make our first impression on others a favorable one, by having a pleasing physical appearance. Being attractive is important to human beings, men and women both.
But the question is: whose standards are you using to measure your attractiveness?
And, further: what lengths are you willing to go to in order to attain physical attractiveness?
Lastly, are there any other ways to enhance a person's attractiveness that are non-physical?
Things to think about.
I was reviewing a portion of Surat Ali Imran (سورة آل عمران) the next day, and came across this verse on the first page:
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (6)
"It is He who fashions you in the wombs how He wills; there is no deity worthy of worship but He, the Authority, the Ever-Wise." (Ali Imran, 6).
It occurred to me that this verse is not the only place in the Quran where Allah mentions our physical form and how it is He who as created it, fashioned it, molded it, in His wisdom. There are several verses in different surahs where Allah tells us this idea:
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ (6) الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ (7) فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاءَ رَكَّبَكَ
"O human being! What has deceived you concerning your Lord, the Generous?
Who created you, perfectly proportioned you, precisely balanced you?
In whatever form He willed, He has assembled you." (Al-Infitar, 6-8)
And a verse that many of us are familiar with, in the short surah of At-Teen:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
"No doubt, We have created the human being in the most beautiful form." (Surat At-Teen, 4).
So many of us suffer from feelings of discontent and unhappiness about our looks. While especially during the teenage years this feeling is natural, we have to be careful not to take things to extremes. Our normal feelings of "I was I was prettier!" or "I wish I could have been taller!" or "I wish I was half my size!" should not be unchecked, because they can lead us to disastrous outcomes.
The realization that *Allah* Himself has created me, fashioned me Himself, and proportioned my body in exactly this way--that will lead to feelings of gratitude and humility that can temper our urge to "fix" whatever it is that we wish were different about our physical appearance. Gratitude leads to acceptance.
Via Umm khalid
Bagaimana perasaanmu kala kau mulai terbiasa untuk sedikit-sedikit mengadu kepada Allaah ? Sedikit-sedikit meminta sama Allaah ? Bahkan pada hal yang kita anggap sepele dan sederhana sekalipun, kita memilih menceritakan dalam bisik-bisik doa kepada Allaah. Bahagia yaa ?? Menenangkan hati.
Kita tak lagi dirumitkan dengan menggantungkan harap kepada manusia. Kita tak lagi merasakan gelisah karena kecewa atas balasan orang lain yang tak sesuai maunya kita.
Allaah Maha Baik, sungguh Maha Baik.
Kita dibimbing untuk sepenuh hati menggantungkan seluruh hidup kepada-Nya. Bahkan Allaah dengan Maha Kuasa-Nya menghadirkan orang-orang baik yang hadir dengan setulus hatinya membersamai kita. Hingga kita tak perlu repot-repot untuk mencari, meminta atau memohon pertolongan.
Tapi Allaah telah mengatur sedemikian indah untuk hadir dalam hidup kita. Allaah karuniakan rezeki dan pertolongan bahkan dari arah yang tak pernah kita sangka arah datangnya.
Allaah Maha Baik, sungguh Maha Baik.
Menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya adalah bahagia yang menenangkan hati. Sadar bahwa kita adalah hamba, yang sama-sama tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya.
Untuk hati yang baik, kutahu ini tak mudah, kutahu akan selalu ada ujiannya. Akan selalu ada pembuktian atas janji-janji dan upaya kita menuju hati yang terpaut sepenuhnya kepada Allah. Tapi aku yakin bahwa Allah akan selalu menjaga kita, Allah Maha Mengetahui dan tak pernah menyia-nyiakan upaya kita untuk sungguh-sungguh mencintai-Nya sepenuh hati. Untuk menggantungkan segala sesuatu hanya kepada-Nya. Teruslah melangkah, sekalipun engkau tertatih. Allaah selalu menjagamu, selalu.
Menyapa Mentari ( @menyapamentari )🌻💙
“Semua akan berganti, dan semuanya akan ada yang mengganti”
Berbunganya hatimu hari ini, tidak akan berlama-lama mekar, akan ada layu yang menggantikan mekarnya hatimu. Sedih pilunya rasamu, pasti akan berganti cerah dan bahagia. Karena hakikat dari semua yang berada di dunia ini adalah terganti dan saling mengganti. Maka cintailah ia sewajarnya, dan bencilah ia juga sewajarnya. Karena ia pun pasti akan berganti.
Kebanyakan hati perempuan itu seperti cuaca, kadang sudah teramalkan akan cerah, namun terkadang justru mendung yang datang, atau sebaliknya. Sementara kebanyakan hati laki-laki itu seperti selalu ingin sendiri saat gemuruh masalah datang, ia akan menampakkannya saat terasa mulai ada jawaban dari masalah yang datang, seringnya ia menyembunyikan dulu masalah yang ia hadapi sembari mencari jalan keluar, saat sudah menemukan barulah ia akan bercerita. Atau mungkin berbeda.
Maklumilah setiap kesalahan yang datang dari pasanganmu nanti, bagaimanapun ia tetaplah seorang manusia, maklumilah ia nanti dengan berkata halus padanya, menyampaikan seperti apa maumu dan bagaimana saran terbaik darimu. Tidak ada orang yang tidak suka dengan kelembutan sikap.
Karena pernikahan nanti, akan butuh sedikit cinta, yang harus diperbanyak adalah toleransinya, yang harus diluaskan adalah saling mengertinya, dan yang harus dijauhi adalah ego masing-masingnya. Percayalah, karena cintamu pada fisik akan berganti beberapa tahun lagi, sukamu pada dunia juga akan tetap mengecewakanmu. Bagaimanapun itu.
Dan saat hujan deras atau badai datang, ingatlah dahulu bagaimana kalian berdua membuat keputusan untuk berlayar, ingatlah ada tujuan yang harus kalian raih bersamaan, bukan sendiri-sendiri. Jangan lepaskan dzikir pagi dan petangmu untuk kebaikan di masa sekarang dan masa depan. Untuk kebaikanmu, dan kebaikan dia yang nanti menjadi bagian hidupmu.
Merayakan 14 purnama.
@jndmmsyhd
Semoga Semoga Semoga
Udah beberapa hari ini gw dan suami hidup terpisah, gw harus menyelesaikan kerjaan di Bandung (walaupun ini lagi pulang kampung sih) dan dia di kota lain. Tadinya mau bareng - bareng aja di Bandung, karena dia bisa kerja dari mana aja juga. Setelah diitung - itung dari segi keuangan, logistik, efisiensi, tenaga, dan waktu yang harus dikeluarkan untuk perpindahan, akhirnya diputuskan yaudah gw aja yang ke Bandung. Toh insyaa Allah Mei udah kelar kerjaan ini. (Kalo bisa lepas dari project selanjutnya, hahaha).
Kerjaan ga bisa ditinggal? Bisa sih dari jauh ngerjain, tapi tetap tidak efektif. Gw ke Bandung justru supaya kerjaan cepat selesai dan gw bisa kembali kumpul sama suami.
Kenapa ga berhenti, rejeki mah udah dijatah Allah? Ga bisa, ini based on project, gw yang ngerjain project dari awal dan sulit untuk ditake over orang lain. Lagipula sudah ambil amanah dari bulan - bulan lalu.
Aduh kerjaan mah urusan duniawi, ngurus suami kan yang lebih penting. Bagi gw, amanah bukan sekedar urusan dunia. Dengan cara ini gw berusaha berdaya plus berdakwah, menunjukkan bagaimana muslim kalau bekerja, ya harus tuntas. Jangan cuma kerja kerja kerja, kalau kata Buya Hamka, kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja. Hehe.
Barangkali sebagian orang menertawakan atau menghakimi apa yang kami putuskan. Kok baru nikah hidup terpisah, begini dan begitu, ga jelas jadi nomaden. Pengantin baru lain mah lagi seneng - senengnya harusnya.
Hehe, ternyata setiap rumah tangga punya takdirnya masing - masing. Kami dapat ujiannya disitu, yang lain ada di keluarga, ada yang di anak, ada yang di saudara. Ndak semua rumah tangga semudah itu dijalani, setahun sudah punya anak lucu dan sehat yang jadi seleb IG; suami kaya raya sehingga istri bingung beli rumah mewah di Menteng atau di Kuningan, punya harta melimpah sampe bingung umroh bulan ini nginep di Zamzam Tower apa Tower seluler.
Hari pertama sampai di Bandung lagi sih hepi banget, nongkrong di rumah tetangga, asik jadi jomblo lagi. Tapi paginya ketika bangun tidur, sendirian, rasanya ada yang kosong. Kok ga ada yang gw bangunin untuk sholat subuh? Kok semalam ga ada yang tak nduseli? Suami sakit, padahal beberapa hari sebelumnya ngerawat gw yang sakit, terus makin sedih.
Di setiap ujung chat sama suami, sering muncul narasi : semoga segera ada jalan rejeki kita bisa kumpul lagi ya. Semoga sebelum puasa sudah bisa bersama. Semoga semoga, banyak yang disemogakan setelah tahu beratnya kerinduan.
Di hati gw bawa nasihat seorang sahabat yang awal pernikahannya juga sulit, kata dia, “nanti juga kelihatan jalannya.” Berbekal nasihat itu, gw berusaha berbaik sangka, insyaa Allah nanti kelihatan jalannya. Gitu aja terus.
Pun rumah tangga yang lain, pasti punya ujiannya masing - masing, barangkali jauh lebih berat dari rumah tangga gw. Masing - masing punya pilihan dan takdirnya, baiknya saling mendoakan semoga selalu diberi kekuatan. Bersyukur banyak - banyak, memohon ampun banyak - banyak, meminta maaf banyak -banyak sama pasangan karena belum bisa menuntaskan kewajiban.
What are must-see things to see and must-try foods in Norway?
Must-see things and must-visit places in Norway:
Nidarosdomen in Trondheim
Operahuset in Oslo
Vigelandsparken in Oslo
Det kongelige slott in Oslo
Norsk folkemuseum in Oslo
Maihaugen in Lillehammer
Bryggen in Bergen
Nordkapp
Geiranger / Geirangerfjorden
Trollstigen
Lofoten
Atlanterhavsvegen
Preikestolen
Trolltunga
Kjerag
Vøringsfossen
Vesterålen
Senjatrollet
Borgund stavkirke
Vikingskipmuseet
Kon-Tiki-museet
The Zoo in Kristiansand
Tusenfryd
Hunderfossen familiepark
and more!
Must-try foods in Norway:
FårikålLutefiskPinnekjøttSmalahove (never tried this personally, but many says it’s delicious)PotetballSoddLefseSveleand much more!
I wish I could include the pictures for the foods too, but Tumblr wouldn’t let me post this with all the pictures. Anyways, I hope you enjoyed this and maybe you want to come to Norway some day :D
(There may be some typos or mistakes in this post, so anyone let me know if there are any and I’ll correct them right away!)
2018-06-06
Cela Mencela di FB
Akhir-akhir ini saya sering aktif di Facebook (yang sesungguhnya passwordpun sudah lupa saking lamanya nganggur), karena agak repot untuk membuka blog pribadi sejak ada pemblokiran Tumblr oleh Kominfo.
Di Tumblr, isinya paling ababil2 galau, dakwah, curhatan annoying, inspirasi, nyinyir-nyinyir yang sesuai porsinya, dan hal-hal biasa lainnya yang mungkin dianggap alay oleh orang seusia saya. Di Facebook, saya menemukan banyak feed yang isinya membuat saya yang tempramen jadi harus sering menelan ludah dan emosi sendiri (walaupun tentu banyak juga positif). Tumblr emang is de bes.
Salah satu jenis feed yang sering bikin saya sedih adalah betapa mudahnya kita share berita dan status yang mencela orang lain. Nemu kesalahan orang, share dengan muka pelaku dan membuka kesempatan orang lain untuk mencaci dan membully. Mendukung seorang pemimpin dengan cara bikin meme lawan yang tidak mengedukasi. Ngatain organisasi dengan kata-kata yang tidak mengenakkan, teroris lah, apalah, seakan paling fasih kita beragama dan berbangsa. Ngatain sebuah keputusan atau kebijakan tidak dengan penjelasan logis, tapi asal share dan nyinyir.
Betul bahwa sebuah organisasi bersalah, betul bahwa seseorang bersalah, betul bahwa seorang pemimpin mungkin memang bersalah. Tapi menurut sependek pengetahuan saya, kita tidak berhak dan memang dilarang mencela. Kritik tentu boleh, tapi yang edukatif dan memberikan informasi akurat kepada pembaca, ingat bahwa segala huruf yang kita bagi akan diminta pertanggungjawabannya.
Rasulullah mengajarkan (berdasarkan ceramah Ust. Adi Hidayat), “jika budakmu berzina, hukumlah (fisik) tapi jangan kau mencela. Jika budakmu berzina 2 kali, hukumlah (fisik) tapi jangan kau mencela. Jika budakmu berzina 3 kali, juallah dengan harga yang murah, namun jangan kau mencela.
Terakhir, ingat bahwa kita juga manusia. Ketika kita tidak melakukan dosa yang sama dengan orang lain, bukan berarti kita bersih dan lebih baik. Allah hanya sudah berbaik hati menutupi aib kita, apalah hak dan kehebatan kita untuk mencela dan membuka kesempatan orang lain untuk membully seseorang? Atau kita merasa bahagia ada orang lain dibully atau menderita? Kayaknya butuh ke psikolog kalo kayak gini.
Sudah begitu baikkah kita? Sudah yakin kalau di akhirat aib kita tidak akan sebesar yang kita cela? Jangan-jangan kebanyakan mencela membuat pahala kita disedot semua sama mereka yang kita cela. Habis sudah, telanjang kita dengan sisa kesombongan semasa di dunia.
Wallahualam, semoga Allah melindungi kita dari pikiran jahat dan kegiatan cela mencela.
Perbedaan. Dimata manusia, satu kesalahanmu bisa menutupi banyaknya kebaikan yang sudah kamu lakukan, sedangkan di sisi-Nya satu kebaikanmu bisa menghapus banyaknya dosamu. Jangan pernah mencoba untuk meminum racun meskipun kamu tau ada penawarnya, Jangan pernah sengaja berbuat maksiat meskipun kamu tahu ada ampunan dan kamu ahli dalam memohon ampun kepada-Nya. Taubat tidak sebercanda itu kawan. Paham kan ?
@jndmmsyhd
Tarbiyah Dzatiyyah
Tarbiyah Dzatiyah adalah sejumlah sarana tarbiyah (pembinaan) yang diberikan oleh seorang muslim atau muslimah kepada dirinya sendiri untuk membentuk kepribadian Islami yang sempurna dalam segala aspeknya, baik ruhiyah, fikriyah, maupun jasadiyah. Dengan demikian, secara singkat tarbiyah dzatiyah bisa diartikan sebagai tarbiyah mandiri.
Urgensi Tarbiyah Dzatiyah Setidaknya ada 8 Urgensi tarbiyah dzatiyah pada zaman sekarang ini: (1) Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain, (2) Jika Anda tidak mentarbiyah diri Anda, siapa yang mentarbiyah Anda?, (3) Hisab kelak bersifat individual, (4) Tarbiyah dzatiyah itu lebih mampu menghasilkan perubahan, (5) Tarbiyah dzatiyah adalah saran tsabat dan istiqamah, (6) Sarana dakwah yang paling kuat, (7) Cara yang benar dalam memperbaiki realitas yang ada, dan (8) Karena keistimewaan tarbiyah dzatiyah.
1. Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain Tarbiyah seorang muslim terhadap dirinya tidak lain adalah upaya melindunginya dar i siksa Allah ta’ala dan neraka-Nya. Tidak diragukan lagi, menjaga diri sendiri mesti lebih diutamakan daripada menjaga orang lain. Ini sama persis dengan apa yang dikerjakan seseorang jika kebakaran terjadi di rumahnya –semoga itu tidak terjadi-, atau di rumah orang lain, maka yang pertama kali ia pikirkan ialah menyelamatkan rumahnya dulu. Hakikat ini ditegaskan Allah ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (QS. At-Tahrim : 6)
Arti menjaga diri dari neraka, seperti dikatakan Ibnu Sa’di rahimahullah, ialah dengan mewajibkan diri mengerjakan perintah Allah ta’ala, menjauhi larangan-Nya, bertaubat dari apa saja yang dimurkai-Nya dan mendatangkan siksa. Inilah makna tarbiyah dzatiyah dan salah satu tujuannya.
2. Jika Anda tidak mentarbiyah diri Anda, siapa yang mentarbiyah Anda? Siapa yang mentarbiyah seseorang saat ia berusia lima belas tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, atau lebih? Jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, siapa yang mentarbiyahnya? Atau jika tidak ada pihak lain yang mempengaruhinya? Sebab, kedua orang tuanya secara khusus, atau manusia secara umum berkeyakinan ia telah dewasa, lebih tahu apa yang lebih mendatangkan maslahat bagi dirinya, atau mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, hingga tidak punya waktu untuk mengurusnya.
Walhasil, jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, ia kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan. Hari dan umur terus bergulir, sedang ia gagal mengetahui titik lemah dirinya dan ketidakberesannya. Akibatnya, ia rugi saat kematian menjemput. Allah ta’ala berfriman,
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ
(Ingatlah) hari Allah mengumpulkan kalian pada hari pengumpulan (QS. At-Taghabun : 9)
3. Hisab kelak bersifat individual Hisab pada hari kiamat oleh Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya bersifat individual, bukan bersifat kolektif. Artinya, setiap orang kelak dimintai pertanggungjawaban tentang diri atau buruknya, kendati ia mengklaim orang lain menjadi penyebab kesesatan dan penyimpangannya. Kendati ada klaim seperti itu, mereka wajib dihisab bersama dirinya. Allah ta’ala berfirman,
وَكُلُّهُمْ آَتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
Dan setiap mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (QS. Maryam : 95)
Allah ta’ala berfirman,
وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا * اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
Dan setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya di lehernya dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu. (QS. Al-Isra’ : 13-14)
Disebutkan di hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ
Setiap orang dari kalian pasti diajak bicara Tuhannya, tanpa penerjemah antara dirinya dengan-Nya (Muttafaq alaih)
Karena itu, barangsiapa mentarbiyah dirinya, insya Allah hisabnya diringankan dan ia selamat dari siksa, dengan rahmat Allah ta’ala.
4. Tarbiyah dzatiyah itu lebih mampu menghasilkan perubahan Setiap orang pasti memiliki aib, kekurangan, atau melakukan kelalaian dan maksiat, baik maksiat kecil atau dosa. Jika masalahnya seperti itu, ia perlu memperbaiki seluruh susu negatif dirinya sejak awal, sebelum sisi negatif tersebut membengkak. Dan, seseorang tidak dapat meluruskan kesalahan-kesalahannya atau memperbaiki aib-aibnya dengan sempurna dan permanen jika ia tidak melakukan upaya perbaikan dengan tarbiyah dzatiyah.
Ini karena ia lebih tahu diri sendiri dan rahasianya. Ia lebih tahu kekurangannya dan aib-aibnya sendiri. Jika ia menginginkan pembinaan dirinya, ia juga lebih mampu mengendalikan dirinya menuju manhaj tertentu, perilaku utama, dan gerakan yang bermanfaat.
5. Tarbiyah dzatiyah adalah saran tsabat dan istiqamah Setelah bimbingan Allah ta’ala, tarbiyah dzatiyah adalah sarana pertama yang membuat muslim mampu tsabat (tegar) di atas jalan iman danpetunjuk, hingga akhir kehidupannya. Tarbiyah dzatiyah juga garis pertahanan terdepan dalam melawan beragam fitnah dan bujuk rayu, yang menyerang kaum muslimin dewasa ini dan membujuknya dengan deras untuk menyimpang, gugur (dari jalan dakwah), loyo, malas, merasa takut akan masa depan, dan putus asa dengan realitas masa kini.
Di sapek ini, perumpamaan tarbiyah dzatiyah seperti pohon, yang jika akar-akarnya menancap kuat di bumi, amak pohon tersebut tetap kokoh, kendati diterpa angin dan badai.
6. Sarana dakwah yang paling kuat Esensinya, setiap muslim dan muslimah adalah dai ke jalan Allah ta’ala. Ia memperbaiki kondisi yang ada, mengajar, memberi taujih, dan mentarbiyah. Agar ia diterima manusia, baik sanak kerabatnya atau orang yang jauh darinya, dan punya kekuatan melakukan perbaikan dan perubahan di kehidupan mereka, ia perlu bekal kuat. Dan, cara efektif untuk mendakwahi mereka dan mendapatkan respon mereka ialah ia menjadi qudwah yang baik dan teladan yang istimewa dalam aspek iman, ilmu, dan akhlak. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat dibentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh tarbiyah dzatiyah yang benar.
7. Cara yang benar dalam memperbaiki realitas yang ada Adakah diantara kaum muslimin yang tidak merasa prihatin dengan kondisi yang ada pada umat Islam, di berbagai aspek di kehidupan mereka, baik aspek keagamaan, ekonomi, politik, pers, sosial, atau aspek-aspek lainnya? Jawabnya, tentu tidak ada.
Tapi bagaimana kiat memperbaiki realitas pahit yang dialami umat kita sekarang? Apa langkah efektif untuk melakukan perbaikan? Dengan ringkas, langkah tersebut dimulai dengan tarbiyah dzatiyah, yang dilakukan setiap orang dengan dirinya, dengan maksimal, syamil, dan seimbang. Sebab, jika setiap individu baik, baik pula keluarga, biidznillah. Lalu, dengan sendirinya, masyarakat menjadi baik. Begitulah, pada akhirnya realitas umat menjadi baik secara total, sedikit demi sedikit.
8. Karena keistimewaan tarbiyah dzatiyah Urgensi tarbiyah dzatiyah lainnya mudah diaplikasikan, sarana-sarananya banyak, dan selalu ada pada kaum muslimin di setiap waktu, kondisi, dan tempat. Ini berbeda dengan tarbiyah ammah yang punya waktu-waktu tertentu, atau tempat-tempat khusus. [Sumber: Tarbiyah Dzatiyah karya Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan]