Didzholimin sama penguasa? Jangan Baper, ah!
Jangan Usik Indonesiaku! Bagian 2
Indonesia, negriku yang damai, aman.
Allah subhanahuata’ala telah mengaruniakan nikmat aman dinegri ini.
Aku tak ingin, negara ini berubah menjadi negara yang dihantui kejahatan, penuh ancaman, pemberontakan, hilang nikmat aman darinya.
Dalam tulisanku yang pertama, menceritakan keluh kesahku, sebagai rakyat yang sudah lelah dengan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi, maka solusi yang aku pilih untuk menyelesaikan hal tersebut adalah, bersabar.
Tapi kita terus-terusan didzalimi loh, kita harus melakukan aksi nyata?!!
Allah subhanahuata’ala berfirman yang artinya, “ Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sholat dan sabar.” (QS. Al-Baqarah; 45)
Perintah allah dalam meminta pertolongan yaitu dengan sabar. Sabar bukan berarti duduk diam, berpangku tangan, tidak berbuat apa-apa. Jangan beranggapan serendah itu. Allah telah menegaskan dalam firmannya, dengan sabarlah pertolongan allah akan datang.
Hadits shohih riwayat At-Tirmidzi, dalam hadits Ibnu Abbas, rasulullah bersabda; “Jalan keluar akan selalu menyertai kesulitan, dan pertolongan dari allah akan selalu menyertai kesabaran, dan setiap kesulitan ada kemudahan.”
Dari firman allah dan hadist tersebut, kita sebagai muslim sudah diberi petunjuk bagaimada dalam bersikap. Allah sudah mengajarkannya kepada kita, segala problema kehidupan, termasuk dalam fenomena-fenomena sekarang ini.
Siapa sih yang mampu menolong kita, kalau bukan Allah ta’ala? Yang penting dan perlu diingat kembali, kita tentu menginginkan disudahinya kejanggalan dan keanehan-keanehan ini dengan cara bersabar, kita berusaha mendekatkan diri kepada Allah, menangkan hati allah, mohon kepada Allah agar allah menolong kita.
Kalau sekadar ‘berbuat’, semua orang bisa ‘berbuat’, mendahulukan perasaan daripada perintah rasulullah. Tapi coba pikirkan, apakah kita mau ‘berbuat’ dengan modal perasaan dan akal, rugi dunia juga tidak diridhoi Allah.
Dahulu pernah ada pemimpin yang bengis dan kejam, ia telah membunuh nyawa kaum muslimin 120 ribu orang secara pelan-pelan. Kejadian itu terjadi pada masa Hasan Al-Bashri, pemimpin yang dzolim ini bernama Hajjaj bi Yusuf. Hasan al Bashri saat itu menjadi orang yang hendak dibunuh oleh Hajjaj bin Yusuf.
Kemudian suatu hari, Hasan al Bashri mendengar seorang laki-laki berkata; “Ya Allah Binasakan Hajjaj bin Yusuf”,
kemudian Hasan al-Bashri berkata, “jangan engkau lakukan itu.”
kemudian laki-laki ini berkata; “apakah kamu tidak mengetahui kebengisan Al-Hajjaj bin Yusuf tersebut?”,
Hasan Al-Bashri berkata; “aku tau, tapi aku takut, apabila Allah mengijabah doa kamu, lalu Hajjaj bin Yusuf pun binasa, ternyata Allah gantikan dengan babi dan kera.”
Artinya kita tidak tahu, mungkin penggantinya lebih buruk daripada dia.
Hasan al-Bashri juga berkata, “sesungguhnya kedzoliman pemimpin adalah akibat dosa-dosa rakyatnya”, maka tidak mungkin kita melawan adzab allah dengan senjata, dengan emosi, dengan demonstrasi, tapi harus dilawan dengan doa, kembali kepada allah.
Ibnul Qoyyim pernah berkata, “sesungguhnya pemimpin itu adalah cerminan rakyatnya, bila rakyatnya beriman, bertaqwa, insya allah, Allah berikan pemimpin yang sholih, namun bila rakyatnya dzolim, banyak bermaksiat, syirik, maka allah akan memberikan pemimpin yang semisal dengan rakyatnya.”
Diantara Hak pemimpin yang perlu kita perhatikan yaitu;
1). Didengar dan ditaati oleh rakyatnya, selagi mereka tidak menyeru kepada kemaksiatan. Karna jika menyeru kepada kemaksiatan maka tidak boleh diikuti.
2). Doakan Kebaikan bagi pemimpin, tidak ada ruginya kita mendoakan pemimpin. Kalau sekarang di instagram, rame banget yang menghujat pemerintah. Sudah seperti virus, tiada hari tanpa menghujat. Daripada menghujat sana sini, mending kita doakan, kita tidak tau doa siapa yang akan diijabah Allah Subhanahuata’ala, bila diijabah Allah, insya allah kebaikannya untuk kita juga kan.
3). Bersabar terhadap kedzolimannya, para ulama pernah berkata; “bersabar 50 tahun terhadap pemimpin yang dzolim, lebih baik daripada fitnah-fitnah yang tidak berujung.“ Kalimat ini udah ada buktinya, lihatlah negri-negri ketika mereka tidak sabar, lalu mereka membuat pemberontakan, hasilnya apa? Bukannya ketenangan yang mereka dapatkan, bukan juga keamanan, kehidupan mereka dibawah ancaman, kehidupan mereka penuh dengan ketidak amanan.
Sesungguhnya perintah rasulullah untuk bersabar menghadapi pemimpin yang dzolim dengan cara bersabar adalah jalan terbaik.
Rasulullah menyebutkan tentang pemimpin yang hatinya hati syaiton, namun berada dalam tubuh manusia, kemudian ditanya oleh para sahabat, lalu apa yang harus kami lakukan ya rasulullah, menghadapi pemimpin yang seperti itu? Rasulullah menjawab, tetaplah mendengar dan taat dalam perkara yang ma’ruf, walaupun kamu dipuluk dan hartamu diambil.
Subhanallah, Berat ga tuhh???
Tapi ini udah pernah terjadi, dan terbukti bermanfaat. Yaitu pada masa Imam Ahmad bin Hanbal, baliau disiksa selama 2 tahun karena tidak mau berkata; bahwa Al-Qur’an itu Makhluk. Lalu apa yang terjadi? Setelah 2 tahun, akhirnya beliau dibebaskan. Kemudian para fuqoha Baghdad berkumpul di rumah Imam Ahmad dan mengajak Imam Ahmad untuk memberontak kepada penguasa di zaman itu. Namun, Imam Ahmad melarang, padahal beliau udah disiksa. Kemudian Imam Ahmad membawakan hadist-hadist yang memerintahkan untuk sabar, tidak memberontak. Dan para fuqoha menaati titah Imam Ahmad. Maa sya allah, hasilnya luar biasa, tak lama kemudian, pemimpin yang dzolim ini pun meninggal dunia, digantikan dengan pemimpin yang adil dan cinta kepada sunnah.
Itulah buah dari kesabaran, sesungguhnya, kesabaran itu lebih manis daripada madu, dan ketidak sabaran itu lebih pahit dari sesuatu yang pahit. Yang perlu dingatkan lagi, dahulukan perintah rasulullah diatas perasaan pribadi. Jangan terbakar dengan perasaan. Meskipun kita merasa ini adalah sesuatu yang tidak baik. Karena yang tau mana yang baik dan yang buruk adalah Allah. Pasti sering denger kalimat Ini, bisa saja engkau membenci sesuatu, namun itu lebih baik bagimu, dan bisa saja engkau menyukai sesuatu, namun itu lebih buruk bagimu.
Wallahua’lam. Jika ada kesalahan dalam tulisan ini mohon diberitahu, karena penulis masih belajar juga. Dan ini hanyalah opini sendiri. Mudah-mudahan bermanfaat.
Sebagian besar isi dari tulisan ini diambil dari ceramah Ustadz Abu Yahya Badrussalam Lc, dan Ustadz Abdullah Taslim, MA.