Malam itu aku menyentil pipi anakku.
Sudah beberapa hari terakhir ini dia berusaha menggigitku. Awalnya aku tidak terlalu menggubrisnya karena yang digigit sekedar kain yang menempel, tidak sampai terkena kulit. Tapi malam itu dia mengigit hingga mengenai kulit.
Sebelumnya, aku sudah beberapa kali memberitahunya bahwa gigitannya menyakitkan. Namun dia tidak mempedulikannya. Semakin aku bereaksi terhadap gigitannya, semakin dia semangat untuk mengigitku. Aku menahan kepalanya, sia-sia. Dia tetap mengigitku.
Akhirnya aku emosi. Kupegang kedua tangannya. Sambil kutatap matanya aku katakan, "nak, papa sakit kalau digigit. Jangan gigit papa." Dia masih tidak menggubris. Masih berusaha mengigit. Karena kesal, akhirnya aku menyentil pipinya lalu berkata, "sakit kan? Papa juga sakit kalo kamu gigit."
Dia kaget. Matanya mulai berair. Namun dia berusaha mengingkari rasa sedihnya dengan kembali berusaha mengigitku. Aku yang melihat kesedihannya langsung berucap, "kamu sedih ya?" Dia menjawab dengan menggelengkan kepala sekuat tenaga. "Kamu sedih ya, nak?" Aku kembali mengulang pertanyaanku.
Tiba-tiba dia menangis.
Aku memeluknya. Rasa sesal menyelimuti hatiku. Aku kesal karena tidak bisa mengontrol emosi, namun di saat yang bersamaan aku mencari pembenaran perlakuanku. Suasana yang tadinya ramai mendadak hening. Yang menggema ditelingaku hanyalah isak tangisnya.
Aku mengencangkan pelukanku. Aku salah. Aku menyesal telah menyentilnya. Aku teringat, akulah yang memulai semua ini. Beberapa kali aku menjepit pipinya dengan kedua bibirku, seolah mengigitnya karena gemas. Tak kusangka perbuatanku dengan cepat ditirunya. Dia hanya meniru perbuatanku. Namun aku malah menyentilnya.
...
Anakku sudah berhenti menangis. Aku masih memeluknya, lalu menggendongnya pulang. Sepanjang perjalanan dia hanya terdiam. Wajahnya sedih. Aku mengusap rambutnya, "kamu masih sedih, nak?" Dia menahan bibirnya agar tidak kembali menangis, lalu meletakkan kepalanya di bahuku. Hatiku tidak nyaman.
"Maaf ya, nak. Papa tadi emosi. Jadi tadi papa sentil pipimu. Maaf ya sayang." Aku sangat memilih kata permintaan maafku. Tidak berdalih. Tidak mencari alasan selain karena aku. Aku ingin anakku belajar meminta maaf dengan benar: Tanpa dalih. Tanpa alasan yang dicari-cari.
Anakku tidak menjawab. Dia tetap diam. Namun beberapa detik setelahnya, anakku kembali mengajakku ngobrol. Sudah terpancar senyum di wajahnya. Seolah kejadian tadi tidak benar-benar terjadi. Aku, yang masih khawatir dan merasa bersalah kembali bertanya, "sakit, nak?" Dia tidak menjawab, sepertinya dia tidak peduli lagi dengan hal itu.
"Papa jangan digigit lagi ya, nak. Oke? Maaf ya." Kubisikkan ke telinganya. Dia hanya mengangguk kecil. Aku tidak yakin apakah dia mengerti atau tidak, namun aku percaya dibalik tubuhnya yang kecil ada seorang manusia yang terus belajar dan bertumbuh. Seorang manusia yang harus diperlakukan setara sebagai manusia.
Maafkan papa, ya nak.


















