Buku hijau itu, tertata rapi di jajaran buku-buku, di rak sudut kamarku. Buku hijau adalah buku tentangmu. Tentang segala rasa yang pernah ada, muncul, dan kunikmati selama hampir satu tahun mengenalmu hingga saat ini. Lucu rasanya, kalau kuingat-ingat kembali. Unbelievable kalau kubilang.
Tertarik hanya karena namamu yang unik. Namun entah mengapa terasa familiar di telingaku, di pikiranku, dan hatiku. Memunculkan secercah perasaan berbunga meski belum tau rupa wajahmu seperti apa dan bagaimana sifatmu. Hanya nama, dua kata waktu itu yang kutahu. Namun nyatanya, setelah kucari lebih jauh, namamu terdiri dari tiga kata dengan tujuh suku kata.
Kupikir-pikir, lucu juga. Bagaimana bisa aku tertarik pada seseorang yang wajahnya pun aku tak tau. Bagaimana bisa aku tertarik sebegitu dalam perasaannya pada seseorang yang hanya berbekal nama saja. Bagaimana bisa, bukannya memudar justru menguat perasaan itu kala bersua? Bagaimana bisa, perasaan itu lebih dulu muncul?
Ternyata kita ada foto bersama, meski aku tak tau kau yang mana. Aku tak tau bahwa dirimulah yang cenderung menjauh dari keramaian dan bermain dengan seorang anak kecil bernama Yahya; yang ternyata ada fotomu bersamanya di galeri fotoku. Entah siapa yang memotretnya, tapi aku sungguh berterima kasih padanya. Karenanya, aku jadi punya fotomu yang langka. Hehe.
Banyak hal yang kupertimbangkan sebelum akhirnya kuputuskan ambil langkah pertama untuk mendekatimu. Haha iya, aku yang mendekatimu lebih dulu, dengan cara yang tidak begitu terlihat jika aku mendekatimu walaupun tetap terlihat sebegitu mencoloknya. Haha entah deh. Orang bilang, langkahku terlalu grasa-grusu. Orang bilang, perempuan tak boleh maju lebih dulu.
Tapi aku ingin, aku mau, dan aku punya tekad pun pertimbangan khusus untuk itu. Jadi, kuputuskan untuk mendekatimu dengan segala risiko yang mau tidak mau harus siap kutanggung sendiri. Hanya berbekal ketertarikan pada namamu yang akhirnya membuatku tertarik akan duniamu.
Langkah pertamaku; kumulai dari masa laluku yang harus segera kuselesaikan. Selepas itu, memastikan banyak sekali tentangmu yang sempat kutanyakan pada beberapa orang yang sekiranya mengenalmu.
Pendiam, cuek, acuh tak acuh. Menghindari keramaian.
Hal pertama yang sekilas kutangkap dari gerak-gerikmu. Beberapa orang yang pernah kutanyai, mengiyakan itu semua. Namun entah mengapa, aku justru menangkap hal yang berbeda. Dari awal aku tidak mengiyakan jikalau kau begitu. Ada hal-hal dalam duniamu yang kau sembunyikan rapat-rapat dan tidak ingin diketahui khalayak ramai. Duniamu ramai, tapi terlihat sepi.
Langkah keduaku; berencana memulai obrolan di ruang hijau WhatsApp denganmu, tapi berulang kali aku mengurungkan niat untuk itu. Mungkin aku terlalu takut akan responmu. Mungkin juga aku tidak ingin mengusik ketenanganmu. Atau mungkin juga belum cukup keberanianku. Kurasa alasan terakhir lebih tepat.
Sampai pada suatu ketika, ada momen di mana mau-tidak-mau aku harus menghubungi anggota organisasi satu persatu, termasuk dirimu. Haha, senang bukan kepalang. Meski dihantui rasa gelisah pula. Hari itu, kumulai interaksi denganmu melalui percakapan WhatsApp. Aku tak menunggu, namun harap-harap cemas. Waktu itu, foto profilmu duduk sendiri di tepi pantai. Nuansa biru gelap. Selang berapa lama, kau menjawab pesanku. Girang bukan main rasanya, meski hanya berisi percakapan terkait organisasi.
Usai sudah percakapan kita pada hari itu. Aku berterima kasih dan kau ucap sama-sama.
Kupikir tidak akan ada lagi percakapan denganmu. Ternyata hari berikutnya justru kau yang memulainya. Menanyakan terkait informasi rental kamera, yang sebenarnya bisa kau tanyakan ke rekan organisasi lainnya atau temanmu yang lain.
Sebulan yang lalu baru kutahu dari pengakuanmu bahwa itu kali pertamanya kau modus ke perempuan dengan memulai obrolan. “Hahaha, tau nggak Dek, itu pertama kalinya aku modus,” ujarmu sambil tertawa di atas motor saat kita berboncengan di sore hari. Kubalas dengan memeluk erat tubuhmu dari jok penumpang. Oh Tuhan, aku sayang sekali dengan manusia satu ini.
Langkah ketigaku; mengajakmu mengobrol secara langsung. Langkah kali ini bisa dibilang aku cukup nekat. Dulu kita bertemu setidaknya dua kali dalam satu pekan di basecamp organisasi, entah di basecamp awal maupun basecamp saat ini. Lebih tepatnya aku datang setiap hari dan kau yang datang hanya saat jadwal piket. Pertama kalinya kita duduk bersebelahan, pada malam di mana aku bertambah usia ke-22.
Lalu kepindahan ke basecamp baru dan aku yang tak jemu mengajakmu berbicara. Tentang apapun. Aku mencoba mencari tau tentangmu, waktu itu isi Instagram-mu dipenuhi oleh foto kucing-kucing lucu. Kebetulan sekali. Waktu itu kucingku sakit di rumah, kujadikan bahan awal mengobrol denganmu. Aku tahu kau membuat benteng yang tinggi, menanggapiku dengan ramah dan cuek pada saat yang bersamaan. Ada intonasi ramah dalam suaramu, meski terlihat cuek dalam sikapmu. Sungguh, aku menikmati proses itu.
Banyak hal yang terjadi selama hampir satu tahun ini. Usaha dalam mendekatimu yang sempat dua kali terhenti. Namun entah mengapa selalu ada saja jalannya untuk bisa saling sapa lagi, hingga pada akhirnya kita memutuskan untuk saling mengikat janji. Orang menyebutnya dengan 'Komitmen'.
Ada kalanya kita bertukar cerita seru, melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama, bercanda tawa, mengobrolkan hal-hal yang amat-sangat tidak penting sampai penting banget, mengomentari apapun yang terlintas di depan mata, berdiskusi perihal isu-isu terkini, bercengkerama di bawah sepoi-sepoinya pohon rindang atau semilirnya angin di bawah atap gazebo, dan berbagai aktivitas menyenangkan lainnya yang pernah kita lalui bersama.
Sederhana, simpel, namun seru dan berkesan ketika bersamamu.
Pun ada kalanya kita yang tak saling bertegur sapa, bertengkar karena suatu hal, beradu argumen, kesalahpahaman dalam berkomunikasi, bersilat lidah mempertahankan pendapat masing-masing, ego yang sama-sama sedang berada di puncaknya, dan kita yang acap kali bertengkar karena rindu.
Orang bilang, hubungan tanpa pertengkaran itu tidak seru.
Bukan berarti selamanya harus bertengkar selalu. Hanya saja memang ada kalanya masa itu tiba. Pertengkaran yang membuat semakin dekat, adu pendapat yang semakin membuat erat, cekcok yang semakin membuat satu sama lain saling mengenal lebih jauh lagi. Itu yang kutemukan dalam kita,
Ketenangan dan keramaian yang menjadi satu.
Terlepas dari itu semua, aku mengagumimu, menghormatimu, menyayangimu, dan mencintaimu, tentu saja kuusahakan untuk selalu. Aku mengagumimu, ketika kau berbicara kepadaku, padu-padan kalimat yang terasa merdu. Aku menghormatimu, ketika kau menjelaskan berbagai hal yang seharusnya dan tidak seharusnya kulakukan, tutur kata yang indah masuk ke telinga dan relung hati. Meski terkadang butuh waktu bagiku untuk menerimanya.
Aku menyayangimu, ketika pundakmu siap sedia menampung air mataku, ketika jemarimu mengusap wajah dan pipiku gemas, ketika tatapanmu meneduhkanku, ketika genggaman tanganmu menguatkanku, ketika anggukan kepalamu meyakinkanku, ketika pertanyaan, “Kenapa, Dek?” dan tatapan penuh cintamu terasa menghangatkan hatiku.
Aku mencintaimu, tanpa harus kujelaskan panjang lebarnya, tanpa harus merangkai kata-kata gombalan untuk menjelaskan padamu, tanpa harus berbusa mengatakan “I love you” satu jam sekali.
Aku mencintaimu dan aku tau kau pun begitu.
Satu lagi, aku suka memandangimu, dari jarak dekat maupun jauh. Aku suka melihatmu tersenyum dan tertawa, memperlihatkan dua lesung pipimu yang menggemaskan. Ganteng. Aku akan tetap mengatakan itu pada dunia meski kau justru bersikeras tak setuju.
Ini kali pertamanya aku menulis panjang menceritakan tentang seseorang di laman Tumblr-ku. Sekian dan terima kasih!
Yogyakarta; duapuluh sembilan dalam sembilan, 2022.