Wanita Cenderung Stress saat Mempersiapkan Pernikahan?
BIAYA PERNIKAHAN MEMBENGKAK
TIBA-TIBA ADA PERUBAHAN TEMPAT RESEPSI
PERUBAHAN RUNDOWN ACARA
ADAPTASI SAMA PASANGAN DAN KELUARGANYA
DAN HAL-HAL LAINNYA
Assalamu’alaikum, Ladies..
Semoga Teman-teman sehat dan bahagia ya ketika baca kolom ini :) Anyway apa perasaan Teman-teman ketika baca ilustrasi [menjelang pernikahan] di atas? Stress pastinya ya kalau kita mengalami hal tersebut pada saat tengah mempersiapkan pernikahan kita dan pasangan. Baiklah, kali ini aku pengen sharing pengalamanku ketika mengalami masa-masa stress tersebut. Tentunya, dari sudut pandang calon mempelai wanita.
Pertama-tama, aku ingin menengahi bahwa stress yang dapat muncul ketika mempersiapkan pernikahan bukan hanya berasal dari teknis mempersiapkan resepsi pernikahan. Tetapi, ada pula stress yang bisa hadir karena kita merasa nervous dan overthinking akan beberapa hal, misalnya, “takut deh, kalau calon suami tau kebiasaanku, nanti dia ilfeel” atau “abis nikah mau setting kehidupan rumah tangga yang seperti apa?”. Tanpa kita disadari, bahwa hal-hal demikian sebetulnya dapat kita komunikasikan dengan pasangan sehingga bisa ditemukan win win solution-nya.
Sekadar bercerita, bahwa aku sempat mengalami pra marriage stress syndrome, sekitar 2-3 beberapa bulan menjelang pernikahan. Kalau flashback, entah kenapa ya aku bisa stress kala itu. Haha. Gejalanya adalah hati tidak tenang, sering uring-uringan, dan perasaan tidak nyaman lainnya. Sampai-sampai aku menanyakan ke beberapa temanku yang sudah menikah untuk sharing cerita-cerita mereka menjelang pernikahan. Ternyata, mereka sama sepertiku. Stress dalam mempersiapkan pernikahan. Penyebabnya macam-macam. Sampai aku menemukan kalimat bijak dari salah satu temanku “namanya menikah itu ibadah, yang namanya ibadah pasti godaan syaiton pun banyak untuk menggagalkannya”. Begitu baca kalimat tersebut, aku langsung introspeksi diri dan mulai saat itu, berusaha meningkatkan kualitas ibadahku, memohon perlindungan-Nya :”)
Hari pernikahan pun tinggal menghitung hari, H-sebulan aku sudah mulai stay di rumah untuk fokus mempersiapkan pernikahan dan menyambung silaturahim dengan keluarga dan suadara-saudara. Godaan pun datang kembali ketika H-3 menjelang pernikahan, perubahan dekorasi hajatan menjadi hal utama pemicu stress-ku kala itu. Di rumah, aku seperti orang gila yang ngomel kesana-kemari. Sampai ibuku pun mendudukanku dan bicara empat mata. Ya, mungkin ibuku khawatir dengan perubahan sikap anaknya wkwk. Singkat cerita, kami pun bicara dari hati ke hati mengungkapkan setiap kegelisahan yang ada di dadaku. Setelahnya, Ibu tidak mengizinkanku untuk ikut berpartisipasi dalam hal-hal yang berkaitan dengan persiapan acara. Intinya, aku diminta untuk ‘me time’ menenangkan pikiranku. Mungkin itu salah satu solusi agar tidak stress, yakni calon mempelai tidak perlu mengurusi teknis persiapan secara detail. Akupun belajar pasrah. Toh, ini kan acara keluarga, bukan acaraku sepenuhnya. Jadi, kita tidak bisa memaksakan kehendak.
Jadi intinya, ada beberapa hal yang patut kita sadari betul ketika mempersiapkan untuk menikah :
Menikah itu ibadah, sadarilah bahwa godaan syaitan bisa berasal dari mana saja. Terlebih wanita, sering menggunakan perasaan tanpa mendahulukan logika. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, saya sudah panik akan suatu hal, tapi suami biasa saja. Jadi sebaiknya saling sharing dan meminta saran dari sudut pandang berbeda.
Tidak usah terlalu egois dan sok kuat mau menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Pada akhirnya, kita tetap harus manut keinginan orang tua. Ingat, selain acara kita, pernikahan anak juga acara orang tua.
Ini akan menjadi momen yang tepat untuk semakin ‘akrab’ dengan Tuhan kita, jadi, peningkatan kualitas ibadah pun patut dilakukan, bukan hanya saat menyiapkan persiapan ya, tapi juga istiqomah sampai seterusnya, amin.
Ya, at last I say, setelah akad berlangsung, semuanya ‘plong’ kok :) Semoga bermanfaat. Silakan komen jika ada masukan atau saran mengenai tulisan ini, terima kasih :)
Wassalam,
Amalia.






