Hari rabu lalu aku ke rumah adeknya ayahku untuk menjenguk nenekku. Aku agak terkejut, nenekku kurussssss sekali. Benar-benar 180 derajat berbeda dari yg aku ingat nenekku pas aku kecil. Memang 10 tahun lebih ini bed-ridden banyak yg berubah dari dirinya (tentu saja).
Aku melihat ia hanyalah nenek-nenek yang udah gak ngerti lagi sama dunia. Nggak bisa bicara, lemes di kursi, sudah lupa banyak hal, tiap hari hanya bangun, disuapin, nonton TV, buang air. Jujur aja kalau mengingat apa yang dia lakukan terhadap ibuku atau mantu-mantunya dengan mulutnya yg tajam, ada terselip kata "sukurin" dalam hatiku 😂 (astaghfirulloh) tapi pas ngeliat nenekku yg seperti itu, somehow aku melihat kasih sayang Allah juga pada dirinya. Mungkin ini masa-masanya Allah menghapus dosa-dosanya di masa lalu, atas kekurangtahuannya, atas kealpaannya dan juga karena luka pengasuhan yg dia punya.........
Nenekku itu anak ke 9 dari 20an bersaudara (for real?? but its real) dan bapaknya itu salah satu tokoh muhammadiyah yg lumayan sibuk sama dakwah di zaman-zaman kemerdekaan. Bahkan aku sempet denger selentingan-selentingan tentang orang2 yg dituduh DI/TII yg dibantu sama kakek buyutku. Nenekku lahir tahun 1940 saat zaman peran, i couldnt imagine how hard her life was. Dan mgkn karena sulitnya zaman tsb dan juga bersaudara yang banyak bgt itu, nenekku tumbuh jadi orang yg insecure sama banyak hal, termasuk relationship dan juga harta.
Nenekku menikah dengan bapaknya ayahku, dia jadi istri kedua dari seorang tentara. I think dia menikah menjadi istri kedua itu berhubungan dengan tangki cintanya yg gak kepenuhi oleh orangtuanya. Ternyata suaminya kasar. Adiknya ayahku bilang, bahwa ia ingat beberapa kali ibunya dipukulin oleh ayahnya. Dan ayahku sebagai anak laki satu2nya saat itu juga dididik keras.
Terus ternyata suaminya meninggal di saat anak-anaknya masih pada sekolah (ayahku masih SMA, 1 adiknya masih SMP dan nenekku sedang mengandung adik bungsu) dan sebagai istri kedua yang gak direstui sama istri pertama, tentu kehidupan ekonomi porak poranda. Nenekku jadi penopang finansial keluarga juga krn anak-anaknya masih sekolah, tapi di satu sisi menuntut yg cukup besar juga untuk anak-anaknya yg sudah lebih besar.
Yaampun, aku nulisnya nangis :") i couldnt imagine if i were her. Lahir saat masa penjajahan, dimana orgtuanya juga punya tugas dakwah yg besar dan ternyata ber-impact besar thd keluarganya. Terus menikah, eh suaminya meninggal pas lg besarin anak-anaknya di rantau pula :")
And she start her new life back to her village in Sukabumi, dan merintis karir di bidang rias pengantin dan dekor pernikahan. She stood up for her life. Di samping itu juga, dia jadi pengikut bapaknya dengan jadi penceramah walau jujur gatau apa yg diceramahin wkwk. Walau di masa itu juga jadi masa yg berat buat anak-anaknya yg baru merantau karena modal dia sedekah/ceramah suka minta ke anak2nya termasuk ke bapakku (dan jadi bahan beranteman sm ibuku krn nenekku suka minta uang trs padahal kehidupan ortuku ngepas).
Hal lain yg bikin berantem dengan ibuku adalah anggapan nenekku yang berpikir bahwa "selamanya anak laki-laki adalah milik ibunya jadi aku harus didahulukan". Jadi nenekku yg tangki cintanya kepada lawan jenis nggak penuh ini, demand besar banget ke anak laki-lakinya untuk di provide. Bukan hanya secara materi, tapi juga secara perhatian. Ibuku seringgg bgt diberantemin tentang banyak hal termasuk memberi ASI (dibilang ASInya ibuku racun shg aku sakit2an), ibuku diremehin pendidikannya, dll. DAN INI JADI LUKA YG BESAR BANGET BUAT IBUKU YG JUGA CINTA KASIH DARI LAWAN JENISNYA KURANG BANGETTT.
fyuhhhh :") gini ya ternyata intergenerational trauma itu...
Dan saat menulis ini aku juga jadi menyadari tentang "trauma menjadi orangtua" yg dikasih tau sama tokba, dimana saat menjadi orangtua, orang dewasa mendapatkan banyak tekanan sehingga sangat mempengaruhi proses parenting 😂....
Pieces by pieces aku mengumpulkan puzzle itu, karena dulu juga seringnya dapet cerita dari ibuku, nenekku tuh jahat bgt sama dia dan dia gak cocok sm nenekku. Tapi kl diliat bigger picture, jd agak lumayan paham kenapa dia kaya gitu, walaupun gak jadi pembenaran untuk perilakunya dia juga (I mean, bukan karena lo disakitin / susah hidupnya, jadi justifikasi lo boleh jahat sm orang lain. orang dewasa punya kemampuan berpikir dan empati kok seharusnya).
HUHUHUHUHU YA RABBI.... emang ngasuh anak untuk selalu mindful itu susah bgt apalagi dengan tekanan hidup yg makin berumur kok makin-makin yaa. Aku aja yg ngerasa jarang bgt marah tetep di cap tukang marah sama suamiku dan anakku 😂 bahkan sampe anakku kl udh kesel bgt sama aku dia akan bilang "MOM YOU HAVE TO LEARN TO BE A GOOD MOTHER" buset buset WKWKKWKW hard reminder bgt, padahal aku udh berusahaaaaaa bgt gak pernah keluar nada tinggi apalagi main fisik :") tp ya itulah namanya orgtua juga banyak kurangnya dan harus terus berproses. Semoga walau aku banyak kurangnya, aku tidak mewariskan trauma kepada Hannah dan aku bisa lebih utuh dan adil dalam menjelaskan hal2 yg terjadi kepada dia dan ancestornya.
Semoga cukup di aku luka itu.