Penulis yang Jatuh Cinta Kepada Tokoh Utama Pria di Novelnya
Wanita itu berdecak kagum memerhatikan kulit hitam legam hasil tunning seminggu di Bali. Bibirnya nggak berhenti melengkung menatap puas potongan rambut pendek sebahu yang sengaja dicat turquoise pas di Ubud. Kalamare memutar tubuhnya dengan nggak sabar lalu bibir tipisnya dimonyong-monyongi sembari menatap cermin dari balik bahunya dengan sesekali ber-selfie ria. Tatapannya berubah horor saat menatap punggungnya yang nggak ke-tunning sempurna.
Kemarin gue pakai beha yang mana, sih? Batinnya seraya mengingat-ingat.
Ah sudahlah, pikirnya menyerah. Koleksi behanya terlalu banyak dan yang dipakai kemarin juga bukan hanya satu atau dua model saja.
Setiap pulang ke rumah selalu ada perasaan hangat yang diam-diam menyelinap di antara rongga dada Kalamare. Maklum, Kalamare hanya tinggal berdua dengan Ibunya sedangkan orangtua satunya lagi yang ia tolak panggil ‘Ayah’ sudah entah ke mana. Kalamare dan Ibunya sepakat nggak mau mengingat-ingat masa ketika Ayahnya memilih pergi meninggalkan rumah daripada memiliki anak kacau seperti Kalamare.
Ibunya tetap bertahan dan memilih merawat Kalamare dengan sepenuh hati. Hari itu hati Kalamare barusan luluh lantak setelah untuk kesekian kalinya patah hati karena alasan yang oh so (sangat) klise. Kamu terlalu baiklah. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Kayaknya kita nggak ada kecocokan lagi. Cih! Setelah itu, ia mentato besar-besar tepat di depan hatinya ‘GUE BISA HIDUP TANPA CINTA’ dalam bahasa latin dan memotong pendek rambut sepunggungnya sampai susah dibedakan dengan Sarah Sechan.
Syukurnya, patah hati Kalamare nggak lama-lama. Thank Mom, ulangnya lagi setiap mengingat momen di mana Ibunya selalu sabar merangkai kembali kepingan hidupnya yang berceceran seperti remah-remah rempeyek yang nggak sengaja diinjak Gajah. Setelah dirinya merasa agak baikan, Kalamare menguatkan diri untuk menulis setiap cerita patah hatinya menjadi sebuah novel utuh. Tujuannya sih sederhana: patah hati nggak boleh membuat kita jadi patah arang.
Kalamare mengedepankan karakter utama wanita yang nggak menye-menye setiap patah hati. Wanita itu juga menuliskan hal-hal yang nggak muluk-muluk. Banyak hal dalam hidup ini yang nggak selalu sesuai dengan ending novel romance, pikirnya.
Awalnya, novel Kalamare cuma butiran debu dibagi tujuh dibandingkan novel-novel bestseller karangan penulis lain yang kebanyakan happy ending. Kalamare sempat dikasih masukan sama editornya, Mbak Riri, buat nulis cerita yang happy ending namun ditolaknya mentah-mentah dengan alasan: HIDUP ITU HARUS REALISTIS.
Novel keduanya pun bernasib serupa. Cuma jadi pemeran hiburan di toko buku. Wanita itu lalu membahagiakan dirinya sendiri, perasaan tulisan gue nggak jelek-jelek amat deh dibanding so called selebtwit ono yang bukunya sukseis nangkring berminggu-minggu di top ten bestseller toko buku. Lantas, ia mengubah strategi pemasaran dengan membeli semua bukunya di toko buku tersebut lalu membagi-bagikan kepada teman-temannya dengan catatan mereka membuat reviu dengan jujur.
Suprisingly, akun goodreads buku keduanya dipenuhi sama komentar-komentar ciamik yang membuatnya lega. Yang lebih mengejutkan lagi, sebulan setelah itu editornya mengabarkan buku keduanya naik cetak lagi dan buku pertamanya yang sudah kadung diungsikan ke gudang penerbit banyak dipesan online.
Kejayaan nggak membuat Kalamare lupa kacang akan kulitnya. Semua royalti yang diterimanya diserahkan kepada Sang Ibunda untuk dikelola dengan baik termasuk mewujudkan cita-cita Ibunya untuk punya warteg sehat di garasi rumah.
Long story short, walaupun berbeda sekian ratus derajat dari Ibunya yang berhijab dan kalem, Kalamare yang pecicilan nggak pernah rendah diri meskipun ia berbeda. Kalamare juga bukan tipe yang gampang ambil hati. Buktinya setiap hari ia tetap melenggang dengan dada dibusungkan ala-ala Fahrani (model favoritnya, by the way) setiap kali keluar pekarangan rumah. Wanita itu tetap menyapa orang-orang yang kebetulan lewat di depannya dengan ramah seraya melemparkan lengkungan bulan sabit terbaik yang bisa ia lakukan. Walaupun ketika sudah agak jauhan, ia bisa mendengar sayup-sayup omongan tetangga yang membuat dadanya seperti diinjak-injak seluruh penghuni Taman Nasional Way Kambas.
Pertengkaran memalukan itu masih belum amnesia dari memori warga kompleks. Ya, mungkin karena sampai detik ini orangtuanya satu lagi nggak tersiar kabar, hilang bak ditelan bumi. Hidup ini udah sulit, jadi jangan mempersulit hidupmu dengan memikirkan kata-kata yang nggak mengenakan hati, wanita itu menguatkan diri.
Sudah menjadi rutinitas tetap Kalamare sebelum melenggang ke AntahKarana Coffee Shop untuk membantu membereskan garasi rumah dan seperangkat alat makan warteg sehat yang tutup sekitar pukul satu siang. Menit-menit itu dimanfaatkannya betul untuk banyak mengobrol dengan Ibunya seputar omset dan hal-hal remeh yang masih berkaitan dengan warteg sehat yang semakin hari semakin nggak santai pengunjung yang datang.
“Surprise!” Kalamare setengah berteriak setelah menutup pintu kaca AntahKarana dengan mendorongnya ke kanan.
“Wah, rambutnya baru lagi, Mbak?” sahut James, chef terbaik AntahKarana dengan excited—sudah hapal betul kebiasaan ganti-ganti warna rambut wanita itu.
“Rambutnya sih nggak, warnanya iya. Kata hairstylist, muka item gue lebih baik pakai warna turquoise supaya kesannya lebih ceria gitu, James. Eh, Arjudan, mana?” tanya wanita itu lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru AntahKarana dengan nggak sabar.
“Lagi nyari cincin, Mbak. Sebentar lagi kan mau nikah,” jawab Jeff dari balik singgasananya (meja dengan seperangkat alat membuat kopi)—yang beberapa waktu lalu menjadi yang terbaik pada Kompetisi Barista Nasional di Ubud.
“Oh.” Hanya kata itu yang bisa Kalamare sematkan untuk kabar baik pemilik coffee shop langganannya ini. Ada sebersit kekecewaan yang terpatri di wajahnya namun buru-buru ia enyahkan sebelum ekspresi nggak pantas itu dibaca sama karyawan di sini.
Setelah meletakkan bekal makan siang karyawan AntahKarana di pantry, dengan langkah malas, wanita itu berjalan menuju meja keramat di sudut yang menghadap ke jalan dan nggak lupa melakukan order, “As usual, ya, Jeff.”
“Pleasure was mine. Udah mau jadi guide gretongan gue dan Arjudan juga selama di Ubud dan sekitarnya.”
Tawa Kalamare berderai. “Nggak seberapa, ah, sama support kalian di sini buat kelangsungan karir kepenulisan gue,” jawabnya merendah.
Kalamare sudah dianggap seperti keluarga sendiri di sini. Bahkan, sepasang meja dan kursi berbahan jati di sudut yang menghadap ke jalan selalu terpasang tanda ‘reserved’ sebelum si penghuninya datang menjamahi.
Kalamare menyukai sudut tersebut. Sudut di mana ia bisa dengan bebas melihat setiap orang yang berlalu lalang masuk dan keluar. Dari pekerja kantoran yang selalu terlihat terburu-buru seperti dikejar debt collector, ibu-ibu sosialita yang gelegar tawanya kadang membuat Kalamare mendadak diserang so called writer’s block sampai beberapa artis ibukota dengan dandanan seperti akan pergi ke kondangan selalu menjadi perhatiannya sehari-hari di sini.
Perlakuan spesial itu bukan diberikan tanpa alasan. Arjudan nggak bisa memungkiri bahwa AntahKarana Coffee Shop yang dikelolanya nggak mungkin se-hits ini sekarang tanpa campur tangan Kalamare. Ramai dibicarakan di dunia maya maupun sosial media seperti twitter, instagram atau path. Beberapa kali didatangi oleh reporter majalah terkemuka untuk dimuat di kolom life style atau tempat nongkrong kece. Siapa lagi kalau bukan gara-gara keisengan Kalamare yang diam-diam menggunakan AntahKarana Coffee Shop sebagai setting di dalam novel best seller-nya yang sedang digarap oleh salah satu rumah produksi terkemuka untuk diangkat ke layar lebar.
Secara pribadi Kalamare telah menjadikan AntahKarana Coffee Shop sebagai rumah keduanya setelah rumahnya sendiri. AntahKarana didesain oleh si pemilik yang lulusan Arsitektur dengan konsep kebun. Di setiap sudut dari bangunan berbentuk kotak sabun diletakkan beberapa pot tanaman keladi segar yang khusus diambil dari kebun di halaman belakang AntahKarana. Di atas meja pasangan sansivera dan kaktus beraneka warna menambah kecantikan AntahKarana. Tanaman-tanaman tersebut dirawat dan diganti secara rutin sehingga selalu kelihatan fresh dan eye catching. Horden berwarna hijau rumput dan bunga anggrek bulan tak luput menjadi penghias jendela-jendela yang didominasi warna putih.
Barista-barista yang bekerja di sini juga dibekali standar yang mengharuskan mereka membuat dan mengantarkan sendiri coffee atau cake pesanan pengunjung. Bertanya langsung apakah kopi yang dibuat enak atau tidak dan diakhiri dengan meminta kritik serta saran untuk kemajuan AntahKarana. Setiap yang lagi patah hati atau nggak mood diwajibkan berpindah posisi dengan bagian cuci-cuci gelas atau piring agar nggak menimbulkan kekisruhan baik dari segi rasa atau desain latte art. Sekalian dicuci juga sih kenangan buruknya hehehe.
Kalamare tersentak mendapati Arjudan berdiri di sebelahnya. Pria itu mengenakan polo shirt biru ketat yang membentuk dadanya dan jeans yang di-ripped di bagian paha. Wajah kotaknya ditumbuhi bulu-bulu halus di bawah telinga sampai dagu. Hot as usual. Bibirnya menyunggingkan senyum asimetris yang Kalamare yakin bisa membuat perut wanita mana pun dipenuhi kepakan sayap kupu-kupu.
“Nggak juga. Belum ada sejaman,” sahut Kalamare seraya menatap Arjudan lekat-lekat lalu mengalihkan pandangannya ke goodie bag bertuliskan frank and co yang tergantung di jemari tangan kiri pria itu.
Jantungnya mencelus sampai perut.
“Kapan novel terbaru lo kelar? Perasaan dari kapan taun nulisnya nggak kelar-kelar,” celetuk pria itu setelah melirik cepat ketikan Kalamare, lalu terkekeh.
“Udah, deh, nggak usah ngeledek. Doanya aja biar penulisnya selalu diberikan inspirasi.”
“Ya udah lanjutin gih nulisnya. Gue ke belakang dulu ya ngecek-ngecek.”
Kalamare menatap punggung yang semakin menjauh itu dengan tatapan sedih. Ia merasakan matanya mulai sepet dan sedetik kemudian ada yang menggenangi kantung matanya.
“Kamu yakin mau nerbitin naskah ini?”
“Why not, Mbak? Toh, Arjudan juga nggak akan pernah sadar,” jawabku cuek.
Riri menatap Kalamare dengan tatapan sedih lalu menggenggam tangan wanita itu. “Kal, cowok adalah makhluk yang simpel. Jangan harap mereka bisa mengerti jika kamu tidak mengatakannya.”
“How can, Mbak? Aku sendiri bahkan nggak tahu di mana posisiku saat ini. Aku nggak mau malah jadi menghancurkan status yang selama ini melabeli hubungan kami lalu aku nggak mendapatkan apa-apa atas pengakuanku selain Arjudan memilih menjauh dan membenciku, Mbak. I can’t. I just can’t.” Aku menggeleng cepat.
“I’m sorry. Aku nggak bermaksud begitu,” Riri menggenggam tangan Kalamare lebih kuat.
“Don’t worry, Mbak. Kekacauan ini bukan salahmu, kok.”
“Aku dan AntahKarana tumbuh bersama-sama. Begitupun dengan yang kurasakan hari demi hari terhadap Arjudan. Seseorang yang nggak pernah sedetik pun memandangku sebelah mata. Seseorang yang menghargai bahwa manusia diciptakan untuk menghargai perbedaan. Seseorang yang membuatku sadar ya beginilah cinta. It’s just like you don’t want to expect anything, but you are still waiting, right?”
“Well… Aku rasa naskah kamu kali ini nggak perlu banyak revisi. I have sent to your email,” Riri mengambil jeda untuk menatap manik mata wanita itu lekat-lekat. “Sometimes, something isn’t happening for us right now doesn’t mean that it will never happen. It means we’re not ready for it.”
Kalamare mengangguk tanda mengerti.
“Mau nulis sampai jam berapa, Kal?” tanya Arjudan seraya mengelap-elap gelas di belakang coffee maker.
“Eh, udah mau tutup, ya, Ar?” sahut Kalamare cepat kemudian buru-buru menatap jam di tangannya.
“Nggak biasanya lo nulis sampai AntahKarana mau tutup, Kal. Biasanya kan jam delapan udah ngilang.”
“Hehehe. Deadline, Ar. Besok harus gue serahin ke editor revisiannya. Setengah jam lagi, ya?” tawar Kalamare seraya menatap Arjudan dengan tatapan harap-harap cemas.
“Gue juga masih banyak yang harus dibereskan sebelum pulang, kok. Take your time.”
“Thank. You’re very welcome, Ar,” seru Kalamare senang lalu melajutkan ketikannya.
Belum ada lima menit, gelombang penasaran yang melanda dirinya sejak pagi kembali menerjang. Sosok yang selama ini dikenal memiliki gairah hidup yang tinggi seperti kekurangan banyak glukosa. Lebih banyak melamun di pantry dan lebih parahnya, beberapa kali salah mengantarkan pesanan pelanggan. Betapa wanita itu sekarang susah sekali menahan untuk tidak bertanya. “Ar, lo baik-baik aja, kan?” celetuk Kalamare pelan. Sedetik kemudian sesal nggak berkesudahan menyelimuti dirinya.
Hanya ada suara dentingan gelas yang beradu dengan teman-temanya sebagai backsound dari penyesalan Kalamare yang semakin menggunung. Wanita itu sebenarnya nggak mau membuat kesan jelek di mata Arjudan pada hari terakhirnya di sini.
“Kabaca banget, ya, Kal?" sahut Arjudan akhirnya dengan suara nggak bersemangat.
Kalamare memutar tubuhnya menghadap sumber suara yang belum ada tanda-tanda selesai dari apa yang sedang ia kerjakan. Menata susunan cangkir sesuai dengan warna pelangi. Dari radius tempat wanita itu duduk, ia bisa melihat keteduhan dari tatapan yang selalu membuatnya damai setiap menepi di AntahKarana pudar digantikan dengan raut capek seperti ada berkilo-kilo masalah yang sedang ditahan bahunya. Arjudan yang biasanya ekspresif hilang ditelan monolog di kepalanya sendiri.
“Ar, gue ke sini bukan baru sekali dua kali atau sejam dua jam,” tutur wanita itu tenang. “Gue mengikuti perkembangan AntahKarana. Dari coffee shop kecil di ujung jalan tanpa plang sampai bangunan dua ruko dua tingkat,” kenang wanita itu. “Dari jumlah pegawai lo yang cuma secuil sampai bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain. Jadi, perubahan bahasa tubuh pegawai di sini pun gue hapal termasuk lo. Bukannya karena gue sering diam-diam memerhatikan tapi melihat semua hal di sini berkembang sudah menjadi makanan sehari-hari gue. Eh, terharu lo?”
Arjudan tersenyum tipis. “Thank, ya. Tanpa lo, AntahKarana mungkin nggak akan sebesar ini sekarang,” pria itu menatap seluruh penjuru AntahKarana dengan tatapan menerawang seperti sedang mengenang sesuatu. Suaranya yang biasa berat dan bulat terdengar mirip seorang anak kecil yang sedang membisikan rahasia besar kepada temannya.
Kalamare terdiam mendengar pernyataan Arjudan barusan. Sepertinya, pria itu tersinggung dengan ocehannya.
“Ar… “ Kalamare menurunkan nada suaranya namun masih bisa terdengar di dalam ruangan yang hanya menyisakan mereka berdua. “AntahKarana sesukses ini karena Tuhan melihat kerja keras lo semua mati-matian membangun AntahKarana. Gue sendiri aja merasa apa yang terjadi sama hidup gue sejak memijakkan kaki di sini sampai detik ini nggak lepas dari peran lo semua, Ar. AntahKarana and Team.”
Arjudan menghela napas kemudian berlalu ke coffee maker dengan dua cangkir berwarna hijau. “Gue putus sama pacar gue, Kal.”
Arjudan mengangguk pelan.
“Masalahnya apa? Bukannya lo sama Kania selama ini baik-baik aja, Ar?” cecar Kalamare nggak sabaran. “Sorry, Ar. Gue nggak… “
“Yang terlihat baik-baik aja di luar belum tentu baik-baik aja di dalam, Kalamare. Nih, kopi lo,” potong Arjudan.
Kalamare terkejut mendapati Arjudan sudah berdiri di sampingnya lalu meraih cangkir yang diulurkan pria tersebut. “Thanks, Ar.”
“Seharusnya gue lebih sensitif ketika Kania mengajak gue nikah buru-buru,” Arjudan mengambil duduk persis di depan wanita itu lalu menyesap kopinya dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Kania hamil satu bulan, Kal.”
Wanita itu membelalakan mata nggak percaya.
“Bukan gue yang bikin, ya. Udah ekspresi lo nggak usah lebay gitu, kali,” tambah Arjudan seraya mengibaskan tangan di depan Kalamare.
“Sorry, gue cuma apa ya… Cuma nggak ngerti aja. Lo kurang baik apa sih sama dia sampai dia tega-teganya, loh, Ar.”
“Berbuat baik itu kewajiban setiap manusia, Kal. Terlepas dari apakah kita akan mendapatkan balasan yang setimpal atau sebaliknya. Just do it from bottom of our heart.”
“Iya, gue tahu, Arjudan. Tapi, kan… “
“Udah, udah nggak usah dibahas lagi, ya, Kal. Gue mau nunjukin sesuatu buat lo. Special,” tukas Arjudan kemudian mengedipkan mata sebelum berlalu.
Dada wanita itu mendadak berdegup kencang mengingat Arjudan nggak pernah bertingkah seaneh ini. Iya, aneh. Karena pertemanan mereka selama empat puluh delapan bulan bisa dibilang biasa-biasa saja. Nothing special. Jadi, ketika Arjudan mengatakan satu kata kramat itu apalagi ditambah satu ekstra adegan mengedipkan mata, wanita itu agak-agaknya mulai kehilangan kewarasan diri dan kesadaran diri.
Selang satu menit kemudian, pria itu kembali muncul dengan membawa sebuntel kertas yang dijilid rapi lalu meletakkannya di depan dada wanita itu.
Kalamare tersentak. Nggak percaya dengan yang tergeletak di depan matanya.
“The story is about us, right ?” tanya Arjudan hati-hati.
Kalamare mengangguk pelan. Wanita itu masih nggak habis pikir dengan keteledorannya meninggalkan print out naskah novel terbarunya di AntahKarana. Duh, batinnya.
Arjudan membalik cepat ke halaman terakhir. “Kamu yakin ending-nya sedih begini?” Arjudan melirik Kalamare dengan tatapan serius layaknya seorang terdakwa. “Dua karakter utamanya, seorang penulis dan pemilik coffee shop nggak bisa bersatu gara-gara si pemilik coffee shop-nya akan menikah?”
Wanita itu nggak tahu harus berkomentar apa. Rasanya seperti maling yang tertangkap basah lalu tertimpa tangga. Yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan menanti. Ketakutan telah membelenggu pita suaranya untuk membela diri atau mengatakan naskah tersebut hanyalah sebuah cerita fiksi belaka yang terinpirasi dari…
“Aku cuma mau kasih masukan, aja, Kal. Itu juga kalau kamu berkenan. Berhubung si pemilik coffee shop-nya udah putus, gimana kalau akhirnya si pemilik coffee shop percaya bahwa cinta sejati yang selama ini ia cari ada di depan matanya sendiri? Si penulis yang hobi ganti-ganti warna rambut?”
Kalamare menatap Arjudan dengan tatapan speechless namun tak urung ia merasa geli sendiri mengingat apa yang ingin disampaikannya. “Secepat itu si pemilik coffee shop-nya move on?”
Keduanya lalu tertawa bersama dan menghabiskan malam itu dengan merevisi habis-habisan ending novel ketiga Kalamare.