Merayakan
Ganjil sudah, 3 Tahun lebaran tanpa salim orang tua.
2020 awal Covid-19 sudah dipastikan tidak akan bisa mudik dan bertemu, memang begitu kebijakan perusahaan dan menjadi budak korporat (begitu istilahnya), apa yang telah ditetapkan pemerintah selalu menjadi titah tak terbantah. Kala itu juga Bapak sakit, seperti strok ringan, sebelah dari tubuhnya tidak bisa bergerak, Ibu dan Adik-adik merayakannya di Rumah Sakit, Lontong yang telah dipesan hanya teronggok di rumah tidak terbuka, hampir tak tersentuh. Kue kering tersaji di meja tamu baru terbuka dari segelnya setelah hari ketiga takbir berkumandang, itupun Adik yang kelaparan bukan tamu yang berketuk salam.
2021 muncul kemungkinan mudik bisa dilaksanakan karena Covid kian menurun diagramnya. Namun pada saat masanya akan dilakukan, Pemangku kebijakan masih melarang berpergian karena ada lagi-lagi kemungkinan untuk memupuk kerumunan. Gagal, kali ini Ibu yang Tepar, gejala hampir seperti terpapar namun ternyata bukan, darah rendahnya menerjang. Dua hari ia tidak sanggup mengerjakan apapun, sebagai Ratu dalam kerajaan Prasojo dan satunya pemilik titel Wanita dalam rumah itu, seluruh pejantan hampir saja tidak makan apalagi merayakan. Dalam susahnya ia tetap memikirkan lauk pauk untuk di makan, hingga pada saatnya ku bersikeras Ia harus ke dokter untuk diperiksakan dan membawa pulang sejumlah obat. Tamu, pertanyaan lucu, itu lebih seperti menjenguk daripada berlebaran.
2022, kembali, ku harus bekerja untuk hidup di dunia dan tenang memilih makan atau tidak hari ini. Tahun ini Mudik sudah pasti, pemerintah malah menganjurkan, cuti bersama diadakan, dan tidak tanggung-tanggung, jumlah hari cuti bersama hampir sepekan. Sejak berpindah ke Natuna, ku sudah diingatkan bahwa tahun ini jadwal piketku untuk menjadi lelaki siaga untuk pengisian dan kerusakan mesin anjungan tunai mandiri, dan sesegera itulah ku melaporkan pada Ibu Suri untuk izin tidak balik ke rumahnya saat Lebaran. Ibu Suri seperti sudah paham, ini konsekuensi anaknya ketika sudah memilih untuk tidak lagi bekerja di Provinsi yang sama dengannya. Tapi kali ini menurut laporan yang diterima, lebaran dijalankan dengan khidmat, rendang, lontong dan kue sudah tersaji tinggal lelah lilah untuk menyambut tamu saja yang masih ku peringatkan agar setelahnya Ibu Suri bisa istirahat dengan cukup.
Yakin tidak rindu kampung?
Haha, Kopimu kurang getir untuk menilai seseorang yang sudah terbiasa jauh dari keluarganya.














