Dulu, pernah di fase senang banget ngobrol sama orang baru. Menyapa, mendengarkan keluh kesahnya. Juga aktif di banyak grup. Menjadi yang paling inisiatif, menjadi orang yang banyak ide. Senang melakukannya karena serasa menjadi lebih berdaya. Aku merasa menjadi diriku seutuhnya.
Namun, pernah juga di fase menjadi menarik diri. Setelah mendapat penilaian buruk dari orang yang ku hormati, sekaligus kusukai, dan kubanggakan saat itu. Aku pernah dikatakan TERLALU dominan, TERLALU mengatur. Terlalu... ah tidak nyaman jika diingat-ingat lagi.
Yang akhirnya, aku mundur teratur. Pernah menangis sejadi-jadinya, semalaman. "Salahku apa?" tanyaku. Aku menjadi lebih sensitif di kala orang lain membenarkan apa yang dikatakannya. Aku jemu pada keadaan.
Bodohnya, aku malah menutup semua pintu. Menyetujui apa yang dikatakannya. Pikiranku telah teracuni. Merasa tak berdaya. Menjadi pasif. Sebenarnya bukan karena apa yang dikatakannya, tapi bisa jadi karena yang mengatakan itu adalah orang yang berpengaruh dalam hidupku. Sedihnya, karenanya aku merasa tak berharga. Aku menjadi bergantung pada tanggapan orang lain. Tentu saja, itu bukanlah jati diriku sebenarnya.
Bilangan tahun berganti, aku berusaha berdamai dengan keadaan. Aku telah memaafkannya. Meskipun apa yang dikatakannya masih teringat, aku yang sekarang menjadi banyak berterima kasih padanya.
Rupanya, Allah memberikan pelajaran hidup padaku. "Jangan mudah berharap pada orang, nanti kamu akan kecewa. Sekalipun dia adalah orang yang kamu cintai. Jangan biarkan orang lain mengatur kebahagiaan kita."
Aku yang sekarang menjadi lebih tebal kupingnya. Tidak bermudah-mudah baper mendengarkan cibiran orang. Ya, memang setiap orang punya mulut buat berbicara, dan kita yang berhak memilih respon setelah mendengarkan. Aku yang sekarang, masih berupaya meluaskan baik prasangka. Bisa jadi masalah-masalah yang datang karena Allah ingin menjauhkan dari hal-hal buruk di masa mendatang.
Hari ini setelah ngobrol banyak dengan mentor, aku menemukan benang merahnya. Di tahap kesadaran, aku menyapa diriku kembali. "Hallo aku. Wajar memang jika kamu bergaya sutradara karena kepemimpinan dan integritas dalam diri lebih menonjol daripada hal lainnya. Gunakanlah potensimu untuk kebaikan. Hallo pejuang. Tidak masalah jika kamu aktif berkomunitas dengan banyak orang karena ide-ide brilianmu ternyata dirindukan."
Sungguh aku sangat bersyukur. Menuliskan ini adalah sebuah kelegaan. Mengukir resah menjadi kisah agar berbuah hikmah. Yang ternyata bermuara pada sebuah penerimaan.
Yakinlah, akan ada orang yang benar-benar mau menerima kekurangan dan kelebihanmu. Memahami untuk saling melengkapi di masa depan. Menjadikanmu yang separuh menjadi utuh.