27
Jumat malem, gue tidur sama Ibu. Kami berdua berbincang banyak hal. Sesuatu yang gue rindukan banget. Karena sejak September lalu, kondisi ibu agak lemah. Jadi meskipun gue kangen banget ngobrol panjang, gue milih diem dan membiarkan ibu beristirahat.
Kami berandai-andai, kalau kanker ibu ketahuan sejak dulu, apakah kondisinya akan lebih baik?
Manusia sebenernya tidak boleh berandai-andai. Karena setiap takdir itu pasti yang terbaik. Dan pengandaian yang dipenuhi perasaan yang tidak ridho terkadang membuat diri kita luput menangkap hikmah atas apa yang terjadi hari ini.
Hanya saja gue menceritakan hal ini karena ada hal yang menarik. Andai kanker ibu diketahui sejak stadium awal, apakah akan lebih baik?
Kanker usus itu perkembangannya menahun. Ibu sakit infeksi usus sebelum menikah, namun infeksi yang awalnya sakit banget itu mendadak menghilang gejalanya. Karena dulu teknologi deteksi dini nggak kayak sekarang, akhirnya ibu tidak memeriksakan usus beliau lagi.
Andai kankernya diketahui sejak awal, apakah kondisinya akan lebih baik dari hari ini? Belum tentu.
Bagaimana kalau tahunya pas gue sama kakak gue masih kecil? Bapak mikirin semua sendiri, belum ada bpjs, dan bapak masih LDR sama ibu.
Pengandaian yang panjang.
Tahun lalu, ibu ketahuan mengidap kanker stadium 4 pas udah ada bpjs, pas anak-anak beliau sudah besar jadi bapak tidak menghadapi semua sendirian, pas hubungan kami dengan tetangga jauh lebih baik.
Pas ibu sakit, kelihatan banget kalo banyak orang sayang sama ibu. Setiap hari banyak yang ngirim buah, jamu kunyit, kayu manis atau apapun itu. Dulu, gue jarang banget pulang ke rumah karena ada rasa canggung sama tetangga.
Gue lahir dalam kondisi yang beda. Sewaktu gue kecil, tetangga gue banyak ngebully gue. Tapi seiring berjalannya waktu, gue mendewasa dan tetangga-tetangga gue mungkin juga bertambah bijak. Lambat laun, gue ngerasa interaksi kami mulai beda. Mulai menghangat dan nggak ada kata-kata nyinyir.
Dan sekarang, pas gue mulai sering banget pulang ke rumah, segala hal yang ada di pikiran gue terbukti….Bahwa manusia bisa berubah. Nggak ada gunanya menyimpan sakit hati untuk kesalahan yang diperbuat orang lain di masa lalu.
Ketika hati kita mulai keras karena rasa sakit, kita yang harus berlatih untuk membuatnya menjadi lembut. Jangan biarkan rasa marah membakar hati kita hingga kita mendewasa dengan dendam yang membakar.
Hari ini gue bahagia. Gue udah bilang ke ibu bahwa gue bakal stay di sini terbuat nemenin ibu sama bapak insya Allah. It means, rencana gue PhD keluar bakal pending atau bisa jadi gue ambil PhD di Indonesia aja.
Rencana hidup gue berubah. Meskipun hari ini gue belum yakin sepenuhnya sama apa yang mau gue lakuin, gue yakin Allah akan menuntun kita dengan pilihan-pilihan-Nya yang jauh lebih baik.
Teori 27
Awal Januari lalu, gue ketemu sama temen gue yang lagi tugas di Surabaya. Habis ngobrol ngalor ngidul, temen gue nanya ke gue:
“Lo ga butuh bantuan gue?”
“Gue baik-baik aja insya Allah”
“Advice maybe Day. Gue kerja di finance lho. Tenang aja, lo ga bakal gue tawarin asuransi wkwkwk”
“Lo cerita ke gue aja deh. Di usia gue, lo ngapain?“
Temen gue ketawa. Gue denger semua ceritanya. Dan kami akhirnya sama-sama ketawa.
“24 - 28 itu usia terbodoh gue De ~XD ga kepikiran nabung. Main-main mulu. Yaaa pikiran gue sih ala-ala milenial. Travelling itu nyari pengalaman. Tapi toh nyatanya pengalaman bisa dicari lewat jalan lain”
gue ga bakal nyeritain detail kisahnya temen gue. Tapi dari pembicaraan kami, kami sampai pada kesimpulan bahwa segala hal yang ada di dunia ini butuh cost dan cost itu bukan cuma duit tapi juga waktu, mood, kesehatan, hubungan kita sama keluarga dan banyak variabel lain yang mungkin nggak terpikirkan oleh kita pas masih jadi remaja.
“Gue mungkin ga relijius kayak lo De. Tapi gue yakin kalo di luar sana, banyak banget orang-orang di usia lo yang galau dan terkejut dengan efek dari gaya hidup sebelumnya yang nggak terkelola dengan baik. Tapi semua bakal terlëwati. Lo jauh lebih strong dari yang gue bayangin“
“But you never see…..i am crying inside“
“Bayi lahir juga nangis Day. Habis itu toh dia survive“
“Kita dibentuk oleh lingkungan, pola asuh orang tua, sikap orang lain ke kita, buku yang kita baca dan banyak hal. Dimana kalau hal-hal yang ngebentuk kita itu ada something yang nggak baik, ketidaksempurnaan kita itu baru kerasa banget pas usia 27“
“Why 27?“
“Karena di umur 27, lo hidup sebagai diri sendiri, bikin keputusan sendiri dan mencintai orang yang lo sayang dengan effort lo sendiri“
“Gue mulai hidup sendiri sejak umur 18“
“Iya. Di umur 18, orang masih sangat energik dengan impian-impiannya. Umur 25, orang ngerasain euforia atas segala pencapaiannya. Umur 27, pas pencapaian itu mulai kerasa biasa aja, dan kita harus dihadapkan pada banyak hal yang mungkin aja bikin kita hampa misalnya jodoh belum dateng meanwhile temen udah gendong anak, keluarga butuh lo tapi kerjaan lo banyak, atau kita sadar kalo ortu kita mulai menua dan kita tidak bisa mendampingi beliau setiap waktu. Nikmatin aja usia ini Day. Kalo lo lolos dengan baik, lo bakal jadi orang yang kuat. Ini ga ada referensinya. Cuma generalisasi yang gue bikin sendiri. Tapi lo boleh inget-inget ini saat lo down banget“
“Satu lagi Day. Mulai sekarang, hidup lo harus penuh perhitungan. Manajemen duit, manajemen waktu, manajemen kondisi badan biar tetep sehat dan ga gampang stress. Kalo lo pengen beli sesuatu, itung-itung manfaat dan cost sosialnya. Jangan sampe idup lo keseret-seret masalah karena ketidak mampuan lo menahan diri. Jangan sampe lo keseret perlombaan gaya hidup yang nggak ada habisnya“
“Thanks a lot :)“
“sama-sama Deooo…“
gue termasuk orang yang lalai sama gaji pertama, lalai sama waktu luang.
Hari itu sebenernya banyak banget hal yang kami bicarakan. Terinspirasi Marie Kondo, kami menyadari bahwa selain decluttering ruangan, kita pun harus decluttering pikiran dari hal-hal yang mendistraksi kita dari tujuan hidup kita yang sebenernya.
Seperti mbak Kondo yang mengajarkan kita untuk membuang benda-benda yang tidak kita butuhkan meskipun kita menyayanginya, kitapun harus tegas untuk bertanya pada diri sendiri, seberapa kita perlu menukar waktu kita untuk mengerjakan hal-hal yang tidak kita butuhkan.
“Terakhir dari gue Day. Jangan pernah menunda waktu untuk berbahagia. Banyak orang yang berjuang menggapai cita-cita lalu jatuh bangun dan dia berpikir bahwa di depan sana dia akan menemukan kebahagiaan. Padahal kebahagiaan itu ada di setiap waktu. Saat kita jalan, berlari, menunggu. Hanya saja hati kita lebih suka mendoktrin bahwa kebahagiaan ada di depan sana sehingga kita lupa dengan kebahagiaan hari ini“
“Intinya bersyukur setiap waktu kan?“
“Ah ya, that’s it“
Surabaya hari itu hujan. Kami menghabiskan coklat panas sambil bercengkrama dan menikmati masa lalu.
Selamat lahir kembali di usia 27 :)















