Cerpen : Siang yang Penat dan Malam yang Sendirian
Masalah-masalah yang kita hadapi, sejatinya hanya kita hadapi sendiri. Semua orang yang ada disekitar kita, mereka tidak benar-benar bisa merasakan apa yang kita rasakan. Meski, harus kita akui. Kehadirannya setidaknya membuat kita merasa tenang karena bisa bercerita.
Setelah kita berpisah dengan mereka, pulang ke rumah, menemukan kembali masalah-masalah yang berisik, berteriak di setiap sisi dinding, dari setiap sudut lantai. Aku segera berlari ke kamar, membanting pintu, menutup telingaku dengan bantal. Bahkan, saat malam yang harusnya aku bisa tidur dengan tenang. Pintu kamarku tak mampu menghalangi kebisingan itu, menembus pikiranku yang hendak tidur. Membuat mimpiku menjadi buruk, tidur yang gelisah.
“Kamu kapan nikah, udah mau 30 tahun lho, keburu ketuaan!”
“Ngapain sih kerja mulu, ga kasihan apa sama anakmu?”
“Kamu keasyikan kerja sih, kecapekan, makanya ga hamil-hamil.”
“Ku kasih tahu nih gaya-gaya yang bisa dipakai, biar cepet hamil kayak aku.”
“Kenapa ga nyicil rumah aja, daripada ngontrak mulu.”
“Ga usah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga didapur, nanti pada jiper tu cowok-cowok.”
“Eh, jadi perempuan itu harus pinter biar bisa jadi madrasah buat anak-anak.”
Lah tadi katanya ga boleh sekolah tinggi-tinggi?
* * * * *
Aku ingin tidur nyenyak sekali saja, boleh?
©kurniawangunadi | yogyakarta, 24 juli 2020