“Jarak” @andhikahadip (Cover) oleh Yani Anisha #np di #SoundCloud
Jarak hanya memisahkan kau dan aku, bukan kita ~ @a-hap
Ya Allah, bagus :’(
No title available
art blog(derogatory)

Janaina Medeiros
will byers stan first human second
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Xuebing Du
TVSTRANGERTHINGS

@theartofmadeline
tumblr dot com

Origami Around
todays bird
h

No title available
YOU ARE THE REASON

shark vs the universe

ellievsbear
Mike Driver
No title available

JBB: An Artblog!
Monterey Bay Aquarium
seen from Brazil
seen from United States

seen from India

seen from United States
seen from United States
seen from Sweden

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Germany

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from United States

seen from Austria
seen from United States
seen from United States
@annoyinglysilly
“Jarak” @andhikahadip (Cover) oleh Yani Anisha #np di #SoundCloud
Jarak hanya memisahkan kau dan aku, bukan kita ~ @a-hap
Ya Allah, bagus :’(
Aku jatuh cinta pada kesederhanaan; sebab kita tak perlu berpegangan tangan, tapi takut untuk kehilangan.
(via a-hap)
Pernah sesekali menengok ke belakang lalu berkata ‘aku pernah sebodoh itu, menginginkanmu ada di hidupku’
(via jinggakalasenja)
Mungkin aku terlalu membosankan, sampai kau butuh teman berbincang
Selain aku (via jinggakalasenja)
sama kayak pesawat yang perlu landasan pacu, kita juga perlu masa lalu untuk landasan kita berpacu dan kemudian "terbang"
Lilin Kecilmu
Ketika duniamu gelap, Tuhan menghadirkan aku layaknya sebatang lilin. Kau bakar diriku agar kau tak ketakutan lagi. Kelip cahayaku mengusir lelahmu. Ketakutan akan gelap sedikit tersimbak ketika kau tersenyum sesaat setelah menyalakanku.
Kau tak takut lagi. Dan aku tak peduli lagi. Biar perlahan api mulai menghabiskan hidupku, selama kau tak sedih lagi, aku tak peduli.
Kau bawa aku ke mana-mana. Seakan saat gelap hidupmu, akulah temanmu satu-satunya. Kau bercerita, kau berbagi tawa, kau curahkan segala keluh kesah padaku; Cahayamu satu-satunya.
Hingga suatu saat lampu kembali menyala. Kau tersontak lalu terdiam sebentar. Menatap aku, seakan aku tak kau butuhkan lagi. Meniup apiku, seakan cahayaku tak menghangatkanmu lagi.
Lalu kemudian kau berbahagia. Bersorak-sorai sambil tertawa riang karena lampu kembali menyala– seakan saat itu tawamu sedang merayakan aku yang berduka karena dibunuhmu begitu saja.
Sebenarnya tak pernah terlintas dalam hatiku untuk mengalah. Namun apa artinya berjuang, jika tangan yang ingin aku genggam lebih memilih menggenggam tangan orang lain.
(via mbeeer)
Jika suatu saat kau mendengar kabar bahwa aku telah jatuh cinta lagi. Percayalah bahwa untuk melaluinya, aku harus melalui puluhan malam berharap kau akan kembali; dan puluhan kali kecewa karena ternyata kau tak kunjung ada.
(via mbeeer)
baru.
sekarang 1.18 am. masih di pare. 1 januari 2016. tahun baru. awal yang baru kah?
entah. aku sudah lelah merangkai kata demi kata untuk mengungkapkan isi hatiku di 2015 kemarin. masih beberapa jam yang lalu. kali ini tetap sama aku menulis untuk seseorang disana yg (mungkin) bahagia dengan seseorang. sayangnya bukan aku. haha. aku janji sama diriku, aku mau ini tulisan terakhir ku buat kamu. kalau kamu membuatku menulis tentangmu lagi berarti kamu menyakitiku (lagi).
di 2015 kemarin aku bertemu kamu yang bagaikan pelangi memberi sejuta warna namun kemudian hilang.
di 2015 kemarin aku tertawa bersamamu. disaat itu juga aku menangis karnamu.
di 2015 kemarin kamu memberikan ku banyak harap sejuta kata indah bahkan kenyamanan yang membuatku lupa bahwa itu tak akan berlangsung lama.
di 2015 kamu bilang kamu takut gak bisa ngebahagiain aku. di 2015 juga kamu bilang kamu nyaman sama aku.
di 2015 kemarin kamu membuatku sesak karna tertawa bersama mu. di 2015 itu juga aku sesak karna menangisimu.
di 2015 kemarin ketika kamu bilang ingin sendiri dan tak bisa bersama ku bahkan kamu bilang aku takut kamu sakit karnamu. di 2015 kemarin pula aku tau kamu pergi karna kamu sadar kamu menyayangi orang lain, dan itu sangat membuatku sakit. remuk bahkan.
aku gak tau harus bilang apa percaya atau tidak namun itu kenyataannya, kamu melepasku. ya aku ikhlas. karna memang kamu berhak bahagia bersama dia yang kamu sayang.
sapa bilang aku sakit hati? tidak! bahkan aku sudah terlalu lelah merasakan sakit hati atas semua perlakuan dan omonganmu hingga membuat hatiku hancur.
sebanyak apapun aku mencari cara agar kamu melihatku itu tidak akan pernah terjadi. karena kamu tak akan pernah menatapku yang bagaikan noda dibajumu yang sangat mengganggu.
yaaa!!! di taun ini mgkn aku harus melawati masa sulit. apa kau pikir melupakanmu sangat mudah? apa kau pikir lepas dari rasa takut itu mudah? apa kau pikir kembali ke duniaku ke diriku sendiri itu mudah? itu sulit !!! pikirkan! kamu dulu yang gak aku kenal jadi seseoarang yang aku pikirkan!
aku gak mau kayak gitu aku capek ikut arahmu. aku menyerah sekarang tentangmu aku menyerah sekarang.
aku akan memulai semua yang baru. sulit memang. tapi aku tidak mau sakit terlalu lama lagi. aku menyerah tentangmu.
pare 1 januari 2016 -nadia 1.38 am-
tulisan ku terlalu jelek. semoga terbaca.
Entah sudah berapa kali hati ini kupermainkan untuk sebuah tulisan.
Atas bahagia yang sering kali kuhancurkan untuk sebuah kesedihan, hati ini kupatahkan.
Atas kesedihan yang sering kali kutertawakan untuk sebuah kebahagiaan, hati ini kutipu habis-habisan.
Namun dari sanalah aku mengerti arti sebuah kepuasan. Menghasilkan sebuah tulisan dari hati yang sering kali kupermainkan.
Terima kasih, telah menjadi hati yang tulus untuk terus belajar dari yang menyakiti.
(via a-hap)
Hujan di Minggu Pagi
Halo sayang, Masihkah kamu ingat aku? Kalau aku— masih. Tak apa. Aku tidak berharap kamu ingat ataupun sadar. Aku hanya ingin sekedar kita bisa bertukar cakap seperti dulu lagi.
Belakangan ini, aku sering dihantui beberapa mimpi buruk. Mimpi perihal kisah-kisah lama kita yang ternyata aku tak bisa mengulanginya lagi. Entah kenapa, setelah kamu pergi, kenyataan mulai menyadarkan aku bahwa dirimu pernah sangat berarti.
Kita pernah melewati beberapa musim hujan bersama-sama. Berbasah kuyup di atas kendaraan roda dua, atau sekedar mampir untuk menunggu hujan reda.
Kita berbicara, bercengkrama, dan saling jatuh cinta sehebat suara hujan deras kala itu. Banyak, tapi tetap teratur.
Ada juga kita yang saling sembunyi-sembunyi menggengam tangan masing-masing. Ataupun kita yang saling menyandarkan diri menatap hujan tanpa ada satu katapun yang terucap.
Walau kita diam seribu bahasa kala itu; Tapi, genggaman tangan, senderan tubuh, dan harumnya parfummu, mampu membuka semua tema percakapan yang sibuk berlalu-lalang di dalam benak kita saat itu.
Sungguh, sayang; Bersamamu, dalam keadaan sediam apapun, aku tak pernah merasa sepi.
.
Sekarang— Musim hujan hampir datang lagi. Dan aku mulai merasa bosan. Sangat bosan untuk terus-menerus mengakui bahwa diamku yang sekarang sudah bukan seperti diamku yang dulu lagi. Diamku yang sekarang benar-benar mengartikan sepi.
Seperti hujan yang kerap menetes di minggu pagi. Teratur— tapi tak punya arti.
Kadang, dengan pergi, seseorang yang tadinya tidak pernah peduli menjadi tahu bahwa dirinya pernah sangat dicintai.
(via mbeeer)
Mereka selalu bertanya kepadaku mengapa semuanya selalu tentang kamu. Padahal mereka tidak tahu, bahwa dalam kamu, aku menemukan semuanya.
(via mbeeer)
Memang, dengan pergi meninggalkannya tidak menjamin kau jadi bisa hidup lebih bahagia. Tapi percayalah, setidaknya kau jadi menunda untuk sakit hati lebih lama.
(via mbeeer)
Mari bermain. Peraturannya mudah, jangan mendekat jika tidak ingin tinggal, dan jangan mencoba bermain ketika masih menggenggam hati orang lain.
(via mbeeer)
Yang kubenci dari perpisahan adalah ketika aku harus menghadapi pertanyaan orang-orang yang sempat melihat kita dulu bahagia seorang diri. Dan di dunia barumu sana, kau tak peduli sama sekali.
(via mbeeer)