Saleh Instan Ala Media Sosial
Bagi yang pernah membaca salah satu karya Prof Kunto (Muslim Tanpa Masjid) pasti dapat menebak isi keresahan saya kali ini. Keprihatinan beliau tentang fenomena âbelajarâ Agama Islam melalui media sosial, ikut mewabah di dalam pikiran saya. Banyak sekali ulama baru yang tiba-tiba muncul bersamaan. Baik di kolom timeline, di muka homepage, atau di kolom komentar. Mereka saling berdebat, dan saling unjuk kealiman di laman maya. Bahkan tak sedikit yang ikut merespon dan influenced.
Teringat dulu ketika masih duduk di bangku Muâallimin, seorang guru mengajarkan kami konsep ilmu. Beliau adalah Ust. Anton Ismunanto. Seorang guru dan pamong asrama inspiratif yang sering menyebut dirinya sebagai âPenggembala Santriâ.Â
Konsep ilmu yang beliau ajarkan adalah tentang modal wajib yang harus dimiliki seorang murid untuk menuntut ilmu yang dirumuskan oleh Imam Syafiâi. Setidaknya, ada enam bekal wajib yang perlu dibawa: Kecerdasan, Semangat, Kesungguhan, Biaya, Bersahabat dengan Guru, dan Waktu yang Panjang.
Dari keenam konsep tadi, dua terakhir adalah yang paling sering dilanggar paling jarang ditemui (atau mungkin tidak ada sama sekali) pada diri para murid Media Sosial. Yang lebih suka disebut oleh Prof Kunto sebagai âMuslim Tanpa Masjidâ.
Bagi saya mungkin tidak melulu harus sampai bersahabat, minimal punya terlebih dahulu. Barulah setelah kita memiliki guru, cintailah beliau dan bersahabatlah. Adanya fenomena muslim tanpa masjid ini menunjukkan bahwa kehadiran seorang guru tak lebih penting dari sosok yang memiliki banyak followers. Siapapun yang tampak pandai merangkai kata yang diikuti banyak orang akan lebih menarik untuk diikuti ketimbang seorang guru yang telah melalui proses belajar lebih panjang. Entak diikuti ucapannya, atau bahkan gaya berpikirnya. Pendapatnya tampak lebih pantas untuk dianggap benar, bahkan dalam beberapa kasus sampai melahirkan fanatisme.Â
Para ulama Islam sejak dahulu hingga sekarang selalu belajar melalui seorang guru secara langsung. Sebab, adanya proses keterkaitan antara guru dan murid adalah substansi/unsur wajib yang harus ada dalam segala proses pendidikan.
Sekalipun 1000 hadis bisa didapat dengan sekali ketuk layar atau kursor sekarang ini, tak akan bisa disamakan dengan 10 hadis yang didapatkan berbulan-bulan oleh para rawi hadis zaman dahulu. Kita belum tentu mampu menghafal, meski satu dari ribuan hadis yang instan didapat. Namun, para ulama hadis yang berjuang bertahun-tahun bertemu dan mencari guru mampu hafal hingga ribuan hadis. Sebagaimana disampaikan Ust. Nuzul Dzikri, ini adalah persoalan keberkahan yang hanya bisa diraih dengan ketekunan, kesabaran, dan waktu panjang.Â
Kedua tradisi waris-mewariskan diatas adalah pembeda utama antara ilmu (science), dan informasi (information/news). Mereka yang mendapatkan ilmu secara instan dari media sosial hanya berstatus âtahuâ sebagaimana orang yang juga âtahuâ tentang suatu berita. Mereka yang belajar hanya sebatas dari media sosial tidak akan mencapai derajat âpahamâ seperti mereka yang memiliki guru dan belajar padanya dalam kesabaran panjang.
Menjadi muslim tanpa masjid juga menjadikan kita cenderung mudah untuk berpikir eksklusif. Ini terjadi karena kolom caption dan komentar di medsos terlalu sempit untuk melakukan kajian yang luas dari beragam perspektif. Hal ini akan memunculkan karakter followers yang terjebak pada pandangan dikotomis dan bipolar. Pada akhirnya akan muncul karakter fanatis dan sikap-sikap yang mudah menyalahkan atau mengkafirkan (takfiri) kelompok yang berbeda.
Fenomena Muslim Tanpa Masjid ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Selain Ulama instan, dewasa ini juga mulai muncul mereka yang diistilahkan dengan âHijrah Instanâ dan âTerharu dengan lantunan Alquran.Â
HIjrah instan ini merupakan istilah yang muncul semenjak pengidolaan sosok ideal di instagram atau medsos lain mulai bergeser ke arah gaya berpakaian islam, gerakan nikah muda, dan memajang caption dakwah.Â
Ketiga hal diatas bukanlah yang sedang saya persoalkan. Sebab ketiganya (pakian muslim/libaasut taqwa, nikah, dan dakwah) adalah perintah Allah yang tercantum lengkap dalam alquran. Yang saya persoalkan adalah munculnya sekelompok orang yang mengklaim bahwa hijrah itu cukup dengan beralih fashion dari gaya barat menjadi baju taqwa. Atau hanya dengan nikah muda dengan alasan untuk menyegerakan sunnah dan menghindari zina. Atau pula hanya dengan copas caption dan broadcast dakwah yang tampaknya baik, namun bisa jadi berita bohong atau belum benar sepenuhnya.Â
Saya tidak sedang ingin menghakimi mereka yang sedang proses berhijrah. Namun perlu diingat bahwa pemahaman tentang hijrah itu perlu diperluas. Sebab, sempitnya pemahaman kita tentang hijrah (bahkan tentang jihad), tak lain karena kita hanya belajar melalui media sosial yang maya.
Hijrah adalah persoalan amaliyah. Bagaimana kita mengubah perilaku dan cara berpikir kita menjadi lebih baik dan sesuai sunnah. Sehingga dalam berhijrah juga diperlukan ilmu. Sedang untuk meraih ilmu kita memerlukan guru dan kesabaran dalam berproses sebagaimana saya jelaskan di awal.
Kemudian feomena terakhir yaitu âTerharu dengan lantunan Alquranâ.
Apa yang salah dengan terharu? Terlebih pada lantunan Alquran? Sebelumnya saya akan sedikit bercerita terlebih dahulu. Suatu ketika saya cukup terusik dengan tulisan seorang Peneliti kajian keislaman di Universitas Riau. Nama beliau Bambang Putra Ermansyah. Biasa menyebut dirinya Ibam. Beliau pernah mengkritisi soal adanya beberapa orang yang mengkalim menangis haru terhadap Alquran.Â
Namun bukan karena mereka menhayati makna dan tafsirnya. Melainkan karena mendengar nada tilawah para Qoriâ yang membaca Kalam Ilahi penuh keindahan. Bukan hanya Bang Ibam saja yang pernah mendapati hal demikian. Saya pun pernah medengar kejadian serupa dari jamaah saya setelah saya rampung mengimami salat.Â
Lucunya adalah, bahkan saya sendiri berusaha untuk menangisi bacaan saya sendiri saja tak mampu. Bagaimana mungkin mereka yang baru mendengar satu-dua kali mengaku menangis karena nada yang indah? Tentunya saya belum mampu menangisi bacaan saya sendiri karena saya sendiri belum mampu menghayati tafsir ayat Kalamullah yang saya baca secara lebih dalam. Bahkan saya beberapa kali diimami oleh seorang imam yang nada bacaannya begitu standar. Namun tampak menangis melalui isakannya yang terdengar oleh jamaah, dan bacaannya yang tetiba terjeda.
Lalu apa kaitannya dengan media sosial? Media sosial menyajikan segala hal. Mulai dari yang bersifat kolektif, hingga yang privat. Semuanya menjadi konsumsi publik secara bersamaan. Termasuk rekaman para Qoriâ yang melantunkan ayat suci Alquran. Baik dalam format file audio atau video.Â
Sebagaimana kita amati, mereka para Qoriâ seketika menjadi sosok ideal yang cukup banyak diidolakan para kaum muda muslim. Sosok mereka menjadi alternatif lain dari pengidolaan terhadap oppa-oppa korea. Baik di instagram maupun youtube, video mereka laris ditonton dan meraih banyak like. Ribuan bahkan jutaan followers membanjiri kolom instagram secara khusus. Bahkan tak jarang orang yang menjadikan mereka sebagai calon âimamâ impian masing-masing.
Hal ini menunjukkan adanya pergeseran esensi. Dari tafsir yang semestinya lebih wajib untuk ditadabburi, menjadi sekedar nada yang cukup didengar. Membaca dengan baik dan indah memang perintah Allah (wa rattilil qurâaana tartiila). Namun jangan sampai tertukar antara mana yang lebih substansial untuk dihayati dengan penuh kekhusyukan.
Terakhir pesan saya, bagi diri saya, kawan-kawan pembaca, atau siapapun. Bagi kita yang memang berkeinginan untuk mendalami ilmu apapun, cobalah mencari seorang guru yang tepat dan bersabarlah. Fisikawan barat dalam mendalami ilmu fisikanya memerlukan seorang guru. Para cendekia dan filsuf Yunani pun juga berguru sebelum menjadi bijak. Apalagi Ilmu Islam, yang akan menjadi landasan dan kontrol utama bagi kita sampai di kehidupan kekal akhirat.Â
âTanpa guru, ilmu tidak akan pernah menjadi berkahâ. Wallahuaâlam.