seen from Türkiye
seen from Romania
seen from Singapore

seen from Switzerland

seen from Singapore
seen from China

seen from Malaysia

seen from France

seen from Maldives

seen from United States

seen from Malaysia
seen from China

seen from United States
seen from Poland
seen from Japan
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
Setelah menikah nanti, pikirkan dan antusiaslah setiap hari tentang: kebaikan apa yang hari ini akan kuberikan untuk pasanganku? Lebih tepatnya, sama-sama antusias dan saling memikirkan.
—Taufik Aulia
[Jika Nanti, Aku Jatuh Cinta Lagi..]
Jika nanti aku jatuh cinta lagi, aku ingin mencintai tanpa meninggalkan Allah sebagai muara cintanya. Aku ingin mencintai sesuatu karena-Nya, bukan mencintai-Nya karena sesuatu.
Tak akan ku gantungkan harap pada berhala berhala palsu yang justru ku anggap abadi, namun ternyata semu. Pada sesuatu yang membuatku lalai dalam mengingatnya. Padahal IA lah yang paling mencintaiku tanpa syarat. Dengan utuh.
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah…”
(QS. Al Baqarah: 165)
Ku titipkan rasa dan asa serta masa depan ku berada dalam genggaman-Nya. Aku percaya, yang terbaik sedang memantaskan, berharap kelak dipersatukan dalam sebaik baik keadaan, semulia mulia cara, dan terikat dalam naungan cinta-Nya, hingga abadi berlabuh di jannah-Nya..
✍🏻 Masjid Syekh Zayed Solo, 21 Feb 2026
Balaa Syahidnaa!
karenanya keimanan itu adanya dalam hati, supaya kita tak merasa lebih baik dari yang lain. Andai keimanan itu ada penanda di dahi, pasti kita mudah takabur
itu pula mengapa Allah berikan indikasi akhlak yang baik itu senantiasa merasa dirinya tak lebih baik dari yang lain, agar kita menghargai setiap orang
tugas kita bukan menyalahkan kekurangan orang lain, tapi mencari kelebihannya, dan mengarahkannya pada jalan islam, menunjukan jalan yang lurus
sebab takkan cukup pengemban dakwah untuk bisa membangkitkan islam, takkan pernah terlalu sedikit musuh untuk dilawan, berbaik sangkalah
tiap-tiap jiwa pada asalnya sudah bersumpah mengakui Allah, "Balaa syahidnaa!", kita hanya mengingatkan kembali komitmen dan janji itu
permudah islam untuk dikenal, perindah dirimu sebagai pengantarnya, andaikan masih belum diterima, ingatlah. Dakwah itu sebenernya untuk keperluanmu sendiri.
Reaktualisasi Fitrah dalam praktik Dakwah
Tentang Kebaikan dalam Surah Yusuf
1. Allah yang menilai Ihsan seseorang karena hikmah dan ilmu yang dianugerahkan.
{ وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُۥۤ ءَاتَیۡنَـٰهُ حُكۡمࣰا وَعِلۡمࣰاۚ وَكَذَ ٰلِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُحۡسِنِینَ }
[Surat Yusuf: 22]
2. Mengingat Ihsan/kebaikan itu akan menjadi benteng dari kemaksiatan
{ وَرَ ٰوَدَتۡهُ ٱلَّتِی هُوَ فِی بَیۡتِهَا عَن نَّفۡسِهِۦ وَغَلَّقَتِ ٱلۡأَبۡوَ ٰبَ وَقَالَتۡ هَیۡتَ لَكَۚ قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ رَبِّیۤ أَحۡسَنَ مَثۡوَایَۖ إِنَّهُۥ لَا یُفۡلِحُ ٱلظَّـٰلِمُونَ }
[Surat Yusuf: 23]
3. Reputasi ihsan terlihat bahkan dikala kesempitan
{ وَدَخَلَ مَعَهُ ٱلسِّجۡنَ فَتَیَانِۖ قَالَ أَحَدُهُمَاۤ إِنِّیۤ أَرَىٰنِیۤ أَعۡصِرُ خَمۡرࣰاۖ وَقَالَ ٱلۡـَٔاخَرُ إِنِّیۤ أَرَىٰنِیۤ أَحۡمِلُ فَوۡقَ رَأۡسِی خُبۡزࣰا تَأۡكُلُ ٱلطَّیۡرُ مِنۡهُۖ نَبِّئۡنَا بِتَأۡوِیلِهِۦۤۖ إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ }
[Surat Yusuf: 36]
4. Penilaian Ihsan tidak lahir dari diri tetapi datang dari orang lain yang bahkan pernah menyakiti
{ قَالُوا۟ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡعَزِیزُ إِنَّ لَهُۥۤ أَبࣰا شَیۡخࣰا كَبِیرࣰا فَخُذۡ أَحَدَنَا مَكَانَهُۥۤۖ إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ }
[Surat Yusuf: 78]
5. Barang siapa yang berbuat Ihsan (taqwa dan sabar) maka akan Allah muliakan
{ قَالُوۤا۟ أَءِنَّكَ لَأَنتَ یُوسُفُۖ قَالَ أَنَا۠ یُوسُفُ وَهَـٰذَاۤ أَخِیۖ قَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَیۡنَاۤۖ إِنَّهُۥ مَن یَتَّقِ وَیَصۡبِرۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا یُضِیعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ }
[Surat Yusuf: 90]
6. Ketika diri menyadari bahwa semua kebaikan datang dari Allah, maka kebahagiaan yang akan ia rasakan.
{ وَرَفَعَ أَبَوَیۡهِ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ وَخَرُّوا۟ لَهُۥ سُجَّدࣰاۖ وَقَالَ یَـٰۤأَبَتِ هَـٰذَا تَأۡوِیلُ رُءۡیَـٰیَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّی حَقࣰّاۖ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِیۤ إِذۡ أَخۡرَجَنِی مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَاۤءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ بَیۡنِی وَبَیۡنَ إِخۡوَتِیۤۚ إِنَّ رَبِّی لَطِیفࣱ لِّمَا یَشَاۤءُۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِیمُ ٱلۡحَكِیمُ }
[Surat Yusuf: 100]
"Ihsan dimulai dari dalam (penilaian Allah), terlihat oleh manusia dalam ujian sampai berujung pada kemuliaan. Dan akhirnya semua kebaikan dikembalikan kepada Allah yang Maha Rahman"
" Ihsan itu bukan tindakan sesaat, tapi identitas yang diuji pada setiap keadaan"
Tentang Kalah & Taubat, dan Pesan Terselubung Dibaliknya
......
Mari kita mulai tulisan ini dengan berandai-andai. Bayangkan kamu adalah sebuah pelatih dari sebuah tim besar sepakbola di suatu liga, dengan total 38 pertandingan harus dijalani.
Ekspektasi besar dari fans dan manajemen tim semua tinggi, yaitu membawa tim yang kamu latih agar juara di akhir kompetesi.
Artinya tiap pertandingan, kemenangan adalah hal mutlak yang harus diraih. Semua beban dan tanggungjawab itu, kini ada di pundakmu!
.
Kompetisi pun dimulai. Tim yang kamu latih, di 3 pertandingan awal berhasil menang, sempurna. Hasil yang sementara cukup untuk membuat kamu yakin dalam mengarungi kompetisi. Namun, tren positif itu ternyata tidak berlangsung lama.
Di pertandingan ke 5, tim kamu kalah. Tidak hanya sekali, bahkan tim kamu kalah 3 kali beruntun. Hasil yang membuat kamu merasa gagal, terpuruk, dan kecewa akan dirimu sendiri sebagai pelatih.
Tim kamu yang awalnya memimpin kompetisi, kini harus turun peringkat dan peluang juara pun terasa tertutup. Sebagai pelatih, kamu terus menerus dikritik oleh fans, dan terus disorot negatif oleh media.
......
Inilah momen dimana kamu rasanya ingin menyerah, atas kesalahan dan kegagalan yang dialami oleh tim kamu. TAK BERDAYA dan BINGUNG, terus menghantui jiwa dan pikiranmu.
Sebagai pelatih, kamu tersadar, yang kamu butuhkan saat ini satu-satunya adalah KEMENANGAN. Hal penting yang bisa jadi MOMENTUM KEBANGKITAN, agar bisa terus berjuang mencapai target di akhir kompetisi.
......
Meski kalah beruntun, pemilik klub dan manajemen tetap menaruh keyakinan kepadamu, dan yakin di pertandingan berikutnya, tim bisa meraih kembali kemenangan.
Kamu pun merasakan ada secercah optimisme.
Kesalahan dan kekalahan yang DISESALI DI MASA LALU, segera coba kamu introspeksi dan evaluasi. Satu tekad, agar kesalahan itu TIDAK TERULANG KEMBALI.
......
Pertandingan terdekat, akhirnya dimulai. Tim berhasil bermain kompak dan solid selama 90 menit. Lawan tak berkutik, hingga peluit panjang berbunyi. Akhirnyaaa, tim kamu berhasil meraih kemenangan penting.
Kamu dan tim merayakan kemenangan ini. Rasanya optimisme dan semangat kembali lagi. Hampir semua pertandingan selanjutnya bisa diraih dengan kemenangan. Yaa, akhirnya kamu menjadi juara di akhir kompetisi.
.
Taubat & Kemenangan
Dari hobi mengikuti dunia olahraga, terutama sepakbola.. membuatku menyadari akan suatu hal.
Hidup seorang muslim di dunia, layaknya individu/tim yang sedang berjuang di medan kompetisi yang panjang dan menguras mental serta tenaga.
Tak ada muslim sempurna, yang tak luput dari kesalahan dan dosa. Begitupula sebuah pemain/tim yang hebat sekalipun, pasti akan mengalami hasil tidak sempurna dalam suatu kompetisi.
Namun muslim yang baik, tidak menganggap kesalahan adalah akhir. Ia tidak akan membiarkan terus berada di lubang kekalahan, karena...
‐-----------
"Muslim yang baik akan terus memilih bangkit. Hamba yang berdosa akan selalu bersegara taubat. Karena ia tahu taubat adalah momen krusial untuk bisa bangkit kembali ke jalur kemenangan.
Iya, menuju kemenangan sejati yang telah Allah takdirkan kepada kita, sesuai panggilan 'Hayya 'alal falah' yang rutin lima kali sehari bergema, ke dalam relung telinga."
‐-----------
Begitupula ibarat tim yang kalah, tak ada kata menyerah. Kemenangan selanjutnya wajib diraih agar harapan itu tetap ada, untuk mencapai target juara di akhir kompetisi.
.
Taubat: Momen Penting Saat Genting
Taubat adalah urgensi untuk hamba-Nya yang melakukan kesalahan agar segera kembali ke jalan takwa.
Urgensi yang bernilai sama bagi sebuah tim yang kalah dan sedang terpuruk, untuk bisa segera meraih kemenangan dan terus di jalur juara.
Berbahagialah, karena tak ada air mata yang lebih indah, dibandingkan air mata taubat.
Sungguh indah taubat, karena ia bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya, sebagai wujud yang Maha Pengasih dan Maha Mengampuni. Wallahu'alam 😇
.
24/10/25 - Arsyad AZ
Mungkin banyaknya masalah yg kita hadapi, hari² yg terasa berat dan pikiran yang selalu kacau tersebab sholat kita yg berantakan.
fase ke fase
sedikitnya, kita sudah memahami tabiat kehidupan ini. bahwa kita tidak pernah kering dari ujian. fase ke fase kita lewati bersamaan dengan ujian yang kita selesaikan; lalu kita 'lulus' menjejaki fase fase yang lainnya lagi dan lagi dengan ujian yang jua selalu melekat. bahkan saking seringnya berganti fase dan ujian, dalam hal menata suasana hati dan emosi, jika dibandingkan usia 25 tahun, aku akan mantap mengatakan bahwa usia 27 tahunku saat ini jauh lebih baik. aku tidak membandingkan diriku dgn orang lain, aku membandingkan diriku dengan aku yang dulu. bisa jadi aku dengan yang lain ah aku masih jauh di bawah mereka. namun, ya aku sudah sedikit ahli mengatur suasana hati dan energi emosiku. doakan semoga semakin baik seterusnyaa, yaaa
ini beberapa hal yang selalu aku katakan pada diriku sendiri,
"nanti juga lupa"
"nanti juga berakhir"
"nanti juga terbiasa"
"nanti juga baik baik lagi"
"gak apa apa ga semua harus suka"
"gak apa apa nanti belajar lagi"
"gak apa apa nanti kita perbaiki lagi"
"kalo emang rizki ga akan kemana"
sebenarnya lelah juga tiap jalanin fasenya. kaya gtu lagi, nyemangatin diri sendiri lagi. tapi kita juga pasti selalu percaya ada hal baik yang menanti. hal hal baik buah dari kebaikan dan kesabaran kita saat jalanin ujian ujiann yang Allah kasih.
daaan yaaa, gak apa apa. untuk hal hal yang masih kurang, besok kita perbaiki lagi. untuk hal hal yang masih salah, besok kita benerin lagi, yaa.