On Thought : Pandanganku tentang Agamaku (2)
Artikel ini artikel kedua. Lanjutan dari yang pertama. Temanya masih sama. Bagaimana aku memandang agama yang sedang aku anut. Bedanya pada tulisan pertama, tulisan ini akan lebih banyak menyoroti perilaku mereka yang menganut agama yang sama denganku.
Ah. Lagi-lagi harus menulis disclaimer :
1. Artikel ini ditulis secara sadar. Tanpa paksaan satu pihak pun. Tanpa ada upaya untuk mengunggulkan satu pihak dan menghina pihak lainnya. Bila sampeyan merasa terhina dan merasa kurang dihormati, ada baiknya bila sampeyan mengecek dulu kadar narsisnya.
2. Isi dari artikel-artikel ini tidak merepresentasikan agama yang sedang aku anut. Apa yang aku tulis merupakan sudut pandangku. Bukan apa yang diinginkan agamaku.
3. Sama seperti artikel sebelumnya, artikel ini subjektif. Saya ulangi, artikel ini subjektif. Sesubjektif apa? Sesubjektif aku menilai wanita paling cantik di Indonesia itu Susan Bachtiar, pembawa acara kuis Galileo-Galilei. Walaupun ia sudah bertambah tua, tetap saja ia cantik.
4. Ruang diskusi? Tetap aku buka. Namun tolong, jangan bawa kitab suci dan hadits. Mengapa? Karena aku tak punya dasar yang kuat. Selain itu, aku pun tak yakin yang akan memulai perdebatan juga akan dasar yang kuat. Muahahaha.
5. Sebelum memulai diskusi, baca pelan-pelan artikelnya. Tak ada gunanya langsung panas. Saat penulisan dan editing pun, aku membacanya berulangkali. Hal ini didasarkan keenggananku untuk berdiskusi panjang tanpa topik jelas.
Pada tulisan sebelumnya, ada beberapa poin yang udah aku bahas, antara lain :
1. Bagaimana aku memandang ibadah dalam agamaku.
2. Bagaimana sikapku dalam memandang agamaku.
3. Bagaimana aku memandang puasa.
4. Bagaimana aku memandang sebuah kebenaran dalam agama.
Beberapa hari lalu, sebelum puasa, secara tak sengaja bertemu dengan seseorang yang mengaku pendeta di warung kopi langgananku. Ia menceritakan pengalamannya kala ia berkunjung ke Solo saat puasa beberapa tahun silam. Saat itu sudah siang dan memasuki jam makan siang, ia memulai ceritanya. Merasa lapar, ia masuk ke sebuah warung di dekat pasar Klewer. Warung ini tidak tampak dari luar. Posisinya ada di pojokan dan tertutup oleh vinnyl bekas. Menurutnya, orang yang tak mengamati dengan jeli, tak akan sadar di sana ada warung.
Pada mulanya, ia hanya memesan secangkir kopi, namun setelah melihat ada makanan yang disajikan, ia akhirnya ikut memesan makan. Beberapa saat setelah makanan yang dipesan datang, tetiba ada segerombolan orang dengan jubah putih dan bercambang datang. Mereka langsung memberesi makanan yang disajikan. Dimasukkan ke dalam kresek.
Spontan. Si pendeta berdiri dan berteriak, ‘kalian ini bukan muslim. Muslim yang saya tahu itu ramah. Tidak begini’. Walau pun dalam hatinya ia takut, ia tetap saja berdiri sambil menuding gerombolan itu. Menurutnya, kala itu ada sekitar 20 hingga 30 orang yang melakukan razia. Ia sempat bercanda, kalau pun saat itu ia dikeroyok, paling tidak ia bisa membawa jatuh beberapa orang. Memang, secara fisik ia dianugerahi fisik yang besar.
‘Kalian lupa, kalau ada orang-orang yang memang tidak berpuasa, misalnya musafir? Kalau warung disuruh tutup, para musafir mau makan apa? Ngrikiti drijine ta?’ Sontak, orang-orang yang sedang cangkruk tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Walaupun ia berbadan besar, cukup pandai melucu juga orang ini batinku.
Melihat ada yang membela para pedagang, sontak, pedagang yang lain datang dan membantu. Keributan lebih lanjut bisa dihindari. Mereka yang mengenakan baju putih-putih menyingkir. Si bapak ini kemudian duduk. Ia melanjutkan, bahwasanya agama yang aku anut dan ia anut sesungguhnya memiliki rumpun yang sama.
Setidaknya masih sama-sama dari Abraham. Banyak ritual yang masih serupa. Memang secara bahasa sudah berbeda. Namun secara esensi masih sama. Aku tersenyum saja. Ia lalu mempertanyakan, kenapa kok agama yang datangnya belakangan malah menyalahkan agama yang sudah ada lebih dahulu? Kenapa kok tidak saling menghormati saja? Sontak, aku teringat oleh status yang dibuat salah satu penulis kenamaan di sosial media.
Ia membandingkan bagaimana puasa dengan saran Menteri Agama untuk menghormati yang tidak berpuasa. Ia menyatakan bahwa budaya puasa umurnya sudah 1.434. Usia ini jauh lebih lama ketimbang umur manusia kebanyakan. Jelas. Kenapa? Jepang saja dengan tingkat kesehatan yang lebih baik dibanding Indonesia, baru bisa mencapai 100an tahun.
Perbandingan yang dilakukan jelas tidak sebanding. Bila mau membandingkan ya mbok mbandingkan dengan kebudayaan lain. Kebudayaan Aztec, Mesotopomia, atau Byzantium. Lebih lama mana? Lalu benarkah budaya puasa sudah ada tercantum di kitab-kitab atau renik sejarah budaya-budaya tersebut?
Ia juga menyatakan bahwa agar kita, manusia yang masih unyu-unyu ini, menghormati puasa kenapa? Karena usia yang sudah 1.434 tahun itu. Hambok. Kalau pakai logika yang sama, agama yang kita anut ini tak akan punya banyak umat. Piye jal? Mau ceramah ada dinding besar yang harus kita patuhi. ‘Hargai budaya yang lebih tua’. Bukankah kearifan dan budaya lokal di Indonesia bukan Islam? Bila menggunakan logika yang sama, agama dan kebudayaan sebelumnya harus dihargai to? Please deh.
Bahasan tentang puasa aku banyak bahas di artikel sebelumnya. Jadi jelas bagaimana aku bersikap.
Aku ndak akan membahas lebih lanjut masalah sejarah dan bagaimana Islam bisa berkembang dan beredar. Bukan ranahku untuk membahas. Pun bukan ranah mualaf yang sekarang santer namanya di sosial media. Serta rasanya, bukan ranah penulis novel kenamaan untuk membahas ini. Untuk membahas ini, perlu kajian ilmu yang lebih dalam ketimbang bacaan dari google atau wikipedia. Perlu ilmu yang didapat secara akademis dengan sanad keilmuan yang jelas.
Disini akhirnya, aku menyimpulkan, kita punya standar ganda. Untuk kelompok lain, kita akan memaksakan standar kita. Sedangkan untuk kelompok sendiri? Standar ini bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan sekaligus. Standar ganda ini amat manusiawi dan jamak dilakukan. Toh ini juga salah satu strategi untuk bertahan hidup di dunia yang kejam.
Setelah beberapa waktu, aku mendengar cerita dari bapak ini. Aku tergoda untuk ikut berbicara. Kenapa? Karena ada beberapa poin yang menurutku kurang tepat. Bila menggunakan agama yang ia anut sebagai acuan, benar bahwa agama yang ia anut adalah agama yang lebih tua ketimbang Islam. Namun, benarkah? Sejauh hasil bacaan dan diskusi yang aku lakukan, kebudayaan tertua di dunia itu budaya sanskrit. Kalau pun salah, aku minta maaf. Poinku lebih kepada ada kebudayaan dan agama lain yang lebih tua ketimbang kedua agama ini. Beberapa sudah aku sebut diatas. Secara waktu, Islam adalah anak bungsu namun ia mengklaim bahwa ia adalah penyempurna dan pelengkap.
Namun benarkah? Benarkah yang paling muda akan menjadi yang paling benar? Benarkah yang paling muda akan menjadi pelengkap dan menutup? Bila memang ternyata salah gimana? Gegara hal-hal macam beginilah aku memilih untuk menutup diri. Aku enggan untuk mencaritahu bagaimana sebenarnya agamaku.
Kenapa? Karena kalau aku mencaritahu dengan kemampuanku saat ini, besar kemungkinan aku akan terbentur dengan berbagai batasan. Utamanya teknologi. Teknologi yang ada saat ini bisa jadi tidak cukup untuk menjelaskan berbagai fenomena yang ada di dunia ini. Berbagai fenomena yang belum terjawab namun tertulis di Al-Qur’an.
Isra’ Miraj misalnya. Bagaimana mungkin seseorang dari abad ke-6 bisa berpindah ke jarak yang jauh dalam waktu yang singkat? Sedangkan kita, saat ini, untuk ke Jakarta saja butuh waktu hingga 2 jam? Ini sudah abad ke-21 bung. Kenapa malah tertinggal? Otakku yang terbatas, tak bisa menerima ini.
Menyadari kemampuan otak yang terbatas, aku memecah lagi pemahamanku atas agama menjadi dua. Iman dan akal. Iman, menurut literatur yang aku baca dan aku yakini, memiliki definisi, mengucapkan dengan lidah, melakukan dengan tindakan dan membenarkan dengan hati. Tidak ada redaksi tentang berpikir. Bagiku, kala aku memilih untuk beriman, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk melakukannya. Bila masih berpikir dan enggan, artinya aku tidak beriman. Titik. Susah?
Analoginya begini. Kala istriku bilang, kalau memang kamu sayang aku, tolong carikan manisan mangga. Walau pun sudah tengah malam, aku akan keluar. Mencari sebisanya. Kenapa? Karena aku sayang istriku. Bila tidak dapat? Ya sudah. Bila dapat? Bagus. Nah, kalau ndak melakukan? Lalu beralasan, sudah tengah malam, toko sudah tutup, bagiku itu artinya aku tidak sayang istriku. Simpel to? Tapi susah dilakoni. Terkadang, untuk membantah permintaan istriku, aku akan bilang, aku sayang kamu beb, tapi gak sesayang itu.
Analogi lain, kalau aku bilang makanan yang dimasak istriku enak, maka aku berkewajiban untuk menghabiskan. Bila tidak kuhabiskan, artinya makanan yang dimasak tidak enak. Walaupun makanan ini baru habis 3 hari kemudian, aku akan memakan masakan istriku. Kalau aku tidak makan masakan ini artinya makanan ini tidak enak.
Si A itu cantik ya? Iya, cantik tapi A itu boros. Iya, si A cantik, sayangnya udah punya pacar. Setelah membenarkan si A cantik lalu kita menyebut kata tapi, bagiku, gugurlah ide pertama. Bila sudah mendengar dan membenarkan ide pertama tanpa tapi, tanpa namun, dan tanpa sanggahan-sanggahan lain, bagiku itulah iman.
Pandangan ini jelas akan menimbulkan banyak tentangan. Aku paham kok, karena pandangan macam begini tak lazim. Lazimnya bila engkau beriman, maka engkau akan berupaya untuk mencaritahu tentang agamamu. Sayangnya, aku pernah mencaritahu dan akhirnya menyangsikan. Kenapa? Selain karena otak yang terbatas, ilmu pengetahuan yang ada juga belum memadai. Tiap agama ternyata memiliki sisi kelam. Sisi kelam ini yang acapkali tidak mau diceritakan oleh para pemuka agama. Pandangan macam begini, bagiku tak objektif.
Padahal, bagiku agama adalah sebuah landasan untuk kita hidup. Bukan sekedar identitas. Agama bukan hal-hal yang sifatnya ritual. Sembahyang, puasa, zakat, dewasa ini menjadi seolah-olah ritual yang harus dijalani. Sekedar dijalani saja. Tanpa ada pemaknaan tentangnya.
Bila sudah bilang agama adalah sebuah landasan hidup, maka engkau harus percaya sepenuhnya. Memasrahkan diri seutuhnya. Mau menerima baik dan buruk dari agama yang engkau anut. Bukan menerima baiknya, lalu bila ada hal buruk, kita teriak oknum.Bukan itu. Terima saja baik buruknya.
Agama itu kata benda. Benda tak mungkin melakukan perbuatan. Mau baik mau buruk semua yang melakukan adalah pemeluknya. Jadi mau pemeluknya berlaku baik atau buruk, kita akan kena imbasnya.
Nah, landasan hidup, bagiku, adalah bagaimana aku berpikir, berucap, dan bertindak. Sudah sesuaikah dengan koridor agama yang aku anut? Mau agamaku dicap hina, buruk, teroris dan sebagainya. Aku tak mau tahu. Bagiku apa yang aku yakini itulah yang terbaik bagiku. Menurutku itulah iman.
Apakah pandanganku salah? Bisa jadi. Apa sih arti pandangan dari seorang muslim yang sembahyangnya saja masih jarang? Apa sih arti pandangan dari seorang muslim yang puasa ramadhannya saja terkadang masih bolong? Namun, benarkah pandangan mereka yang sudah sembahyang rutin? Benarkah pandangan mereka yang sudah berpuasa secara full time? Saya rasa juga belum tentu benar.
Mengutip tulisanku kemarin, standar kebenaran kita masih rancu. Tidak ada malah. Kebenaran yang mutlak hanyalah milik-Nya. Bukan milik manusia. Kalau penentuan benar salah adalah hak prerogatif-Nya, kenapa kita masih ribut? Bukankah sebagai manusia kita hanya berkewajiban menjalani hidup saja? Tanpa perlu menjadi hakim bagi orang lain. Sudah sepantas apakah dirimu sampai engkau merasa bisa menghakimi orang lain? Pie nak jek kape ngeyel?
Aku ambil contoh perkara benar salah ya? Kita sepakati dulu bahwa apa yang telah tercantum di kitab adalah benar. Titik. Beberapa hal yang diharamkan di kitab adalah babi, anjing, dan zina. Namun, seiring perkembangannya, ada ulama yang ber-ijtihad dengan kondisi lingkungan yang dianggap sudah berbeda dengan jaman dulu.
Coba browsing saja tentang Fiqih Sosial karya Kyai Ahmad Sahal Mahfudh. Baca dan renungkan baik-baik. Jangan malas baca saudara. Browsing saja tentang lokalisasi dan fiqih sosial. Baca sebanyak-banyaknya.Open mind. Jangan langsung menjustifikasi bahwa pandangan yang beliau ungkapkan salah. Kalau pun masih ngeyel,browsing lagi, siapa sih Kyai Ahmad Sahal Mahfudh. Lalu bandingkan dengan dirimu. Wes sebanding?Jek ngeyel ?
Beliau, pernah menjabat sebagai Rais Aam NU. Beliau tercatat sebagai pembaharu fiqih sosial. Secara keilmuan? Saya rasa tak perlu ditanya lagi. Jauh melebihi kita-kita yang sering share status, berkomentar secara dangkal tentang sebuah fenomena. Hasil dari pandangan beliau tentang Fiqih Sosial? Dihujat. Oleh kita yang secara keilmuan masih hijau. Hijau mungkin masih terlalu baik. Goblok dan arogan lebih tepat rasanya.
Salah satu contoh lainnya, ada satu artikel yang sering di-share di sosial media, ‘Nama-nama yang dilarang dalam Islam’. Terakhir ngecek di Google, ada 1,280,000 artikel yang terindeks. Dari puluhan artikel yang aku klik, hampir kesemuanya sama isinya. Isinya? Nama-nama yang dilarang. Salah satunya adalah ‘Najwa’.
Kala aku membaca artikel ini kali pertama, rasanya lucu. Banget. Saking lucunya cuman bisa ngelus dada. Kenapa? Pernah dengar nama Najwa Shihab? Putri dari Quraish Shihab. Tau Quraish Shihab?
Quraish Shihab yang seorang cendekiawan muslim yang masih hidup hingga saat ini. Beliau menulis 15 Volume Tafsir Al-Mishbah. Aku ndak pernah baca tafsirannya. Belum waktunya. Nantilah. Kalau sudah terpanggil untuk baca, bakal tak baca, pun kalau sudah tak baca, ndak akan tak share disini. Kalau tak share, aku iso dianggap dakwah lalu ujungnya jualan kaos. Sejauh pemahamanku, orang yang sekaliber ini, yang membuat 15 Volume Tafsir Qur’an, terus salah ngasih nama anak perempuannya yang sekarang jadi terkenal banget, opo ndak kebacut?
Kedua ulama tersebut memiliki track record yang jauh lebih baik ketimbang aku dan kebanyakan dari kita. Itu pun terkadang masih dihina dan dianggap tidak mengerti agama yang mereka anut. Apalagi kita yang hanya belajar via internet, sosial media, serta bertanya kepada mereka yang secara keilmuan patut dipertanyakan.
Kita, di Indonesia, punya banyak ulama dengan kemampuan dan daya pikir yang luar biasa. Banyak diantaranya juga sudah menulis dan memberikan hasil karya yang luar biasa. Sayangnya, mereka tidak atau kurang populer di media massa dan sosial media. Setidaknya kalah populer sama ulama-ulama muda kekinian. Dengan modal tulisan yang kekinian, mereka dengan cepat memiliki massa. Semakin banyak massa, semakin baik. Semakin banyak massa, semakin kuat. Eh, bukannya ini prinsip demokrasi? Padahal katanya demokrasi bukan produk yang Islami?
Ah. Melebar lagi kan tulisannya? Balik lagi. Kebenaran saat ini rasanya sudah sedemikian murahnya. Sekarang, benar atau salah sudah tak tampak lagi. Kita yang beragama mayoritas ini seringkali mengecap kita menjadi paling benar karena kita banyak. Kebenaran yang didasarkan karena jumlah bagiku bukanlah kebenaran sejati.
Sayangnya, kita yang mayoritas ini seringkali merasa insecure. Merasa tak aman dengan isu-isu tak penting macam kapan puasa, langgam apa yang digunakan, beralihnya satu aktor ke agama lain dan sebagainya. Kita ini mayoritas tapi rasanya dungu. Kita ini mayoritas tapi tak mengerti betapa susahnya menjadi mayoritas.
Yak. Sementara sekian dulu. Istri memanggilku. Waktunya ibadah yang lain. Ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Sudahlah. Jangan berpikir kotor. Ndak baik. Ini bulan puasa. Banyak-banyak husnudzon saja. Bila belum mampu, berpuasalah. Eh. Sudah bulan puasa kok.
Rencananya tulisan macam begini akan dibuat paling banyak 3 atau 4 bagian. Terlalu banyak ndak baik buatku. Terlalu sedikit? Ndak bisa menggambarkan bagaimana pandanganku terhadap agamaku.