Lihat ini bersyukur sekali, Masya Allah..
cherry valley forever
Lint Roller? I Barely Know Her
Jules of Nature
No title available
I'd rather be in outer space 🛸
No title available
official daine visual archive
Misplaced Lens Cap
hello vonnie

pixel skylines
Sweet Seals For You, Always
No title available
NASA

No title available
will byers stan first human second
Today's Document
🪼

gracie abrams
art blog(derogatory)
Xuebing Du
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from T1
seen from Saudi Arabia

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Saudi Arabia

seen from Türkiye
seen from Germany

seen from Ireland
seen from Ukraine

seen from United States
seen from Saudi Arabia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Japan

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Spain

seen from Spain
@ardinashulhah
Lihat ini bersyukur sekali, Masya Allah..
BelajarJadiUmma: Yusha 19 Bulan
Yusha 19 bulan semakin mudah tersenyum bertemu orang baru. Ia yang rajin mengajakku “jalan-jalan” berkeliling komplek membuat semakin banyak tetangga yang mengenalnya. Bukan hanya mereka (tetangga) yang notabenenya sudah dewasa mengenal Yusha, Yusha pun semakin banyak kenal dan hafal nama-nama tetangga. Hal ini membuat jalan-jalan pagi atau soreku bersama Yusha semakin berwarna, karena semakin banyak yang menyapa 😊
“Bapa apin..” “bapa apin mau kemana?” tanya Yusha padaku sambil berjalan. Tadi di tengah perjalan kami jalan-jalan pagi, Bapa Apin menghentikan sepeda motornya sejenak ketika bertemu Yusha.. menyapa.. dan bahkan mengajak Yusha ikut naik di motornya. “mau ikut?” Kata Bapa Apin, “Mau..” jawab Yusha dengan polosnya. Bocil memang tidak tahu mana yang basa-basi dan bukan, setiap ajakan berpotensi diiyakan, apalagi ini diajak naik motor ah tentu Yusha suka tidak kepalang.
Pak RT juga tidak absen menyapa kami jika bertemu, beliau hafal betul dengan anakku ini karena sempat menggemparkan masjid dengan tangisnya di tengah shalat maghrib berjamaah. “Dadahnya mana?” kata beliau di atas motor yang sengaja dihentikan melihat kami berdua sedang berjalan. Anak beliau di belakang pun ikut tersenyum melihat tingkah Yusha yang dadah2 lemes tanpa senyum, wkwk. “Ah lemes banget dadahnya” respon Pak RT yang memang suka berkelakar.
Yusha di ruang makan bisa mengenal suara Om Asep yang memberi salam dari luar, “suara siapa itu Yusha?” tanyaku iseng “Om Acep..” katanya. Ia juga tahu Om Acep punya kucing hitam bernama Lulu..
Yusha 19 bulan juga sudah bisa diajak ke Rumah Mbah Nana tanpa Umma. Bermain dengan asiknya, beberapa saat setelah main gendang dan mobil-mobilan barulah teringat Umma 😁
Ohya, Yusha di 19 bulan sudah lancar sekali merangkai sendiri kalimar dari 4 kata.. “Cuca mau mimi aja..” “Umma ke sini aja..” “Abanya lagi tidur abanya..” “ini kamar eyang kakung..” dll tak terhitung saking sudah menjadi kebiasaan sehari-harinya
Yang paling lucu dia sering menggunakan kata “aja” “lagi” “juga” “katanya”.. “katanya mimi..” “katanya jalan-jalan..” 😅 penggunaan “katanya” ini yang tidak selalu tepat.. padahal kata dia tapi Yusha bilang “katanya” wkwk.
Yusha 19 bulan makin seru main dengan kawan.. dengan sepupu di Ciwidey, sepupu dari Cilacap, dan sepupu di Bandung.. masya Allah. Gemes sekali melihat tingkah mereka “Maaf ya Yusha..” kata Qiu dan Maura bolak-bali ketika mobil remot kontrolnya menabrak Yusha.
“Ini punya kaka..” kata Yusha menyodorkan mainannya. Yusha di usia 19 bulan belum paham betul mana miliknya dan mana milik orang lain. Di lain waktu bilang “Minum cuca.. itu punya cuca..” saat melihat gelas Aba yang sedang digunakan Abanya, sebab ia ingin minum dari gelas tersebut.
Yusha 19 bulan bisa menahan diri, di hari Lebaran yang banyak sekali makanan. Ia seringkali kabita (ngiler) lihat orang dewasa makan makanan yang tidak boleh dimakan olehnya “ini punya omaa..” katanya memegang kardua bolu.
Yusha 19 bulan juga semakin lihai bilang “engga..” sampai umma pusing kepala. Ketika sedang tidak mood semua tawaran bisa ditolaknya dengan kata “engga” yang mantapp.
Masya Allah, semua adalah kebesaran dari-Nya, kasih sayang-Nya yang mengizinkan tumbuh dan berkembangnya Yusha.
Ardina. Bandung, 22 April 2025. 15.43 ketika Yusha tidur siang.
#BelajarJadiUmma: Yusha 18 Bulan
Hari ini Yusha sudah masuk 20 bulan 1 hari, aku terlewat menuliskan apa yang terjadi di bukan ke-18 hingga 19 di sini.
Di bulan ke 18 aku ingat sekali, dalam sebulan itu ia beberapa kali mulai merangkai 4 kata secara mandiri.. “punya eyang masih ada” katanya waktu itu di atas kursi tinggi.
Masya Allah..
Kata Bu Uyun, jangan mengambil keputusan ketika bingung. Tautkan hati pada Allah, minta pertolongan-Nya, minta bimbingan-Nya.. petunjuk Allah salah satu caranya bisa hadir dalam bentuk kemantapan hati.
Beberapa hari ini aku dibuat bersemangat lagi mengejar mimpiku dulu. Seolah semakin terlihat benang merah dari perjalanan hidupku..”mungkin benar harus kembali melangkahkan kaki ke sana..”, suami juga mendukung, tapi masih ada bimbang di hati..
Nasihat Bu Uyun ini (yang sebenarnya waktu itu tidak ditujukan untukku) seperti sebuah jawaban.. kuatkan kembali koneksi pada Allah hingga kemantapaj hati itu hadir, sehingga melangkah pun bisa lebih yakin.
Bismillah~
Ardina. Bandung, 25 Ramadan. 25 Maret 2025.
#CatatanRamadan 1: Ibadah Masak
Masak itu menurutku kegiatan yang berat. Ini mungkin karena kurang jam terbang ya jadi jembatan sinaps-sinaps dalam otakku belum kuat, sehingga saat mengaksesnya aku masih perlu berjalan hati-hati, lambat sekali.
Tapi ramadan kali ini salah satu target ibadahku justru memasak. Barangkali “hal berat” ini kelak yang akan memberatkan juga timbanganku nanti. Bismillah.
Jika dulu aku biasa membaca doa mohon kemudahan untuk ujian akademik, hari-hari ini perlu aku rapal juga doanya sungguh-sungguh untuk urusan domestik.
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.
Ardina. Bandung, 1 Maret 2025.
Ujung lagu. Ujung ayat. Ujung do’a.
Banyak sekali lagu anak-anak yang aku dan eyang putri kenalkan pada Yusha. Saking seringnya menyanyi suatu hari aku baru tersadarkan bahwa Yusha sudah bisa menyambung ujung-ujung bait lagu dengan satu kata.
🧕🏻Tik tik tik bunyi…
👶🏻hujan
🧕🏻 Di atas..
👶🏻Genting
🧕🏻Airnya
👶🏻Turun
Dan seterusnya.. lagu delman, lagu cicak, lagu burung kakatua, lagu lebaran, sampai lagu ruoko the series tentang luar angkasa.. meski beberapa ada yg keliru. Seperti bisa kami menyanyikannya sambil melihat poster tata surya (yang tidak pernah kami tempel di dinding😆)
🧕🏻Merkurius planet ter..
👶🏻Besar (kebalik sama jupiter karena sama2 ter..)
🧕🏻Kecil.. venus si bintang..
👶🏻Fajay (fajar).
🧕🏻Bumi tempat kita..
👶🏻.. mars (udah tau setelah bumi adalah mars)
🧕🏻Kita tinggal.. mars adalah si planet..
👶🏻Meyah (r belun jelas)
🧕🏻Jupiter planet terbe..
👶🏻Say.
🧕🏻Saturnus yang ada..
👶🏻Cincinnya.
🧕🏻Uranus planet yang..
👶🏻Dingin..
🧕🏻Saturnus planet..
👶🏻Terluaay~ (berusaha dengan nada, wkwk)
Masya Allah, hari itu karena aku baru sadar Yusha sudah banyak hafal lagi akhirnya aku keterusan ngetes beberap lagu yang sudah pernah kita perdengarkan. Memang hampir semuanya bisa 😭.
Saat itu takjub dan bersyukur Yusha punya kemampuan yang baik, sisi lain aku juga mengevakuasi diri.. “kenapa Yusha lebih banyak aku paparkan lagu ya?” Hiks.
Aku sampaikan hasil temuanku pada ibuku “Nanyinya sama eyang aja, kalau sama umma ngaji yaa..” kata beliau. Ya memang suaraku tidak lebih baik dari suara ibuku ketika menyanyi, dan untuk mengaji mungkin ibuku merasa aku sudah lebih banyak belajar.
Dari situ aku mulai berazzam untuk memperdengarkan Yusha lebih sering pada surat pendek, dzikir, dan do’a. Masya Allah.. ternyata Yusha pun sangat lihai melanjutkan (satu kata di ujung ayat) dari ayat-ayat alfatihah, ar-rahman beberapa ayat, annas, do’a hujan, doa setelah makan, sampai doa haji dan umroh. :”
🧕🏻Ar-rah..
👶🏻Man.
🧕🏻‘Alamal..
👶🏻Quran
🧕🏻Kholaqol.:
👶🏻Insan
🧕🏻‘Alamahul
👶🏻Bayan
🧕🏻Assyamsu wal qomaru bi
👶🏻Husban
Anak-anak sedang begitu berkembang otaknya sudah menjadi keharusan orang tua memaparkan banyak hal baik padanya. Amanah besar… dua tahun pertama kehidupan.
Masih banyak kurangnya umma ini, semoga tak berhenti belajar dan terus memperbaiki diri, agak benar menjadi umma yang bisa mempertanggung jawabkan amanah dengan baik di hari akhirat nanti. T.T
Yusha 17 Bulan.
Ardina. Bandung, 19 Februari 2025.
Januari: Tak Habis Satu Buku
Awal tahun ini aku mencoba kembali membuat rencana-rencana setahun ke depan. Resolusi, kata orang, akhirnya kubuat lagi di tahun ini, setelah absen beberap tahun sebelumnya.
Salah satu target bulan Januari ini aku ingin menghabiskan satu buku (saja). Di awal rasanya aku bersemangat lama-lama menguap juga. Sampai akhirnya aku sampai diujung bulan dan aku kembali menengok targetku di awal. Oh oh, satu buku pun tak habis aku membacanya!
Kalau dipikir-pikir, kalau sebulan tak habis satu buku aku baca maka sebulan itu apa yang aku masukan dalam kepala? Mengerikan sekali jika lebih banyak kumasukan hal sia-sia dibanding ilmu yang dapat menutrisi jiwa!
Evaluasi memang bisa mengembalikan kita pada jalur yang seharusnya. Mengapa aku tidak evaluasi setiap hari saja? “Apa yang aku lakukan hari ini? Sudah aku beri apa saja jiwaku?“
Lebih dari itu sebenarnya Islam telah mengakomodir untuk kita mengevaluasi lima kali dalam sehari melalui shalat wajib yang kita lakukan. Waw, Islam memang selalu membuat terpukau! “Sudah melakukan kebaikan apa aku dari shalat wajib sebelumnya?” “Adakah keburukan yang aku lakukan tadi?”. Betapa dahsyatnya efek yang terjadi jika itu dilakukan setiap hari dan dengan sepenuh hati.
Ardina. Bandung, 7 Februari 2025.
#BelajarJadiUmma: Frasa Baru dan Hikmahnya
Sejak tiga belas Yusha sudah bisa bilang “gak ada” lalu diikuti dengan “ini apa?” di usia empat belas bulan. Setidaknya itu dua frasa yang sudah lihai ia ucapkan sehari-hari. Memasuki usia lima belas bulan Yusha tampak sedang belajar membuat frasa-frasa baru, “api kereta..” katanya, “iya, kereta api..” kataku. “Radio.. eyang..” ia mencoba membuat frasa baru dengan sedikit jeda ketika mendengar dari kejauhan suara radio yang Eyang sering putar. Dan beberapa frasa lainnya yang kemarin 12/12/24 banyak ia coba katakan, tapi sayangnya aku lupa sekarang.
Ohya, kini ia juga bisa menyebut spesifik nama-nama buah dan sayur yang ia suka, tidak seperti sebelumnya ia menyebut semuanya dengan “buah..”, labu ya buah, wortel buah, jagung buah, pisang, mangga, dan jeruk buah juga. Tidak salah karena di usianya dulu sebelum setahun sudah bisa klasifikasi seperti itu juga kesyukuran untukku. Meski beberapa waktu lalu sempat kami menyadari konsep “buah” yang ia miliki masih salah, wkwk, ketika aku makan makanan yang berwarna menyala ia sebut itu buah juga hingga ia juga ingin memakannya. Alhamdulillah Yusha hari ini sudah bisa bilang pisang, jeruk, wortel, agung (jagun), tomat, pepaya meski belum terlalu jelas melafalkannya, serta labu dan timon (timun) dengan lihai ketika melihatnya di dapur.
Satu-satu nama benda mulai Yusha kenali. Satu kata pun kini berubah menjadi frasa, selanjutnya aku menunggu masanya menjadi satu kalimat, hingga akhirnya membetuk paragraf, Masya Allah..
Lagi-lagi melihat setiap perkembangan Yusha membuat aku takjub bahwa hari ini manusia dewasa yang pandai bicara benar-benar melalui proses panjang dan bertahap dalam mempelajari bahasa. Dari pengenalan nama hingga merangkai kata-kata.
Manusia dewasa yang hari ini sudah mahir berbicara semestinya melihat kemampuan ini sebagai rahmat Allah yang besar untuk dirinya. Tanpa kasih sayangnya mungkin proses perkembangan bahasa ketika kita bayi dulu dulu tak berkembang hingga seperti ini. Nikmat bahasa yang luar biasa ini semoga kita gunakan dengan hati-hati, bukan jadi penyebab dosa karena kata-kata yang kita keluarkan menyakiti hati, mengandung dusta, atau hal-hal buruk lainnya.
Hai, umma.. jika marah, tahan kata-kata pedasmu. Ketika bahagia, tahan janji-janji manismu. Ketika keadaan apapun, pikirkan sebelum ucapkan kata-katamu, sehingga tidak terucap dari bibir kita selain kebaikan, sebagai bukti syukur kita pada Allah yang Maha Rahman.
Ardina. Bandung, 13 Desember 2024.
#BelajarJadiUmma: Seblak Gluten Free
Siang tadi aku memasakn pasta gluten free yang terbuat dari mocaf (merk ladang lima) untuk Yusha. Ketika ia tidur segera aku beraksi di dapur. Tanpa bimbingan resep dan persiapan yang matang aku mix n match dengan bahan seadanya di rumah. Protein hewaninya aku gunakan telur ayam yang hanta tinggal satu-satunya. Untuk sayurnta aku beri tomat dan wortel kesukaan Yusha. Bumbunya hanya bawamg putih, garam, merica, dan kaldu sapi pura. Iseng aku tambahkan sedikit seledri di akhir. Taraaa, setelah matang terlihat pasta mpasi bayi yang mirip seblak, wkwk. Seblak gluteen free dan non-msg yang ramah bayi.
Aku sudah siap jika Yusha menolak ini sembari siapkan menu cadangan ikan kesukaannya. Belum selesai memberi bumbu pada ikan, Yusha bangun dari tidurnya. Bismillah, aku coba berikan saja menu seblak gluten free itu dan ternyataaa yeaay Yusha suka 😁. Alhamdulillah..
Aku pernah mendengar katanya untuk urusan MPASI memang banyak hal tak terduga, bisa jadi menu yang menurut kita sempurna nikmat enak mamamiya lezatos ditolak oleh anak kita, tapi menu yang menurut kita kurang pas, bikin insecure justru diterima dengan lahapnya. Jadi, yaaa coba saja dulu~
Terimakasih Yusha sudah membuat umma bahagia dan sedikit kege-eran kalau Yusha itu punya prinsip “apapun makanannya yang penting masakan umma!” wkwk 😆🙏🏻
Ardina. Bandung, 10 Desember 2024.
Buku “Memelihara Jiwa” karya Malik Badri, sebuah terjemah dari mahakarya Al-Balkhi, seorang ilmuwan muslim berabad lalu yang bisa menjelaskan psikosomatis, teknik terapi kognitif, dan mengkalisifikasi gangguan psikologis pada manusia. Sungguh karya yang luar biasa.
— Buku ini dibeli di Malaysia melalui jastip. Hadiah dari suami yang dengan mudah meng-acc permintaan buku sang istri. Semoga ada banyak kebaikan yang hadir setelah membaca ini.
Ardina. Bandung, 10 Desember 2024.
#BelajarJadiUmma: Bahasa Yusha
Bulan oktober lalu, aku ingat betul Yusha menambah kosakata baru “bau..” sebelum kami berangkat silaturahmi dengan teman-teman suami. Rasanya senang sekali setiap bertambah satu kosakata yang Yusha bisa ucapkan, dari yang sebelumnya juga tekah bisa mengucapkan aba, bapau, jatuh, buah, mbah, cica (cicak), gak ada dll. Saat itu Yusha masih tiga belas bulan beberap kata sudah cukup jelas ia ucapkan. Setiap ada kata baru kami kegirangan karena ada jarak pertambahan satu kata baru dengan kata baru selanjutnya.
Di usia tiga belas bulan akhir saat itu kami safar ke luar kota, tiba-tiba Yusha bertambah lagi kata-kata yang bisa ia ucapkan.. kaka, bapa, bayi, itu tiga kata yang paling aku ingat dan Yusha begitu jelas mengucapkannya. Masya Allah..
Setelah memasuki empat belas bulan, setiap hari hampir selalu ada kata baru yang bisa ia ucapkan. Hamya dengan mendengar orang berbicara ia langsung lihai menirukan pun ketika dibacakan cerita dalam buku ada saja kata-kata baru yang berhasil ia tiru. “Wah, ini kah yang disebut lonjakan kata? Masa sensitif bahasa?” Masya Allah.. di bulan sebelum dua belas bulan dan saat masuk tiga belas bulan aku catat beberap kata yang bisa ia ucapkan, namun ketika masuk usia empat belas bulan tak aku tuliskan lagi karena saking banyaknya. Perkembangannya didukung oleh kemampuan dia bertanya “ini apa?” hampir pada semua benda. Tidak sekali, tapi berkali-kali. “Ini apa? Ini apa? Ini apa?” Masya Allah, tidak apa-apa umma senang menjawabnya.. terus bertanya sayang..
Begitu mempesona ya proses manusia berbahasa.. aku begitu takjub melihatnya pada Yusha.
Kini Yusha suda menginjak lima belas bulan, kosakatanya semakin beragam.. semakin bisa mengungkapkan apa yang dia inginkan dan maksudkan “makan, mandi, sakit, tumpah, jatuh.. dll” juga bisa diajak mengobrol dengan menjawab pertanyaan sederhana
“Tonggeret bunyinya gimana?”
”E..e..e..” (berusaha menirukan suaranya dan mirip!).
“Ada tonggeret ga?”
“Gak ada”
“Lagi apa?”
“Bobo”
“Dimana?”
“Gagak..” wkwk.
Meski masih keliru karena “Gagak” ini padahal alamat rumah Mbah Nana, “Mbah Nana rumahnya dimana?” “Gagak..” dengan fasihnya Yusha menjawab. Ternyata dia mengasosiakan kata “dimana” dengan “gagak” 🤣.
Aku bersyukur sekali atas perkembangan bahasa Yusha yang cukup cepat dan pesat, yang semua ini sungguh berkat rahmat Allah. Kami orang tua hanya berusaha mengajaknya banyak bicara, tidak memberikan jam khusus untuk menikmati layar, dan membacakannya banyak buku.
Kami sungguh hanya bisa memberinya stimulus, tapi tak ada daya upaya untuk membuat otaknya mencerna, mengolah kata, memahami bahasa, karena otak Yusha itu milik-Nya. Bagaimana koneksi antar neuron terbentuk hingga rumitnya perintah otak pada mulut untuk bisa bersinergi mengeluarkan suara bermakna sunggu kekeuasaan Allah ada di sana. 🥹
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah telah memberikan pelajaran banyak pada perjalanan ini, hingga aku memahami apa yang biasa aku lakukan sekarang adalah hasil proses belajar yang panjang. Kini sebagai manusia dewasa pun semestinya aku tak berhenti, agar di depan dapat merasakan perubahan baik yang berarti.
Semoga perjalana menjadi umma ini tak ada yang bertambah selain keberkahan dan keimanan pada kami.
Ardina. Bandung, 9 Desember 2024
Pasti ada maksud dari tingkahnya, ada pesan dari-Nya. Yusha yang sedang suka sujud ini seolah mengingatkanku untuk berlama-lama sujud pada-Nya. Sering-sering sujud pada-Nya.
#BelajarJadiUmma: Akhirnya, “Umma!”
Setelah memanggilku dengan sebutan “ena”, lalu “nana”, yay akhirnya Yusha bisa panggil aku “umma” 😃
Momennya ketika tanggal 24/11/24 lalu kami ke kebun binatang, sambil menikmati bekal di depan kandang singa di belakang kami ada sekeluarga lengkap dengan anak kecil yang usianya di atas Yusha. Yusha memang senang sekali lihat bayi.. “bayi.. bayi..” katanya kalau melihat bayi yang lebih kecil, kalau bertemu yang lebih besar ia sebut “kaka”. Nah, kaka yang duduk di belakang kami ini teriak ke ibunya “mama.. mama..” dan Yusha tiba-tiba mengikutinya. “Mama.. mama..” kata Yusha dengan suara cukup keras. Aku dan suami cekikan melihat tingkahnya. “Mama siapa Yusha dipanggil-panggil?”🤣 Ternyata sesampai di rumah hari itu Yusha bisa menyebutku “umma”. Yay, penantianku akhirnya tiba! Setelah jauh sebelum usia satu tahun Yusha sudah lancar dan jelas memanggil ayahnya dengan sebutan “aba”, hari itu usia Yusha lima belas bulan lebih tiga hari bisa memanggilku dengan sebutan yang sesuai.
Terimakasih Yusha shalihnya umma! Sebagai orang tua aku memang tugasnya hanya berusaha meberikan stimulus saja, selebihnya percaya pada anak dia akan bisa pada waktunya, tentu dengan izin dari-Nya.
Ardina. Bandung, 27 November 2024. Setelah ikut pergi ke TPS untuk Pilkada, Yusha sekarang sedang tidur siang sebelah Umma.
Makin dewasa, sadarkah kamu apa salah satu tempat yang paling ngeri?
The same place as last year. Kondisi yang itu-itu saja yang sama sejak tahun kemarin. Tapi aku ingin beri saran: jangan gunakan mata kepala melihat hal yang kau anggap sama.
Gunakan mata hati dan prasangka baik pada Allah. Mungkin kau sedang ditempa, disiapkan.
Berbaik sangkalah, sembari memantaskan diri. Sebentar lagi takdir terbaik-Nya akan datang.
Selasa, 17 September 2024
Bersegeralah saat dibutuhkan, apalagi jika itu kewajibanmu.
@taufikaulia
Ingin punya keluarga yang hangat? Belajarlah untuk menjadi hangat. Ada banyak kebahagiaan yang harus kita mulai sendiri, bukan ditunggu.
Taufik Aulia
Bukan termasuk yang langsung ikutan hype lagu ini. Aku sepertinya terlalu takut dengan kematian orang terdekat, aku takut merasakan kembali rasanya “ditinggal”. Aku takut mendengar lagu gala bunga matahari yang banyak orang putar.
Tapi hari ini aku putuskan tonton official music videonya.
Ternyata sudah lama ya aku ditinggal? 27 tahun yang lalu, tidak banyak memori yang bisa dikenang sebab tubuhku masih terlalu kecil saat itu.
Allahumaghfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu.
Aku hari ini sudah besar ya, ternyata? Sudah menikah, sudah pula punya anak lucu, hidup mendewasa tanpamu.
Semoga bisa aku bisa jadi anak yang baik untukmu, abah. Salam rindu, sampai bertemu.
Ardina. Bandung, 11 Agustus 2024, yang hari ini basah lagi bola matanya sebab mengingatmu.