Apakah makna sebuah pernikahan bagi seorang perempuan?
Suatu waktu dalam pertemuan dua keluarga besar, menentukan tanggal dan bulan pernikahan. Keluarga pihak lelaki menginginkan agar pernikahan di laksanakan sebelum bulan ramadhan, yang mana berjarak 5-6 bulan dari pertemuan ini . Sedang pihak perempuan, yang kasarnya adalah sang penyelenggara acara merasa sangat keberatan, karena mencari gedung di kota besar amat sangat tak mudah, apalagi jika mendadak. Sang ibu lelaki sangaf bersikeras untuk segera di lakukan sebelum ramadhan, alasan nya adalah agar ada yang bangunin sahur si lelaki.
Sontak aku menyahut "memangnya si perempuan itu alarm" terhadap lawan bicara ku.
Apakah makna sebuah pernikahan? Terhadap lelaki yang kebanyakan bahkan tak mampu mengurus hidup nya sendiri. Pekerjaan rumah, belanja, mengurus laki laki, mulai dari ranjang hingga makanan, belum lagi mengurus diri sendiri.
Bukan kah seringkali kita dengar di masyarakat bagaimana perempuan menindas sesama perempuan?
" pantas aja suami nya selingkuh, istri nya gak bisa jaga penampilan" " itulah kan, istri nya sibuk sekali bekerja, gak di perhatiin suami nya. Akhirnya suami nya cari yang bisa kasi perhatian"
" jangan lupa suami nya di suruh minum vitamin mba, " di pakein hand body biar kulit nya ga kering," paksa aja suruh potong rambut", dan tuntutan tuntutan lain nya sebagai perempuan, sebagai istri.
Menikah ternyata menambah pekerjaan perempuan untuk mengurus anak yang sejak kecil di layani oleh ibu nya. Menikah seperti nya hanyalah estafet dari ibu ke menantu perempuan untuk mengurus anak laki laki nya.
Barangkali hal ini tak sepenuhnya salah laki2, lingkungan dan keadaan selama ini membuat sistem ini akan terus menjadi siklus yang tak kan pernah usai. Sedari kecil, anak perempuan di tuntut untuk melakukan pekerjaan rumah, sedangkan anak lelaki tak sekali pun di tuntut untuk mencuci piring atau mencuci baju nya sendiri. Hingga ketika ia dewasa, yang ia tau hanyalah bagaimana mencari uang sebagai imbalan di urus oleh istri nya.
Begitulah kira kira pehamanku teman, ketika pada akhirnya aku dan risky menjalani rumah tangga dalam satu atap setelah sebelum nya kami long distance marriage. ( meskipun cerita awal di atas paragraf bukan lah kisah ku ).
Dengan sifat ku yang keras kepala ini, bukan sekali dua kali aku marah akan hal rumah tangga pada rizky. Tau apa yang sangat membuat aku benciiiii sekali ??? Adalah jika masak, minyak nya meletup meletup, 😢😢😢😢di tambah dengan minyak yang cepat sekali berbusa ( ini karena minyak bimoli, jadi ku sarankan jika kalian ga ingin minyak berbusa pakai yg lain aja). Aku kesal sekali jika di saat aku ngerjain pekerjaan rumah, risky asik belajar, atau main game. Aku kan juga mau belajar (hahaha).
Aku mencari cari apa makna pernikahan sesungguhnya untuk perempuan, untuk diriku? Aku benci sekali dengan jawaban "kan surga nya istri ada pada ridho suami" , sungguh benar benar tak suka. Surga itu bisa kita capai dari mana saja teman, sedekah, bakti pada orang tua, ilmu yg bermanfaat, dan lagipula surga dan neraka adalah hak periogratif Allah SWT. Berhentilah untuk berada pada "lelaki sentral", menggantungkan kebahagian pada lelaki, seolah olah kebahagiaan perempuan hanyalah bersumber dari lelaki, (jabatan suami, uang suami, prestasi suami) hanya pada lelaki kita meletakan kebahagiaan.
Okei. Akhirnya aku menanyakan hal ini pada suami ku, ku utarakan semua apa yang ada di kepala ku, pehaman ku. Suami ku? Hanya diamm. Diam diam mencerna ucapan ku.
Satu hal yang aku syukuri adalah, rizky adalah orang yang sangat sabar menghadapi aku, tak pernah ia berbalik marah atau bermuram durja, mau mendengarkan keluh kesah dan yang paling utama adalah memahami maksud pemikiran ku.
Hingga ketika beban itu terbagi, ketika kami sama sama ingin melayani, tak hanya ingin di layani semata, di sanalah aku mulai belajar untuk sekali lagi melonggarkan ego. Tak perlu merasa gagal menjadi perempuan hanya karena tak bisa masak, tak perlu juga merasa bahwa pekerjaan rumah harus kita lakukan semua agar di anggap berbakti atau mencari ridho suami. Tak perlu pula merasa malu jika lelaki menjemur pakaian atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, alih2 berdalih bahwa lelaki harus nya mencari uang hingga pantas untuk di layani. Entah itu istri atau pun lelaki, entah itu siapa yang mencari uang, kedua nya sama sama pantas untuk di layani. .
Hingga saat ini aku pun belun seutuh nya mendapatkan jawaban apa makna pernikahan sesungguhnya, selain bahwa pernikahan menyelamatkan mu dari rasa sepi dan malam malam panjang tanpa pelukan.
Namun seiring aku mulai bisa melangkah dari masa transisi ini semakin jarang pula mencari apa makna pernikahan itu sendiri.