Taman Langit (Hope and Remorse #4)
Tulisan ini adalah kelanjutan dari seri "Hope and Remorse" yang saya tulis di tumblr. Seri tersebut telah meliputi masa-masa pra-ITB, periode sarjana ITB, dan pasca-ITB.
Bagian ketiga saya tulis dalam keadaan kalut di masa transisi dari seorang fresh graduate dari pendidikan magister saya di Chalmers, menjadi seorang profesional muda yang tengah menyongsong babak baru kehidupan manusia dewasa (baca: berkeluarga). Bagian keempat ini saya tulis di tengah rasa jenuh dengan dinamika sosio-politik dalam dan luar negeri.
Palestina
Entitas ini jadi tema utama suara politis saya di sosial media. Terutama sejak insiden aksi Hamas pada Oktober 2023. Ada banyak hal yang bisa ditulis mengenai konflik berkepanjangan ini. Untuk saya pribadi, tiga hal berikut adalah esensial: empati, keadilan, dan keberanian.
Empati. Pertama-tama, tidak perlu menjadi Muslim untuk berempati pada nasib rakyat Palestina yang ditindas puluhan tahun oleh rezim pendudukan Zionis. Terlebih lagi bagi Muslim, fakta bahwa mayoritas rakyat Palestina adalah saudara seiman menjadikan urgensi untuk bersuara memberikan dukungan semakin nyata. Namun apadaya, kenyataannya tidak semulus itu.
Pun untuk saya pribadi, saya perlu waktu kurang lebih satu bulan untuk memberanikan diri bersuara secara vokal dan konsisten akan penindasan yang nyata di tanah Al Quds. Momen yang membuat saya tercekat adalah ketika saya melihat video seorang anak yang histeris karena ditinggal syahid oleh ayahnya đ Oh betapa. Betapa saya teringat rasa pilu saat dikabari bahwa ayah saya "pingsan" dan dibawa ke rumah sakit.
Seumur hidupnya, ayah saya bukanlah orang yang pernah pingsan. Sontak ketika peristiwa itu terjadi saya tahu ada yang tidak beres dengan kondisi beliau. Benar saja. Pingsan tersebut adalah yang pertama dan yang terakhir bagi almarhum. Serangan jantung.
Adapula momen menyakitkan ketika saya melihat video anak-anak tak berdosa tertimpa puing-puing bangunan yang runtuh dihajar roket Zionis. Tak kuat rasanya melihat video tubuh anak kecil, mungkin seusia Kayden, yang lemas tanpa kepala. Ya Allah, sudah jadi apa dunia ini đąđąđą
Mana bisa saya berdiam diri melihat kejahatan luar biasa yang tersaji secara nyata. Hati saya terkoyak dan menolak menerima keadaan ini tanpa berbuat sesuatu. Sontak, saya senantiasa membawa perasaan koyak tersebut tiap kali saya menghadapi rasa ragu untuk bersuara.
Keadilan. Faktor kedua lebih menitikberatkan kekecewaan saya terhadap otoritas-otoritas internasional yang seharusnya menghentikan kejahatan yang dilakukan kaum Zionis kepada rakyat Palestina. Apalah itu semboyan hak asasi manusia dan kesetaraan ketika nyawa orang kulit putih dianggap lebih penting dari nyawa anak-anak Palestina yang tidak bersalah.
Apa karena Palestina bukan bagian dari peradaban Barat? Apa karena mayoritas rakyat Palestina beragama Islam? Atau karena pemimpin-pemimpin Barat telah kehilangan hati nurani dan hanya mementingkan pencapaian politis dan elektoral dari para penyokong dana, yang notabene adalah kaum pro Zionis?
Hal ini mengingatkan saya akan situasi menyakitkan di mana kondisi ekonomi menjadi hambatan saya untuk menempuh jalan ideal yang dulu saya bayangkan. Akan tetapi, saya juga menjadi semakin sadar kalau barometer kewarasan seseorang tidak patut hanya diukur dari tingkat ekonominya saja.
Moralitas, relijiusitas, dan adab menjadi sesuatu yang penting dan tidak dapat diukur dengan dimensi material semata. Semangat untuk sukses secara materi harusnya dibarengi dengan ketahanan untuk tidak melepaskan tanggung jawab moril.
Keberanian. Salah satu hambatan utama dalam tetap bersuara secara konsisten untuk Palestina adalah ancaman pembungkaman dari pihak-pihak pro-Zionis. Untungnya saya sudah tidak bekerja di perusahaan multinasional asal Jerman lagi ketika genosida Zionis atas Gaza menjadi-jadi.
Saya tahu betul betapa semua orang Eropa di tempat saya bekerja mengemukakan opininya terhadap invasi Rusia atas Ukraina. Batas-batas nilai dan prinsip untuk menjadi perusahaan yang apolitikal dilewati begitu saja dengan dalih nilai kemanusiaan dan moral Eropa yang universal.
Dari pengalaman tersebut, saya tahu bahwa saya punya argumen kuat untuk tetap menyuarakan pendapat politik saya secara bebas dan bertanggungjawab. Saya mulai dapat merangkai pertanyaan kompleks yang merujuk pada ketidakadilan Zionis atas Palestina, tanpa menyebutkan entitas manapun secara eksplisit.
Orang-orang di kantor mungkin sudah sadar dengan political stance saya tentang topik ini. Mungkin saya sudah dikategorikan sebagai manusia radikal karena komentar-komentar keras saya pada kekejian Zionis yang menjijikan. Akan tetapi, selama saya tidak diberhentikan secara formal oleh perusahaan, saya tidak akan berhenti.
Zionism must fall!
Rumah Tangga
Menjalani bahtera pernikahan yang berjalan lebih dari 6 tahun ternyata penuh suka dan duka. Ada banyak hal yang perlu diperbaiki tapi alhamdulillah saya dan istri selalu berkomitmen untuk selalu menjadi lebih baik bersama-sama.
Kehidupan setelah memiliki anak jauh berbeda dari pengalaman kami selama proses menuju pernikahan. Semua urusan dan kebutuhan anak-anak selalu diprioritaskan. Kadang saya dan istri bergumam bahwa kami tidak menikmati hasil kerja keras kami dengan layak đ Tapi alhamdulillah ketika melihat kebutuhan anak-anak kami terpenuhi, kami selalu bisa bernapas lega. We are doing our best!
Satu hal yang selalu mengusik saya sampai saat ini adalah mengenai sejauh mana saya bisa membersamai perjalanan hidup anak-anak dan istri saya.
Saya tumbuh di keluarga besar yang mayoritas perempuannya ditinggal mati suaminya, termasuk ibu saya. Wajar rasanya ketika saya berpikir bahwa waktu saya akan tiba lebih cepat daripada istri dan anak-anak saya. Pun tidak terbayangkan bagi saya bagaimana rasanya melanjutkan hidup tanpa istri dan anak-anak saya. Semua tercermin ketika saya melakukan perjalanan dinas berhari-hari. Malam-malam terasa kosong tanpa melewati rutinitas yang sibuk mempersiapkan anak-anak untuk tidur đ„°đ„°đ„°
Di bagian tulisan keempat ini, kondisi saya tidak semengenaskan saat saya menulis tiga bagian terdahulu. Rasanya tidak adil apabila saya tidak memperbanyak ucapan syukur dan memohon ampun atas situasi yang saya hadapi sekarang. Periode-periode paling gelap yang datang dari urusan personal (istri keguguran) dan profesional (reorganisasi) ternyata tidak semenakutkan itu.
Tentu saja, kondisi saya jauh lebih baik daripada Ayah saya yang harus kehilangan pekerjaan saat saya tingkat satu kuliah. Tidak menutup kemungkinan situasi ekonomi keluarga saya mengalami penurunan di masa depan. Tapi insya Allah, semua akan saya hadapi dengan tegar dan dengan penuh keimanan bahwa Allah Maha Tahu atas segala urusan bagi hamba-Nya.
Semua takkan berubah, semua takkan berubah.
Ini taman mimpiku. Ini taman langitku (lauh mahfudz).













