Perihal Berpura-pura
(1)
Kamu berdiam diri, dalam ruangan ternyaman yang membuatmu merasa aman. Mungkin dalam kegelapan, atau juga bisa dalam keheningan yang mendalam, bisa jadi keduanya, kebanyakan mungkin kamu lakukan saat malam sedang datang dan menjadi teman. Sebuah perenungan yang tak jarang berujung kesedihan, tangisan yang coba kamu lakukan dengan diam-diam. Diantaranya ada banyak ketakutanmu akan banyaknya rintangan yang sekarang sedang menghadang, boleh jadi sebab kamu merasa kuwalahan.
Coba tarik nafasmu sebentar ya. Ulangi berkali kali, sampai isak tangis yang memenuhi hati sedikit lebih lega sebelum dini hari.
Pejamkan matamu, mungkin memang sudah gelap dikamarmu, setidaknya agar indramu mulai bisa beristirahat karena besok lagi lagi ada hari yang harus kamu lalui dengan senyumanmu. Kamu sudah bertahan, sekarang istirahat dulu ya.
Semua tidak sedang baik baik saja. Semua tidak sedang baik baik saja. Semua tidak sedang baik baik saja.
Ucapkan pada dirimu, bukan berarti untuk menjatuhkanmu, agar jiwa dan ragamu mengerti dan tidak sedang mencoba menolak permasalahan yang sedang terjadi.
Sebab kadang banyak manusia-manusia yang terlihat kuat tapi dihantui rapuh yang teramat yang mencoba menolak dan tidak pernah berhenti berpura pura hebat. Ayo sejenak beristirahat.
(2)
Siangmu adalah panggung sandiwara terhebat yang mungkin bahkan bisa lembur dan diperpanjang sampai larut malam yang teramat. Jadi tolong saat ini, lepaskan segala peranmu, lupakan dialogmu, dan jangan jadi dirimu yang kamu tawarkan pada mereka yang menjadi penonton dalam sandiwaramu. Kamu ialah pemeran terhebat, tapi tetap kamu juga butuh istirahat.
Boleh jadi dalam peran yang kamu jalani sehari-hari mereka menanggapmu begitu kuat, terus membagikan senyum, bahkan menghangatkan sebuah temu dengan tawa yang kamu umbar dimana-mana.
Jujur, aku bangga. Tapi tidak seharusnya segala kebaikan dan tawamu menjadi beban untuk selalu berperan seperti itu. Ada saatnya kamu perlu menjadi dirimu yang mungkin terlihat lelah ataupun lemah. Sederhana saja, hidupmu tidak melulu tentang sebuah panggung dimana ceritanya akan selalu baik baik saja.
Jadi menangislah, terisaklah sebanyak yang kamu bisa, menangis bukan berarti kamu melemah, sekedar berduka juga tak masalah. Kita semua perlu sedikit menangis untuk mengairi pipi agar nanti senyum yang kamu bawa disetiap pagi dapat tumbuh jadi lebih baik lagi.
Menangislah malam ini, mau sendiri ataupun ditemani. Setidaknya. Mengertilah bahwa kamu sedang ingin membunuh segala masalah yang seakan tak pernah berhenti.
Jangan menyerah yah, episode hidupmu masih panjang, Tuhan hanya sedang menuliskan intrik baru agar didalamnya cerita tentangmu jika nanti dijadikan buku tidak bosan sehingga menarik.
(3)
Mungkin pernah kamu melihat pergelangan tangan mu yang mulus itu, ingin sedikit kamu coba mengukirnya, tegak lurus dengan nadi yang memberimu hidup. Jangan ya, jangan pernah sekali sekali kamu mencobanya, untuk dipikirkan saja jangan pernah. Nadi yang ingin kamu putus agar tidak lagi mengalirkan darah beratus ratus itu pernah diperjuangkan sedemikian hebat oleh perempuan yang pernah menjerit begitu kencang setelah menjagamu selama 9 bulan. Ada laki-laki yang juga begitu khawatir menunggu kehadiranmu pertama kali didunia, mungkin sambil dijambak-jambak rambutnya oleh pasangannya, hanya sekedar menunggu kebahagiaan yang paling sederhana didunia. Iya kamu, kehadiranmu sudah cukup berharga, jadi tolong balas itu dengan sebuah cara yang paling mudah. Cukup bertahan, bertahan, dan bertahan, setiap harinya.
Jangan juga mencoba untuk berkelana dari lantai tertinggi lalu menerjunkan diri, atau menggantukan nyawamu disebuah tali, bahkan sekedar menghujani dirimu dengan berbagai obat untuk melarikan diri.
Menangislah sekencang kencangnya, berduka lah sehebat hebatnya, terpukulah sekuat kuatnya. Nikmati saja, jangan dilawan, atau mencoba berpura-pura dan menutupinya. Sebab emosimu ibarat sebuah bendungan yang tidak tanpa batas, kamu tidak bisa selalu menimbun, menimbun, dan menimbu segala hal dan kamu biarkan tidak tuntas.
Mengertilah, kekuatanmu ada batasnya. Kalau selau kamu anggap dirimu baik baik saja, nanti, bisa jadi segala masalah berada pada sebuah ambang batas yang bisa jadi akhirnya melepas, meluap dengan hebat. Dihancurkannya segala yang ada, bukan hanya emosimu, kehidupanmu, kemampuanmu, hingga kewarasanmu.
Maka berceritalah, kepada dunia dan seisinya, kepada malam yang pernah jadi teman curhatan yang paling menenangkan, mungkin kepada teman yang senantiasa bisa datang jikalau kamu mulai mencoba jujur tentang segala permasalahan, kepada laki-laki dan perempuan yang dulu selalu menunggumu gelisah setiap jam kepulanganmu dari sekolah, atau mungkin juga bisa kepada aku. Aku. Aku yang ada dirimu. Berbicaralah, beristirahatlah, maka kemudianlah, menjadi kuatlah.
Sebab kini setiap orang memiliki topeng yang dinamakan kepura-puraan, dimainkannya peran yang begitu mendalam sampai sampai terlena bahwa semua itu hanya sebuah kepalsuan. Duka berperan menjadi suka, tangis yang menjadi tawa, masalah yang menjadi ceria, kamu, yang menjadi orang asing yang baik-baik saja.
Jangan ya.
Boleh berjuang untuk menjadi baik-baik saja. Tapi ingat ya, siang tidak pernah berpura pura untuk selalu menjadi siang, cerah tidak pernah berpura pura untuk selalu menjadi cerah, ada malam dan hujan, yang sama sama baiknya. Pada malam kamu temukan tempat peristirahatan, pada hujan kamu temukan beribu kenangan dan sebuah dingin yang menenangkan. Masalahmu juga, pada masalah, kamu temukan arti hidup yang sesungguhnya, segala kekuatanmu dan kemampuanmu yang tak pernah kamu kira kira sebelumnya.
Sebab dari masalah, kamu temukan dirimu yang sesungguhnya, bukan yang kamu jadikan peran setiap harinya, yang tidak pernah baik baik saja, yang lemah, yang bahkan menangis terlalu lama. Tapi juga dirimu yang selalu dapat bertahan dari satu masalah ke masalah lainnya. Jadi bertahan ya, sekali lagi jangan berpura-pura.
Kamu ialah serupa petualang tangguh, dengan segala rintangan yang sudah kamu tempuh. Jadikan hidupmu sebuah perjalanan, dan ayo, sama sama kita bertahan.














