Kejadiannya sangat singkat.
Aku baru saja selesai bercengkerama dengan dua temanku di sebuah kedai kopi di sekitar Melawai, setelah delapan jam kami work from anywhere --meskipun banyak ngobrolnya.
Sebelum masuk ke dalam punchline, aku akan mulai dengan menggambarkan denah kedai tersebut.
Kedai berbentuk rumahan, cukup luas, dengan area indoor dan outdoor. Pintu keluar masuk hanya melalui satu pintu yang sama. Ruangan pertama adalah bagian indoor, baru kemudian area outdoor. Ya, area outdoor ada di belakang bangunan utama, sebagian tempatnya seperti di area teras belakang rumah.
Terdapat area parkir yang merupakan halaman depan kedai. Posisinya lumayan mepet dengan bahu jalan dengan kondisi seperti gundukan tanah yang di-paving. Area parkirnya terpusat, untuk sepeda, sepeda motor, dan mobil. Keseluruhan, mungkin hanya dapat menampung 3 mobil + 1 mobil di bahu jalan, 10 sepeda motor menghadap area indoor + kurang lebih 10 motor muat di bahu jalan. Kalau sepeda, bisa muat 20-an.
Pada saat kejadian ini terjadi, kondisi kedai tidak begitu ramai. --ramai, tapi bukan yang ramai penuh hingga waiting list. Untuk area parkir, terisi 2/3 mobil, aku lupa. Hanya ada satu sepeda yang digantung, dan 6 motor yang berjajar menghadap area indoor.
"Gue jalan nih dari rumah" --sekitar senayan. "Lagi pengen jalan aja"
"Lah tadi gue pikir sepeda digantung punya lo, taunya bukan"
"Biasa bos, menikmati trasportasi ibukota, aku pake MRT. Ntar turun Setiabudi, lanjut kuningan, ngojol aje."
"Yoi, buru-buru kan tadi, males juga tadi mau pake MRT gak kekejar waktunya."
.....teriak sambil jalan menuju MRT Blok M
"Kamu kapan lari lagi? Aku ikut ya, ntar tulung colek colek ae dari wasap."
Aku menuju ke lokasi di mana sepeda motorku kutaruh. Sambil menyalakan mesin, kukenakan helm butut hitam ini. Selama nunggu mesin pemanasan, mataku celingukan, "Di mane nih parkirnya, ..., kayanya kaga ada."
Tanpa kusadari, sebenarnya di bahu jalan memang ada bapak-bapak duduk di kursi kondangan.
Gumamku, "Ah kayanya bukan sih ini, orang lagi manasin mesin bapaknya kaga gerak. Kayanya juga sebelumnya pas pernah ke sini, ngga ada parkir."
Sambil menaiki sepeda motor, aku mundur, menuruni gundukan paving, sampai di bahu jalan.
Aku merasa seperti dipanggil, tapi kutengok kanan kiri nggak ada. Tadinya kusempat berpikir, jangan-jangan dari barista di dalam. Setelah coba kusadari, suaranya dari belakang.
Detik itu, aku sudah firasat bahwa INI SI BAPAK akan MINTA DUIT PARKIR.
Motorku kugas pelan, si bapak tetap jalan, mempercepat langkahnya, sambil tetap menyiratkan, "Bayar dulu parkirnya!"
Aku menoleh ke arah si bapak, akhirnya kulihat dengan jelas, sambil menengadahkan tangan, si bapak bilang, "Parkirnya, mas!"
Sebenarnya dalam benakku, sudah kuniati bahwa aku tidak akan bayar parkirnya. Dan ini adalah kali keduaku melawan parkir liar, hahaha.
"Bukannya ini lahan dari kedainya ya? Kan jadi satu mepet banget ini ke kedainya." --jawabku kepada si bapak sambil menghadapnya.
"Lagian bapak juga ..." Belum sempat kulanjutkan bicaraku, si bapak menjawab, "Iya dong mas. Kan saya disitu tadi!" Si bapak sambil menunjuk di mana ia duduk.
"Jadi saya harus bayar nih?" Jawabku mengulur waktu, entah kenapa aku malah bertanya pertanyaan itu, dan sedikit ada niat untuk ngeyel untuk melihat reaksi si bapak. --sebenarnya takut digebuk juga sih hahaha.
Sambil aku merogoh ke kolong dasbor motorku, aku mencari koin-koin. "Semoga ada lah ini minimal serebu.", gumamku.
"Udah, yaudah kalo gamau bayar juga gapapa!" Dengan nada kesal, tangan si bapak mengisyaratkan mengusir, lalu si bapak balik kanan menuju ke kursinya.
"Yah gimana sih, orang udah mau dibayar." Sambil bergumam, aku senyum tipis. "BERHASIL LAGI MENGHINDARI PUNGLI!"
Betul, ini adalah kali keduaku. Kali pertama pada saat mampir ke Indomar**. Padahal sudah jelas di situ ada banner dengan tulisan, "PARKIR PELANGGAN INDOMAR** GRATIS".
Karena ini baru pertama kalinya, cukup deg-deg an sih aslinya. Takut tiba-tiba ditonjok sama jukirnya, hahaha.
"Bang parkirnya!" --sambil menengadahkan tangan.
FYI ini jukirnya ibu-ibu, yang sedari aku datang, si ibu hanya duduk di tepian sambil main HP. Sampai akhirnya sebelum minta duit parkir, bantuin mundurin motorku aja NGGAK!
Aku diam sesaat, "Jingann... gabut banget!", sambil mencari-cari tulisan di banner, takutnya aku salah baca, kalau ternyata bukan di Indomar** sini kan gak ada alibi, jadi harus bayar. Untungnya ketemu.
"Itu ada tulisannya Ibu, pelanggan tidak perlu bayar parkir ya"
"Kan di sini dari tadi saya jagain itu motornya abang."
Sambil tetap menujuk ke banner, "Ibu, itu tulisannya pelanggan tidak perlu bayar parkir, ya." Aku kekeuh.
"Yeee, yaudah, emang dasar kamu nggak laki!!" --sahut ibunya dengan nada cukup melengking.
Aku mundur, cuma sambil ketawa-ketawa, "YES, BERHASIL!"
Keberanian ini kudapatkan dari salah satu thread di X.
Sejak saat kubaca thread itu, selalu kupastikan bahwa keberadaan tanda yang menginfokan bahwa parkir di lokasi tersebut gratis untuk konsumen, selalu dapat ditemukan.
Jika ketemu, pasti kulawan.
Kecuali, kalo jukirnya preman, terus ngotot, kayanya aku takut juga.
Kalau seperti itu, sepertinya akan tetap kubayar, hahaha.