“Mbah Moen guru saya itu agak jengkel klo masjid ga ada menara” kata Gus Baha, “dulu ya saya bingung, kok harus ada menara kenapa. Ternyata supaya orang-orang tau klo disitu ada masjid. Sekarang bayangkan saja, orang-orang tau tempat maksiat karena ada tandanya, sedangkan orang ga tau klo ada masjid karena ga ada tandanya”
“Kemaksiatan diketahui karena disebarluaskan, masa kebaikan malah disembunyikan” begitu penegasan dari beliau lagi.
Gus Baha, termasuk orang yang menyembunyikan diri, tapi dari bab Ilmu, beliau tidak mau menyembunyikan hal itu. Justru bagi beliau itu adalah musibah. Bahkan sekecil ilmu yang kita punya, kita harus mengumumkan hal itu.
Kekhasan beliau adalah guyon, maka beliau menyampaikan dengan guyon, “bahkan klo cuma pernah baca Fathul Qorib sampe bab Sholat, sampaikan saja ‘saya Ahli Fathul Qorib tapi cuma sampe bab Sholat’ itu kan sama kaya orang pasang tanda sebagai bidan, dokter umum, ahli gigi”
Pointnya adalah supaya orang lain tau, tentang kebaikan yang seharusnya tidak boleh disembunyikan. Juga semangat untuk terus belajar, agar ada kebaikan yang bisa diberikan, seperti kata pepatah Arab, “tidak akan bisa memberi orang yang tidak punya”
Alhamdulillah, sekarang setidaknya, ada kenyamanan dalam hati soal bab ini, setidaknya ada ‘sanad’ melu-melu ulama untuk tidak menyembunyikan ilmu.
Gak ada salahnya ikut-ikut ulama, ikut gaya berpakaian, ikut prinsipnya, semoga jadi jalan kemuliaan, karena mengikuti orang yang mulia, daripada ikutan orang-orang yang tidak jelas