Barusan karibku Giany mengunggah fotoku dan dirinya ketika masih aktif-aktifnya berkegiatan alam (asik) di laman Instagramnya. Hal ini pas sekali dengan aku yang juga menelusuri foto-foto lama setelah tujuh tahun hanya menggunakan Facebook untuk bekerja.
Melihat foto-foto itu, sama seperti masuk ke pusara waktu yang lain. Rasanya seperti bertemu kembali dengan manusia dan momen-momen lama.
“Ah, ini yang waktu itu ya.”
Sebisa mungkin, masing-masing dari kami hadir di ujian dan wisuda yang lain. Ketika hendak berangkat KKN, yang masih bertahan di Jogjapun selalu datang mengantar hingga waktu keberangkatan tiba.
Melepas kepergian Giany ke Belanda
“Ah, ini yang waktu ada kegiatan itu ya.”
Bersama anak-anak UFO ke pertunjukan Dinosaurus. Waktu itu mengira kalau bakal ada dinosaurus beneran. Gimana sih???
Acara pembukaan pamerannya Wahy.
“Wah, ini waktu masa-masa ini nih.”
Waktu tiap hari dari pagi sampai pagi lagi ngumpul sama anak-anak Launge untuk ngerjain mata kuliah PMI dan PNI.
“Anjir, alay banget bosss. Geli, enggak kuat lihatnya lagi.”
Begitu lihat foto ini langsung WA Shelvi, nanya maksud editan foto ini tu apa ya? :((((
Dari pengalaman menelusuri kembali Facebook itu, aku menemukan bahwa diriku yang dulu super alay! Apalagi pas jaman SMA. Aku juga suka berbagi status enggak penting, yang kalau dibaca sekarang kaya pengen bilang ke diri sendiri “NGAPAIN AS??” gitu.
Di sisi lain, aku menemukan versi terbaik dalam diriku ketika kuliah. Banyak berkarya, banyak ke pameran, banyak ke pantai, banyak ke gunung, banyak nonton konser, banyak berkegiatan sosial. Dulu juga kayanya enggak banya mikir kalau mau melakukan apa-apa. Ke pantai naik motor ya ayo, ke gunung pakai sandal jepit ya enggak masalah. Bebas!
Banting tulang agar jadi pameran.
Camping di pantai adalah hal biasa.
Menjadikan artis sebagai background foto bersama.
Setelah malamnya nonton konser UNGU (UNGU??) kemudian Makan Sate Klathak dan muncul obrolan “Ke Bali yok.” Besoknya beneran ke Bali.
Sebelum ada koreo terjebak di pulau tak bertuan.
Ke Bali naik kereta ekonomi, di sana motret pakai baju adat.
Dari foto-foto itu juga jadi kepikiran sama orang-orang yang dulu sering ada tapi sekarang sama sekali enggak tahu kabarnya. Tapi tentunya sangat bersyukur dan bahagia atas orang-orang yang sampai sekarang tetap ada dan seperti keluarga.