Mengurai Fosil Emosi Siapa Tahu jadi Minyak Bumi
Hari ini emosiku menjulang tinggi dibanding hari-hari biasanya sampai sakit kepala. Pemicunya bermacam-macam. Sampai di titik pakai lotion juga kesal karena teksturnya lengket banget. Kemudian denger suara kunyahan pun 100x lebih benci dan bikin emosi dari biasanya. Aku sadar emosi ini dipicu dari berbagai hal yang berlarut-larut dan memang tidak bisa selesai satu waktu, sedangkan aku keukeuh mikirin itu semua dalam satu waktu dan belapis-lapis. Pertama, poin utamanya aku ingin pulang kampung karena tahun lalu sudah tidak pulang. Aturan pemerintah berubah-ubah dan tempat kerjaku pun terlalu bertele-tele mengambil keputusan. Padahal aku sudah menyanggupi segala resiko aturan kerja, ada saja entah pernyataan dari rekan yang seakan-akan aku tidak boleh mudik karena kampungku dekat sedangkan dia berlenggang leluasa mau pergi mudik lintas provinsi. Aku berkeputusan untuk ambil cuti kalaupun potong gaji terserah silahkan ambil aja gajiku yang sudah tercincang-cincang tidak berbentuk itu. Aku tidak nyaman dengan kondisi cuma --ambil hak cuti rasa bersalahnya kayak nyolong inventaris kantor-- Kedua pada akhirnya aku pesan jasa travel agar lebih aman dan nyaman. Aku akan pulang dengan kucingku berdua sudah booking di bangku depan dekat supir meski belum ada kepastian libur dari kantor. Suatu saat temanku yang punya kucing ingin pulang kampung bareng iseng ke jasa travel tentang ijin membawa peliharaan. Ternyata travel tsb tidak memperbolehkan penumpang membawa peliharaan. Hal ini, membuatku cemas dan kesal tentang sistem transportasi umum di Indonesia masih kurang ramah binatang peliharaan. Memang itu resiko kami sebagai orang yang punya peliharaan. Tidak mungkin juga menyuruh orang tua untuk datang menjemputku itu akan merepotkan sekali. Aku marah sekaligus sedih dengan situasi seperti ini hingga akhirnya aku bilang pada temanku agar kita tidak usah pulang kampung bareng karena menurutku akan merepotkan kedua belah pihak. Ketiga tentang kemarahanku yang berbelit-belit ini, seringkali aku butuh orang buat bicara tapi aku merasa mendapatkan respon yang tidak pas. Ketika aku harus bicara dan mengungkapkan lalu dapat respon tentang masalahnya sendiri padahal aku datang untuk bicara tentang masalahku maksudnya aku sedang tidak ingin ditambah dengan masalah orang lain. Atau ketika mulai bicara dan mengungkapkan respon yang kudapatkan adalah anjuran bersabar sedang berpuasa. Akhirnya kembali bertanya pada diri sendiri, apa dosa besar merasakan marah? Apa tidak boleh aku marah? Lagi-lagi terasa gak nyaman berada disituasi kayak gini. Akhirnya kuputuskan untuk melakukan aktivitas lain, bermain mobile legend contohnya. Karena kemampuanku minimalis dalam bidang ini aku seringkali merasa disalahkan. Semakin buruklah self esteem terhadap diri sendiri lalu merasa gak ada bagus-bagusnya dan salah mengalihkan aktivitas. Sampai disini, hal yang biasanya terjadi adalah menghindar dari segala bentuk dan jenis interaksi-komunikasi sama manusia dulu. Keempatnya, ketika aku ingin menghindari sejenak dari segala jenis manusia masalah baru muncul karena pekerjaanku adalah melayani manusia. Aku harus mengajar dengan materi yang sama selama 4 bulan terakhir. Dan usaha 4 bulan terakhir ini terasa sia-sia karena muridku gak kunjung paham sama materi yang aku kasih selama ini. Pada akhirnya aku sulit mengontrol emosi yang meledak-ledak ini. Aku marah-marah di kelas, dan sakit kepala dan ingin menangis dan merasa putus asa dan merasa ingin mengurung diri karena jadi gak ngerti akar masalahnya dimana sekaligus sangat merasa sendirian. Katanya pergilah ke Tuhan tapi kau butuh bicara butuh ngobrol. Gak mungkin Allah tiba-tiba ngomong dari langit. Aku sama Tuhan hubungannya berdoa, semoga dimudahkan tapi hal itu gak serta merta membuatku langsung tenang. Awalnya aku merasa buruk untuk terus sendirian sehingga memutuskan untuk cari teman bicara namun setelah bicara aku malah memutuskan untuk sendirian saja sampai sakit kepala. Mungkin untuk sebagian orang, masalah yang aku tuliskan tidak seberapa dan dianggap enteng tapi ini nyata sangat mengganggu
kelangsungan hidup. Aku masih belum pandai memanage emosi tapi setidaknya aku sudah mengakui kalau aku gak apa-apa untuk marah.













