Ibu…

if i look back, i am lost

Kiana Khansmith
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

⁂
Keni
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

izzy's playlists!

#extradirty
styofa doing anything
NASA
RMH
Claire Keane
Sade Olutola

Kaledo Art
No title available
Xuebing Du

ellievsbear
we're not kids anymore.
i don't do bad sauce passes

Origami Around
seen from United States

seen from Venezuela
seen from Bangladesh
seen from Türkiye
seen from Spain
seen from Venezuela

seen from Singapore
seen from Venezuela

seen from Brazil

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from India
seen from Türkiye
@azdinawawi
Ibu…
Imam Ahmad rahimahullah,
"Maafkanlah saudaramu, apa untungnya bagimu jika Allah menyiksa saudaramu sesama muslim tersebab dirimu?"
— Siyar A'lam an-Nubala', (11/262).
Terhalangnya Rezeki karena Maksiat
Nabi ﷺ bersabda:
إن العبد ليحرم الرزق بذنب يصيبه
Sesungguhnya seorang hamba pasti terhalang rezekinya karena dosa yang menimpanya.
HR. Ibnu Majah
Rezeki ada 2:
1. Sesuatu yang hissi (sensual) seperti: harta, kedudukan, dll.
2. Sesuatu yang maknawi seperti: hidayah, ibadah, dll
Yang paling bernilai adalah rezeki yang maknawi, dan Allah akan cabut rezeki ini disebabkan maksiat, maka jikalau kita sudah malas2an beribadah, malas datang ke majelis ilmu, dll, semua itu karena kita banyak melakukan maksiat. Allahul mustaan.
Seseorang berkata kepada Abu Sulaiman Ad darani: semalam aku tidak shalat witir dan tidak pula shalat sunnah fajar, beliau menjawab: itu karena ulah perbuatanmu (maksiat).
Semoga Allah mengampuni semua kelalaian kita.
Orang baik yang diuji di dunia, dan sukses melewati ujian itu, sehingga Allah akan beri ia kenikmatan di akhirat semaksimal mungkin dan terhapus dosa-dosanya semaksimal mungkin.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
يُبتلَى الرَّجلُ علَى حسَبِ دينِهِ ، فإن كانَ في دينِهِ صلبًا اشتدَّ بلاؤُهُ ، وإن كانَ في دينِهِ رقَّةٌ ابتليَ علَى قدرِ دينِهِ ، فما يبرحُ البلاءُ بالعبدِ حتَّى يترُكَهُ يمشي علَى الأرضِ وما علَيهِ خطيئةٌ
“Seseorang diberi cobaan tergantung pada keadaan agamanya. Jika teguh agamanya, maka cobaannya semakin berat. Jika goyah agamanya, maka cobaannya sesuai dengan kadar agamanya. Maka cobaan terus menimpa hamba (yang shalih) sampai ia berjalan di muka bumi tanpa memiliki dosa lagi” (HR. Tirmidzi no.2398 , ia berkata: “hasan shahih”).
Adapun orang buruk yang Allah beri nikmat dan kemudahan-kemudahan, bisa jadi itu merupakan istidraj (penundaan hukuman), karena bisa jadi ia semakin sesat, semakin takabur, engga bertaubat dan semakin buruk, sehingga kelak di akhirat Allah hukum dia semaksimal mungkin wal’iyadzubillah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Allah segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menginginkan keburukan pada seorang hamba, Allah menahan hukuman atas dosa-dosanya, sehingga kelak ia akan membayarnya hasil perbuatannya di hari kiamat” (HR. Tirmidzi no. 2396, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).
Maka bersabarlah ketika dapat cobaan, dan senantiasa bersyukur dan introspeksi diri ketika mendapat kenikmatan.
Semoga Allah memberi taufik.
Sumber: kangaswad.id
Sebuah pepatah Arab yang masyhur:
الصحة تاج على رؤوس الأصحاء لايراها إلا المرضى
Kesehatan adalah mahkota di atas orang-orang sehat, ia tidak dapat dilihat kecuali oleh orang-orang sakit.
Dan nikmat sehat sering abai disyukuri kebanyakan manusia. Mumpung masih sehat, perbanyak amal ketaatan.
Tidak perlu mencari-cari hari baik tuk nikah dengan cara-cara perdukunan. Ini persis seperti orang-orang Jahiliyah dahulu ketika ingin pergi safar atau ingin mengadakan hajatan pesta nikah, mereka terlebih dahulu mengundi nasib dengan anak panah. Musyawaralah kapan akad nikah, istikharalah, dan tawakkal.
Apa sih hari baik dan hari buruk yang sesungguhnya?
Sahabat Abu Darda' radhiyallahu 'anhu berkata,
إذا أصبح الرجل اجتمع هواه وعمله؛ فإن كان عمله تبعاً لهواه فيومه يوم سوء، وإن كان هواه تبعاً لعمله فيومه يوم الصالح.
"Jika seseorang berada pada waktu pagi, hawa nafsu dan amalannya akan berkumpul; apabila amalannya mengikuti hawa nafsunya, harinya adalah hari yang buruk. Akan tetapi, jika hawa nafsunya mengikuti amalan (baiknya), harinya adalah hari yang baik."
— Shifatus shafwah, hal. 177
Perbedaan antara zuhud dan wara' adalah sebagai berikut:
1. Zuhud: Zuhud adalah sikap hati yang tidak berlebihan dalam hal-hal yang mubah (halal) dan tidak terikat pada dunia. Seorang yang zuhud tidak mengutamakan urusan duniawi, meskipun hal itu diperbolehkan. Ia lebih memilih kesederhanaan dan berfokus pada urusan akhirat, walaupun ia memiliki kemampuan atau harta dunia. Zuhud lebih mengarah pada sikap meninggalkan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia dan segala sesuatu yang bersifat sementara.
2. Wara': Wara' adalah sikap berhati-hati dalam menjauhi perkara-perkara yang syubhat (meragukan) atau bahkan hal-hal yang bisa membawa kepada yang haram. Seseorang yang memiliki sifat wara' akan menghindari hal-hal yang tidak jelas kehalalannya, meskipun secara lahiriah tampak mubah. Sikap wara' lebih menekankan pada kehati-hatian dalam menjalankan syariat agar terhindar dari dosa atau perbuatan yang dilarang.
Singkatnya, zuhud lebih terkait dengan sikap meninggalkan ketergantungan pada hal-hal duniawi yang halal, sedangkan wara' lebih berfokus pada kehati-hatian dalam menghindari yang syubhat dan mendekati yang haram.
— Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra, MA
“Ketika engkau meninggal, Orang-orang mungkin akan bersedih di hari itu. Ada yang memberitakan kabar dukamu, Adapula yang menyebut-nyebut kebaikanmu. Mungkin keluargamu, kawanmu, Atau siapa saja yang merasa kenal denganmu. Mereka merasa sangat kehilangan dirimu, Seringnya hanya sesaat, di hari itu. Tak sedikit yang merasa biasa-biasa saja, sekadar berbela sungkawa, “Inna lillahi wa Inna ilaihi rojiun, turut berduka cita…”, komentar mereka di saat itu. Hari-hari berikutnya mereka pun mulai melupakanmu, Meneruskan kehidupan, kali ini tanpa dirimu. Dunia terus berjalan, tak pernah berhenti berputar dengan kepergianmu. Dan tersisalah engkau, Sendirian, Di alam pertama akhirat, Mempertanggung jawabkan amal-amalmu…”
— Ustadz Boris Tanesia hafidzahullah
Ibu…
Nilai kita di hadapan Allah bukan apa yang keluar dari lisan manusia, tetapi kenyataan dari laku lampah kita. Ketika mereka mencela, bisa jadi kita lebih buruk dari celaan mereka, lalu mengapa harus mubadzirkan waktu untuk memikirkan celaan manusia? Ketika mereka memuji, bisa jadi pujiannya berlebihan, kita tak sebaik itu. Lalu untuk apa kita terbuai dengan kepalsuan? Sudahlah, habiskan waktumu untuk perbaiki diri, jangan lagi meluangkan waktu untuk memikirkan penilaian manusia. Wallahul Muwaffiq
Tidak ada kata menyesal, qadarullah wa maa syaa-a fa’al…
Tiga Patokan Akhlak Sebenarnya Seseorang
Terkadang kita melihat sekilas akhlak seseorang luar biasa sekali baiknya. Teman-temannya menilai akhlak dan muamalahnya baik. Ternyata itu belum tentu mencerminkan akhlak aslinya atau akhlak sebenarnya. Contohnya:
- Ramah, sering membantu dan terkadang mentraktir temannya, tetapi ternyata dengan istrinya ia dzalim, tidak memenuhi hak istri, sering bentak, tidak ramah di keluarga dan ada salah sedikit langsung marah dan emosi
- Ada juga yang baik, ramah, sebagai atasan ia baik dan memudahkan urusan bawahannya akan tetapi ternyata masalah muamalah harta ia khianat, bisnis sering menipu, harta umat dan orang ia korupsi dan sering menumpuk hutang
Wal’iyadzu billah
Tetapi ingat! Kita harus menilai seseorang secara dzahirnya, tidak boleh berburuk sangka
“Jangan-jangan sama istrinya dzalim” dan sebagainya
Syariat mengajarkan tiga patokan akhlak sebenarnya seseorang.
Ini digunakan untuk menilai akhlak seseorang dan sekaligus poin yang harus kita perhatikan bersama untuk muhasabah akhlak kita. Hendaknya kita punya waktu-waktu khusus untuk terus memperbaiki akhlak dengan cara berusaha mengevaluasinya secara rutin dan berkala.
Jangan kita mengaku beriman jika akhlak kita rusak dan tidak baik, karena akhlak adalah cermin keimanan seseorang sebagaimana dalam hadits.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا “Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka.” (HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)
Tiga poin tersebut adalah:
1.Muamalah dengan Istrinya/ Bagaimana testimoni Istrinya
Karena yang paling baik baik akhlaknya adalah paling baik dengan Istrinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
“Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya” (HR. At-Thirmidzi no 1162, Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)
Karenanya testimoni Istri-Istri Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat baik yaitu akhlak beliau adalah Al-Quran
Bisa jadi ia baik dengan orang luar karena memang statusnya rendah di masyarakat misalnya (maaf) hanya jadi cleaning servise. Tentu akhlaknya akan baik (tidak berani macam-macam dan tidak “berulah”)
Tetapi dengan istrinya ia kasar, dzalim dan tidak menunaikan hak-hak Istri
Poinnya: akhlak seseorang bisa dilihat ketika kapan Ia berkuasa dan leluasa atau bisa saja berbuat dzalim tetapi ia mampu menahannya.
2.Muamalah ketika safar
Karena safar dahulu adalah saat-saat sulit dan sebagian dari adzab. Ketika senang semua bisa jadi teman tetapi ketika susah belum tentu semua bisa jadi teman yang baik.
Inilah yang dijadikan patokan oleh Umar bin Khattab ketika ada orang yang merekomendasikan kebaikan seseorang.
Umar bin Khattab berkata:
فَرَفِيقُكَ فِي السَّفَرِ الَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَكَارِمِ الأَخْلاقِ
“Apakah dia pernah menemanimu dalam safar, yang safar merupakan indikasi mulianya akhlak seseorang?” (Ibnu Hajar berkata, Dishahihkan oleh bin Sakan, ini dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil 8/260 no 2637)
Poinnya: ketika masa-masa sulit kemudia anda punya teman, itulah teman sejati anda dan itulah akhlaknya yang sebenarnya.
3.Muamalahnya dengan urusan harta
Karena harta adalah salah satu fitnah/ujian terbesar umat Islam.
Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta” (HR. Bukhari)
Bisa jadi gelap mata karena harta. Karena warisan anak dan paman bisa saling bermusuhan bahkan saling bunuh. Bisa jadi tidak amanah ketika bisnis dan berdagang. Akhlak baik dan sering membantu ternyata korupsi harta umat.
Ini juga yang dijadikan patokan Umar bin Khattab ketika ada orang yang merekomendasikan kebaikan seseorang.
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:
فَعَامِلُكَ بِالدِّرْهَمِ وَالدِّينَارِ ، اللَّذَيْنِ يُسْتَدَلُّ بِهِمَا عَلَى الْوَرَعِ
“Apakah dia pernah bermuamalah denganmu berkaitan dengan dirham dan dinar, yang keduanya merupakan indikasi sikap wara’ seseorang?”
Semoga Allah selalu memperbaiki akhlak kita karena yang paling banyak memasukkan ke dalam surga adalah akhlak yang baik.
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Demikian semoga bermanfaat
Penyusun: Ustadz dr. Raehanul Bahraen hafidzahullah
Artikel www.muslimafiyah.com
“Melatih diri untuk menutup rapat persoalan hidup kita. Orang lain cukup tau warna cat dinding. Karena sabar itu tidak mengekspos keluh kesah.”
Tak perlu menunggu perih, kembalilah…