Tokyo Story (1953)
Director: Yasujiro Ozu
Cinematographer: Yūharu Atsuta
@la-cineaste
Lint Roller? I Barely Know Her
occasionally subtle
No title available

Love Begins

❣ Chile in a Photography ❣
Cosmic Funnies

roma★
I'd rather be in outer space 🛸

Andulka

Kiana Khansmith
Stranger Things
No title available
Sade Olutola
trying on a metaphor
RMH

JVL

gracie abrams
tumblr dot com

ellievsbear
Keni

seen from United States
seen from France

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Argentina
seen from Costa Rica

seen from Maldives
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Netherlands

seen from Japan
seen from India

seen from Poland
seen from United States
seen from Bangladesh
@aziziahprilya
Tokyo Story (1953)
Director: Yasujiro Ozu
Cinematographer: Yūharu Atsuta
@la-cineaste
The trace of you that singing silently in the sea that I've drowned without sink my self within.
Makassar, 27 Oktober 2020
Air tahu dengan botol bir, roti goreng, bakpau, kota tua, Tionghoa, dan migrasi.
Makassar, 10 September 2019
Sunday.
The series of "Manis"
Thankyou netizen, you'll always gonna have a special place in my heart.
Instagram, 8 September 2019
Moving slowly, close to life, and being home in anytime.
Makassar, September 2019
Kalau perasaan ini seringan itu, maukah kau bawa dia terbang kemana saja?
Makassar, September 2019
Membuka halaman pertama buku tidak pernah sesepi ini.
Makassar, Agustus 2019
"But that she should be delivered naturally, and not by Accident, as she was the first time;
Because the Sun and the Moon having found by mutual experience,
that the World cannot subsist without their reciprocal influences,
were reconciled upon condition
that the Sun should reign one half the day,
and the Moon the other"
-Nicolas Gervaise, Historical Description of the Kingdom of Macasar.
Makassar, 6 September 2019
Mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh Choki dan Caca, dua anak yang tidak pernah kehabisan cerita. Saya bahkan tidak bisa mengingat satupun cerita mereka.
Saya hanya ingat kalau mereka mau saya bawa pulang.
Makassar, 24 Agustus 2019
Seharusnya tidak perlu ada bentuk perlawanan seperti ini jika negara terbuka terhadap kritikan dan juga sejarahnya sendiri.
Jika masalah-masalah diselesaikan hanya dengan maaf dan penutupan jaringan internet, apa yang tersisa dari dialog antara manusia selain kebohongan dan ketimpangan?
Kemerdekaanmu ini terlalu terburu-buru untuk bisa dipercayai.
Makassar, 22 Agustus 2019
Waktu itu rencananya kita akan meeting untuk persiapan Makassar Biennale 2019 yang penuh dengan percobaan gila dan ajaib. Tapi pada akhirnya pemuda-pemuda Bulukumba itu menceritakan tentang investor asing yang mengambil pantai-pantai mereka dan membuat warga lokal menjadi “tamu” di rumahnya sendiri. “Mau melawan juga namanya bunuh diri. Mereka punya legalitas. Pemerintah dahulu yang memberikan, yang tanda tangan. Dan itu sah sudah menjadi milik mereka” Sebagai cara untuk melawan apa yang masih tersisa, mereka mengamankan tebing-tebing di atas laut. Membuatnya menjadi tempat wisata yang ramah lingkungan dan murah meriah. Mereka tidak mau cari uang, mereka hanya mau tempat itu dimiliki oleh warga lokal, bukan orang asing yang merusak lingkungan untuk mengambil keuntungan lebih. Salah satu tebing itu diberi nama “Dego Dego” yang artinya teras rumah. Teras yang kadang menjadi jeda oleh pemilik rumah untuk bersantai atau sekedar pakai sepatu sebelum pada akhirnya keluar ke jalanan untuk pergi ke manapun itu. Teras yang menjadi pemisah antara ruang publik dan ruang pribadi, antara sesuatu yang asing dan kenyamanan yang kita biasa namakan rumah. Hari itu akhirnya kami meeting di sana. Makassar, 21 Agustus 2019
Bagaimana bisa kita hidup dengan menilai orang lain berdasarkan warna kulit yang tidak bisa kita pilih, agama yang menjadi tanggung jawab pribadi, dan ras yang terlalu tidak pasti batasnya bahkan mungkin hanya imajinasi?
Negara ini tidak hanya berhasil membentuk berbagai pengabaian, tapi juga kemerdekaan yang begitu dangkal dan keruh.
Makassar, 19 Agustus 2019
Saya rasa saya sedang membesarkan seseorang di dalam diri sendiri.
Saya marah ketika dia bertingkah keterlaluan, saya berikan ruang untuk dia menyadari sesuatu setiap kali ada yang bertentangan datang kepadanya, saya dorong dia untuk melampaui ketakutan-ketakutannya, saya peluk dia ketika terjatuh dan hanya dirinya saja yang ada di sana, saya ingatkan bahwa dia tidak akan diberi sesuatu yang lewat dari batas kemampuannya.
Dan kurasa dia menjadi begitu indah.
Semoga apapun yang nanti bisa menyakitinya, tidak akan menghancurkan keindahan itu. Karena dia tetap dia.
Makassar, 16 Agustus 2019
But isn't something poetic that sometimes causes a pain, darl? No. Not really a pain. Maybe a little bit of a feeling that not fit into some words.
August, 2019.
Maborosi (Hirokazu Koreeda, 1995)