Tulisan pertama di akun baru ini ingin saya dedikasikan untuk seseorang yang pernah dan masih berkesan bagi saya.
Mas Web.
Biar ingat, saya jelasin dikit alasan saya bikin akun baru. Akun yang lama gegabah saya hapus gara-gara sakit hati diputusin mantan pacar saya tahun lalu.
Kalau tidak salah, saya pertama kali mutual di Tumblr dengan Mas Web tahun 2015.
Buat saya waktu itu, Mas Web termasuk pengguna Tumblr yang metropolitan banget. Saya waktu itu anak kabupaten.
Gaya dan cara berpikir Mas Web adalah versi diri yang saya idamkan, tapi tidak kesampaian karena banyak keterbatasan.
Lalu Mas Web mendadak tidak aktif. Saya tungguin sebulan, dua bulan. Akhirnya saya lupa kalau saya pernah menunggu Mas Web kembali. Tiba-tiba saat itu Tumblr tidak bisa diakses, akhirnya saya juga ikut angkat kaki.
Sekitar delapan atau sembilan tahun benar-benar hilang kabar.
Dua tahun lalu saya login lagi. Terkejutnya luar biasa karena sejak tiga bulan Mas Web aktif kembali. Alhamdulillah, masih rezeki berteman rupanya.
Warna tulisan Mas Web baru. Lebih grounded kalau kata Gen Zet.
Dua tahun lalu itu, Mas Web sedang berjuang keras pulih dari anxiety. Hanya membaca saja, saya sampai ikut mual rasanya. Seakut itu. Saya mengikuti prosesnya dari jauh, tapi tidak berani bertanya. Takut salah bicara.
Sampai suatu hari saya memberanikan diri mengirim pesan. Niatnya memberi semangat saja. Karena pesan saya disambut hangat, saya akhirnya beranikan diri untuk bilang kalau saya dulu sering terinspirasi oleh beliau dan saya sempat kecarian. Hehe ini cara lain saya untuk bilang kalau sebenarnya saya sangat rindu pada Mas Web.
Tiba-tiba Mas Web malah kasi nomor Whatsappnya. Wah saya jadi istimewa nih ceritanya?
Tapi ternyata, itu cara beliau memindahkan jalur komunikasi dengan saya. Karena sehari setelahnya, Mas Web hapus akun lamanya itu.
Walau saya sangat menyayangkan, Mas Web pasti punya alasan khusus melakukannya.
Alhamdulillah, dengan bertukar Whatsapp akses saya lebih dekat ke ke daily story Mas Web.
Pertama kalinya saya tahu usia aktual Mas Web, senangnya bukan main. Usia kita berbeda dua tahun, Mas Web lebih tua dari saya.
Dengan rasa lebih muda itu, saya malah jadi sering curhat. Malah kebalik, ya. Padahal kondisi Mas Web saat itu yang perlu lebih banyak didengar, malah saya yang lebih banyak didengar olehnya.
Setelah banyak ngobrol dengan Mas Web soal masa depan, saya dengan nekat, akhirnya berangkat ke Jakarta. Waktunya singkat sekali. Mungkin cuma satu bulan sejak saya ngobrol dengan Mas Web. Sebelumnya ragu-ragu karena tabungan betul-betul terbatas. Alhamdulillah Mas Web bilang biaya tempat tinggal bisa dipangkas karena saya dibolehin Mas Web menempati kamar di lantai dua ruko tokonya selama beberapa bulan sebelum dapat kerja. Dilarang sungkan, katanya.
Saya dijemput langsung oleh Mas Web di Stasiun Gambir. Terkesima lagi saya. Saya sudah bilang secara usia Mas Web lebih tua dari saya. Tapi kalau penampilan, kayaknya orang akan berpikir dia adik saya, deh.
Saya benar-benar dibantu bertahan hidup di eks ibu kota. Tinggalnya dibantu Mas Web, makan siang ditraktir terus sama Mas Alva. Itu bukan bantuan kecil buat saya.
Selama tinggal di radius Mas Web, Mas Web sering minta ditemani muter-muter kota. Saya pikir dulu itu salah satu cara beliau mengatasi kecemasannya, dan kalau dipikir-pikir, bahaya sekali melakukannya. Tapi rupanya itu rutinitas beliau sehabis reda anxietynya.
Sambil-sambil cari kerja yang sesuai, saya bantu-bantu di storenya Mas Web. Mas Web bilang saya nggak boleh nyaman kerja di dia, karena menurutnya saya potensial dapat kerja yang lebih layak.
Waktu itu Mas Web jaraaaaaaaaaang banget datang ke toko. Sempat diambil alih sama Kakaknya Mas Weba yaitu Mas Alva (yang tadi saya ceritakan). Yeh sama Mas Alva saya malah dikasih gaji 🤣🤣 padahal saya sudah numpang tidur disitu, dikasi makan siang, masih digaji juga.
Mas Web cuma muncul sesekali buat rapat tertentu sama Mas Alva dan Aa' Ucup. Aa' Ucup ini klaimnya tukang suruh, tapi di kehidupan Mas Alva dan Mas Web, si Aa' Ucup justru kucingnya. Pada tahu kehidupan kucing kan? Yang babu justru ownernya. Kadang-kadang ada juga rasa cemburu saya pada kehidupan Aa' Ucup yang diselimuti tabir itu hahahahaha.
Mas Web dan Mas Alva adalah dua kakak beradik yang hebat banget urusan bisnis menurut saya. Benarlah katanya, kalau orang Minang itu jago jualan. Padahal kalau pake nasab bapak, manusia berdua ini Arab huhu. Dua-duanya punya store yang bahkan sudah besar sekali di Marketplace.
Dan, tidak ada satupun dari kakak beradik ini yang tinggal di rumah Ibuknya. Mas Alva punya rumah sendiri. Mas Web kostnya pindah-pindah dan jauh-jauh saking nggak sukanya kamarnya dijadiin tongkrongan sama teman-temannya. (Dengar-dengar sih mau beli rumah).
Soal fase di mana anxiety-nya Mas Web dulu itu, saya bersyukur karena dipercaya menemaninya. Awalnya saya kira orang dengan diagnosis psikologis akan bawel dan melelahkan. Ternyata tidak. Paling banter, rasanya seperti duduk di sebelah patung. Saking seringnya diajak ngobrol nggak nyaut. Kayanya sibuk sekali di dalam kepala.
Justru dari situ saya belajar. Saya jadi mencari tahu soal anxiety. Pokonya setiap ngeliat gelagat Mas Web gak biasa, saya pasti auto berubah jadi alarm yang mengingatkan Mas Web untuk bernapas.
Saya saksi proses pulihnya Mas Web. Tidak sekalipun ia merepotkan keluarga. Semua disimpan sendiri, sampai terapi terakhir yang dijalani.
Mas Web adalah seorang family man kalau menurut hemat saya. Sering kencan berdua sama Mbak Maey adiknya. Kalau beliin gift buat Ibu suka tanyain pendapat saya. Banyak kebaikan-kebaikan lain yang gak bisa saya sebutkan semuanya yang saya lihat dan Mas Web kasih ke saya.
Saya gak tahu persis pola pikir Mas Web. Sering sekali dia bilang makasih ke saya, padahal saya merasa gak melakukan sesuatu yang besar buatnya.
Sejak dapat pekerjaan di bilangan Tangerang setengah tahun lalu, saya akhirnya ninggalin radius Mas Web. Baru satu kali saya bertemu lagi dengan Mas Web di September 2025 lalu. Malu sih ngomongnya, tapi saya betul-betul rindu sama Mas Web, Mas Alva, dan Aa' Ucup.
Semoga sampean selalu sehat, ya Mas. Rezekinya sudah melimpah, semoga Allah beri lebih melimpah lagi.