Migrasi Kopi
Letusan Gunung Tambora hampir 200 tahun lalu tidak serta-merta meninggalkan trauma kesedihan dan kesengsaraan. Tanah vulkanik yang dimuntahkan dari perutnya, kini menjadi alas tumbuh untuk berhektar-hektar tanaman kopi. Manisnya laba kopi menumbuhkan harapan umat manusia untuk kembali membangun peradaban di atas tanah suburnya. Komoditas kopi bagaikan manis gula yang menarik semut untuk datang mengerumuninya, perlahan-lahan kaki Tambora kembali ramai oleh mereka yang menggantungkan hidupnya dari tanaman kopi. Masyarakat kaki Tambora sepakat bahwa perkebunan kopi dianggap sebagai pemicu arus perpindahan manusia ke sana. Karyawan perkebunan kopi berasal dari berbagai daerah di sekitar Sumbawa, meliputi Lombok, Bali, Flores dan Sumba. Latar belakang yang berbeda-beda –suku bangsa dan agama, bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan untuk dapat hidup berdampingan. Saling menghormati menjadi kunci untuk menerapkan slogan bhinneka tunggal ika dalam kehidupan bermasyarakat. “Menjadi kepala desa di Oi Bura itu seperti presiden Indonesia, masyarakatnya bermacam-macam, asalnya dari mana-mana” canda Wahyudin, kepala desa Oi Bura. Pembukaan pemukiman-pemukiman baru menjadi bukti bahwa kaki Tambora cukup menarik untuk para pendatang. Arus pendatang semakin meningkat tatkala pemerintah desa membuat kebijakan untuk memberikan sejumlah lahan kepada mereka yang bersedia bermukim di desa Oi Bura. Memori tentang kengerian erupsi besar dua abad lampau sedikit demi sedikit terkikis ketika aroma seduhan kopi mulai menyergap hidung. Jamuan sederhana yang akan selalu mengingatkan kepada sebuah keramahan khas Tambora, membuat orang tak segan untuk datang ke sana.
Kopi sebagai menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk desa Oi Bura. Valentinus Maan, menunjukkan buah kopi hasil kebunnya.
Tambora, gunung berapi setinggi 2.851 mdpl yang pernah meletus hebat pada tahun 1815. Kesuburan tanah vulkanik hasil letusannya kini menjadi berkah bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Bangunan gudang sekaligus tempat pengolahan kopi milik Pemerintah Kabupaten Bima di kampung Tambora. Aktifitas di tempat ini berlangsung pada musim panen kopi, antara bulan Juli-September.
Bus antar kabupaten trayek Mataram-Calabai. Pembangunan infrastruktur berupa jalan mendukung angkutan umum dapat menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses.
Bekas pemukiman karyawan perkebunan kopi yang dahulu dijuluki “Surabaya kecil” karena dihuni oleh para pendatang. Kini, sebagian besar penduduknya memilih tinggal di perkampungan baru yang dibangun oleh pemerintah desa Oi Bura.
Bergotong-royong memindahkan rumah untuk penduduk baru. Pemerintah desa memberikan lahan cuma-cuma bagi yang bersedia tinggal di desa Oi Bura.
Permohonan pembuatan kartu keluarga meningkat seiring dengan peningkatan jumlah keluarga pendatang di desa Oi Bura.
Sebaran usia penduduk desa Oi Bura.
I Nengah Wadia, seorang pensiunan guru dari Bali yang memilih tinggal di desa Oi Bura.
Herlina, mantan karyawan perkebunan kopi yang berasal dari Sumba Timur.
Kristina Senia, seorang pendatang dari Manggarai Barat.
Umat Hindu sembahyang di Pura Gede Agung Tambora. Tersedianya fasilitas rumah ibadah untuk berbagai agama menunjang kebutuhan rohani para penduduk desa Oi Bura.
Umat Katolik melaksanakan misa di rumah penduduk kampung Timur. Sebagian besar umat Katolik di desa Oi Bura bermukim di kampung Timur.
Kampung Jembatan Besi dihuni oleh pendatang dari Bima dan Lombok yang mayoritas menganut agama Islam.
Bentuk solidaritas antar kampung. Maulidan atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad yang diadakan oleh setiap kampung –yang beragama Islam, dilaksanakan secara bergantian dengan dihadiri masyarakat dari kampung lain.
Karim dan keluarganya, salah satu pernikahan antara sesama pendatang. Karim berasal dari Bima, sedangkan istrinya dari Lombok.
Penyawik yang diletakkan di tengah persawahan sebagai pertanda awal musim tanam. Ritual pertanian yang masih dipertahankan oleh pendatang dari Lombok.
Kopi menjadi persembahan wajib bagi para leluhur umat Hindu di desa Oi Bura.
Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar menjadi solusi untuk permasalahan komunikasi antar siswa SD Negeri Tambora yang berasal dari berbagai suku bangsa.
Simbol keramahan khas masyarakat Tambora. Kopi menjadi jamuan wajib ketika bertamu ke rumah penduduk.
*sebagian foto ditampilkan dalam pameran foto “Kampoeng Tambora” pada 5-7 Juni 2014 di Fakultas Ilmu Budaya yang diselenggarakan oleh Kapalasastra Universitas Gadjah Mada.














