Hari ini, saya terbangun dengan sedikit rasa masygul. Semenjak membuka mata pertama kali, saya sadar bahwa hari ini berlanjut pula kehidupan yang harus saya jalani. Sontak pandangan saya mengedar pada dinding kamar yang banyak dihiasi oleh tempelan-tempelan motivasi yang sudah usang dan berdebu, beberapa tulisan target yang sejak lama sudah tertuliskan, kalender yang sudah mulai sepi coretan, dan sergapan sinar mentari yang menembus celah jendela. Gabungan dari dari situasi itu membuat saya merasa begitu aneh dan âtenggelamâ, lalu saya bertanya-tanya... apa target baru saya hari ini?
Ya. Suatu saat, saya pernah merasakan hidup yang bergelora karena banyaknya tekanan, tuntutan, juga motivasi dari dalam diri. Meskipun awalnya cukup menyakitkan, hidup dengan menuliskan target tertentu akan menyenangkan bila hasilnya jelas dan tercapai. Cukup mudah bagi saya untuk bernostalgia kembali dengan keberhasilan di masa lalu, tentang hal-hal yang terbiasa saya lakukan yang dulu itu bersifat begitu baru, tentang hal-hal yang telah saya lampaui, begitupun sesuatu yang saya taklukkan karena menerabas ketakutan.Â
Hingga kini, saya kembali bertanya-tanya untuk setidaknya mengulang apa yang ingin saya perbuat di masa lalu. Seketika diri ini merasa haus akan tantangan yang harus ditaklukkan, ingin kembali menuliskan tantangan sederhana yang terasa menyenangkan apabila itu dapat terlampaui.Â
âBukankah mudah saja, kenapa tidak segera tuliskan target baru?â
Ya, bisa saja dengan mudahnya saya mencari sesuatu yang lain yang belum pernah saya lakukan, setidaknya untuk masuk ke dalam list target. Hanya saya sadar satu hal, bahwa tidak semua target yang saya tuliskan itu memiliki cukup waktu untuk dapat dilaksanakan. Sembari menekuri tulisan target yang usang di dinding, saya sadar bahwa saya sedang menjalani target jangka panjang yang begitu melelahkan, yang saya tuliskan setidaknya sejak 1,5 tahun ke belakang yaitu âIngin melanjutkan S2 ke luar negeriâ, tertulis dengan spesifik menuju ke negara Belanda.Â
Dari sana, sudah sejak lama saya menguraikan bentuk-bentuk apa saja yang harus saya lakukan untuk menuju kesana, dimulai dari persiapan menguasai bahasa, teknis secara akademik, hingga berbagai bentuk informasi dari kampus di Belanda sudah sempat saya himpun. Dari ketiga pokok uraian itu saja, masih bisa diuraikan lagi lebih spesifik, bahkan bisa menuntut target setiap bulannya untuk dapat menguasai/menyelesaikan apa saja dari keseluruhan target besar yang diinginkan. Yang prosesnya paling panjang tentu saja penguasaan bahasa, terutama untuk memahami dan membiasakan menggunakan bahasa asing tetapi jarang sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Mungkin ketika awal saya menuliskan target tersebut, saya merasa senang dan tertantang. Tidak aneh kalau saya merasa begitu bersemangat untuk mulai menjalani itu semua, hingga tak terasa waktu yang akhirnya akan mulai menempa itu semua. Celakanya, seperti yang sudah-sudah, saya mulai bosan dengan aktivitas yang itu-itu saja. Dengan jujur saya merasa bahwa saya belum cukup mampu untuk bertahan menjalani target yang membutuhkan proses yang cukup panjang, setidaknya sampai sekarang.Â
Betapa banyak alasan yang sudah saya jadikan tameng untuk menghindari aktivitas yang berproses panjang itu dengan melakukan hal-hal lain yang justru tidak senada pada tujuan. Alhasil, target jangka panjang yang sudah saya tuliskan itu sempat bolong-bolong pada pelaksanaan hingga sudah hampir mandek di tengah jalan. Ya, perjalanan saya menuju target sedang diambang batas kesabaran. Inilah yang sulitnya, ketika mental saya ditempa untuk MELEWATI batas kemampuan yang bisa dikeluarkan, yang sulitnya itu jelas-jelas di pelaksanaan.Â
Adakah diantara teman-teman juga mengalami hal yang sama seperti saya?Â
Di pagi ini, saya mencatat satu hal bahwa mungkin bukan target baru yang saya butuhkan, melainkan kesanggupan untuk terus konsisten demi mencapai target lama yang sudah dituliskan. Catatan yang sudah usang itu belumlah selesai, masih butuh waktu untuk segera diwujudkan. Yang sulit adalah ketika saya merasa butuh target baru, padahal itu sebenarnya hanya distraksi yang justru tidak menyelesaikan target utama.Â
Tidak mudah memang bertahan di tengah perjalanan, bukan?Â
Positifnya, semoga kita semua tahu bahwa menjalani target akan sedikit membosankan, apalagi jika itu target jangka panjang. Butuh lebih sekedar kata sabar karena yang terbaik adalah perbuatan sabar itu sendiri. Jangan dulu memulai target baru sebelum target yang lama selesai dilaksanakan. Distraksi ada dimana-mana, karenanya fokus akan jadi hal utama. Sungguh, berada di tengah perjuangan menjalani proses di pertengahan jalan akan menjadi ladang pertaruhan, mengenai siapa diantaranya yang berbalik pulang dan siapa diantaranya yang tak kepalang berjuang.Â
Jadi, mau tidak mau, mari selesaikan dengan baik apa yang telah kita impikan dan perjuangkan sejak dulu. Semoga hari-hari yang membosankan yang telah terjalani akan menjadi selengkung senyuman puas di masa depan. Proses yang baik akan menggaransi hasil yang baik.
Selamat menuntaskan target!